Psikologi Politik : Pasca pilpres RI tanggal 9 Juli 2014 dan Pelantikan Presiden tanggal 20 Okt 2014

Oleh : Teguh Sunaryo
Disampaikan pada Agenda Kolokium STiPsi Jogja, Jumat, 20 Maret 2015

1. Pengantar :

Dari sekian kali Indonesia menyelenggarakan pilpres, baru kali ini peserta capresnya (kandidatnya) hanya dua pasang saja. Sehingga “keunikan” yang ada sungguh-sungguh bisa dirasakan bedanya. Diantara beda yang mencolok adalah : (1) perang urat syaraf di media online. Masing-masing kubu saling menjelekkan satu sama lainnya. Website yang kaitannya dengan dua pasangan capres tiba-tiba muncul begitu banyaknya. Bahkan ada sebuah tabloid yang terang-terangan menjelekkan lawan politiknya. Perbedaan lainnya adalah (2) munculnya pengamat politik yang sebelumnya tidak pernah kita jumpai, yaitu bapak Prof. DR. Hamdi Muluk yang memberikan hasil pengamatannya melalui sudut pandang cabang ilmu psikologi politik. Dari kreatifitas beliau inilah istilah “psikologi politik” menjadi lebih popular. Beliau sering menyampaikan hasil pengamatan dan komentarnya melalui media TV. (3) adanya gugatan di meja hijau MK untuk pengambilan keputusan siapakah pemenang yang sah untuk menjadi presiden terpilih.

Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan isi tulisan dari aspek psikologi politik terhadap perilaku elit politik maupun para pendukungnya dalam kancah pilpres 9 juli 2014 dan pasca pelantikan presiden terpilih pada tanggal 20 Oktober 2014.

2. Definisi :

Ilmu psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Karena jiwa itu abstrak maka didekati melalui gejala kejiwaan seseorang melalui perilakunya secara ilmiah. Menurut Sartain : “Psikologi merupakan ilmu jiwa yang ilmiah yang scientifics”. Sedangkan menurut Morgan : “Psikologi sebagai suatu ilmu jiwa yang bersifat ilmiah yang didekati dengan penelitian yang dijalankan secara terencana, sistematis, terkontrol dan data empiris” (Sumber: Prof. Dr. Bimo Walgito, “Pengantar Psikologi Umum”, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2004, hal 2).

Ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari perihal negara dan bagaimana cara meraih sebuah kekuasaan dalam suatu system pemerintahan di suatu daerah atau Negara. Menurut Rod Haque : “Politik adalah kegiatan yang menyangkut cara bagaimana kelompok-kelompok mencapai keputusan-keputusan yang bersifat kolektif dan mengikat melalui usaha untuk mendamaikan perbedaan-perbedaan diantara anggota-anggotanya”. Sedangkan menurut Andrew Heywood: “Politik adalah kegiatan usaha suatu bangsa yang bertujuan untuk membuat, mempertahankan, dan mengamandemen peraturan-peraturan umum yang mengatur kehidupannya, yang berarti tidak dapat terlepas dari gejala konflik dan kerjasama. (Sumber: Prof. Dr. Miriam Budiardjo, “Dasar-Dasar Ilmu Politik”, Penerbit Gramedia, Jakarta, Edisi Revisi, Cetakan keempat, Oktober 2010, hal 16).

“Psikologi politik adalah penggabungan dari dua displin ilmu yang masing-masing mempunyai pengertian yang berbeda”. (Sumber: http://www.academia.edu/5603392/Psikologi_Politik_FINAL). Dan juga “Psikologi politik merupakan bidang interdisiplin yang tujuan substantive dasarnya adalah menyingkap kesaling-terkaitan antara proses psikologi dan proses politik”. (Sumber: http://arti-definisi-pengertian.info/arti-psikologi-politik/) Obyek utama psikologi dan politik ada yang sama yakni tentang manusia dan organisasi, yang berbeda adalah cara pandangnya. Psikologi dengan cara pandang aspek kejiwaan sedangkan politik dari sudut pandang aspek kekuasaan. Sudut pandang psikologi politik adalah aspek “jiwa yang berkuasa” yang meliputi kesehatan jiwa yang berkuasa (perilaku penguasanya) dan kesehatan jiwa (perilaku) organisasinya.

3. Saling menghasut di media online :

Pada media online seperti dimedia social facebooke, tweeter, webblog, website dan di youtube banyak sekali kampanye bersifat negative daripada yang bersifat pujian. Ini menggambarkan bahwa ketika sang penulis menyampaikan pendapatnya tanpa diketahui identitas aslinya ia akan menggunakan dengan semaunya. Mereka merasa tidak ada yang mengawasi sehingga bebas mengaktualisasikan persepsi dan pikirannya sendiri. Kepribadian seperti ini jika dibiarkan maka akan membentuk sebuah kebiasaan yang buruk dan bisa merusak diri sendiri serta pihak lain. Dan jika dibiarkan terus terjadi, maka tanpa sadar akan menciptakan pribadi-pribadi yang tidak bertanggungjawab. Mereka merasa bahwa untuk mendapatkan kekuasaan atau untuk memenangkan persaingan boleh menggunakan segala cara. Jika mereka menang maka akan memimpin dengan cara arogan. Dan jika pelakunya adalah para pendukungnya maka mereka akan anarkis jika capresnya kalah. Interaksi social harus didorong kearah yang lebih positif bukan yang negatif sebagaimana pendapat “Interaksi social merupakan hubungan-hubungan social yang dinamis menyangkut hubungan antara orang-orang perorang, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorang dengan kelompok manusia. Mereka saling menegur, berjabat tangan, saling berbicara bahkan mugkin saling berkelahi” (Sumber: Prof. Dr. Soerjono Soekanto, “Sosiologi Suatu Pengantar”, Penerbit Rajawali Pers, Jakarta, Cetakan keempatbelas, September 1991, hal 67).

4. Berebut dekat pada pondok pesantren :

Beda di online beda pula di offline. Di online kampanye berjalan sangat tidak sopan dan mengumbar fitnah, sedangkan di dunia nyata (offline) relative lebih santun. Bahkan antar kedua kandidat tetap bisa saling memuji. Mereka rajin menemui para kiayi besar yang memiliki kantung suara yang juga besar. Ada kecenderung kedekatan para capres kepada para kiayi lebih pada aspek motivasi mendulang suara daripada menimba ilmu akhirat. Keadaan ini sebenarnya masih bisa diperbaiki walau memerlukan waktu yang lama, yakni menyadarkan para pemilih pemula sejak dini. Para capres merasa wajar mendekati para kiayi dan santrinya, karena mereka dituntut setor suara. Suara terbanyak dalam pilpres menentukan siapa pemenangnya. Indonesia adalah Negara hukum yang warga negaranya adalah mayoritas beragama Islam, suara Islam adalah suara mayoritas, maka wajar menjadi prioritas perebutan dalam mendulang suara.

5. Debat capres secara langsung di TV :

Media elektronik yang digunakan dengan relative santun adalah media televisi. Iklannya sopan dan debat capresnya juga sangat mendidik. Mereka para capres saling beradu argument dengan ketrampilannya masing-masing, dan para pemirsa bebas menentukan pilihannya. Ada yang tertarik karena ketegasannya, ada yang karena kelugasannya. Ada yang tertarik karena kecerdasannya dan ada yang tertarik kare tutur bahasanya. Semua ada plus minusnya, tetapi tidak ada kampanye hitam dalam media ini.

6. Saling merasa benar hingga ke meja hijau melalui MK :

Setelah pemilihan berjalan, dan penghitungan suara tiba, maka muncullah saling klaim siapa pemenangnya. Kaidah konstitusi tidak lagi dihiraukan. Punya hak atau tidak punya hak dalam mengumumkan siapa pemenangnya mereka saling adu klaim sendiri-sendiri. Masing-masing tim sukses mengumumkan menjadi pemenangnya melalui lembaga hitung quick count di televisi. Masing-masing pihak menggunakan jasa hitung cepat sendiri-sendiri. Membayar sendiri-sendiri. Sungguh untuk urusan ini pilpres di Indonesia telah masuk pada pasar demokrasi bebas tanpa kendali. Dampaknya saat pengumuman calon pemenangnya oleh lembaga resmi (KPU) pun diprotes dan diajukan di meja hijau. Sidang berjalan dengan menghadirkan banyak saksi dari masing-masing pihak dari sebagian besar pemilih di Indonesia. Tentu menelan biaya besar dan waktu yang lama.

7. Saling membentuk partai Koalisi :

Setelah pelantikan presiden terpilih pada tanggal 20 Oktober 2014, konflik antara pihak yang kalah dengan pihak yang menang saat pilpres, masih berkelanjutan di DPR-RI. Pihak yang menang pilpres diwakili oleh partai pengusung capres pemenangnya yaitu partai PDIP yang dipimpin oleh Megawati, Nasdem dipimpin oleh Sura Paloh, PKB dipimpin oleh Muhaimin Iskandar, Hanura di pimpin oleh Wiranto, dan PKPI dipimpin oleh Sutiyoso. Kemudian mereka pemenang pilpres menamakan diri sebagai Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Sedangkan pihak yang kalah pilpres menamakan diri sebagai Koalisi Merah Putih (KMP) yang terdiri dari partai Gerindra yang dipimpin oleh Prabowo Subiyanto sebagai ketua umum gerindra sekaligus capres yang kalah, Golkar yang dipimpin oleh Aburizal Bakri, PAN yang dipimpin oleh Hatta Rajasa yang juga sebagai cawapres yang gagal, PPP yang dipimpin oleh Surya Darma Ali, PKS yang dipimpin oleh Anis Matta. Ada satu partai yang memilih di luar koalisi yaitu Demokrat. Demokrat bisa disebut partai cerdas karena pandai mengambil peluang, kesempatan dan posisi, ketika “lawan” politiknya sedang berseteru secara seimbang, atau mencla-mencle ke sana ke sini. Namun jika Demokrat bersedia memilih secara tegas diantara dua koalisi yang ada, maka perseteruan antara KIH dan KMP akan lebih cepat selesai, lantas pertanyaannya Demokrat akan dapat apa? Dan siapa yang akan memberinya?. Berpolitik yang santun dan benar memang harus melibatkan rasa-jiwa dan logika, namun jangan sampai mengabaikan kepentingan bangsa dan Negara.

8. Analisa Psikologi :

Diawali dengan adanya demokrasi terbuka atau demokrasi yang bebas serta adanya media online yang setiap orang leluasa mengakses, kegaduhan ditingkat isu hitam (black campaign) selalu terjadi. Ketidak-nyamanan dan saling mengancam menjadi kegetiran dari aspek kejiwaan, dan aspek etika tidak lagi diindahkan. Kekuatan kedua kubu koalisi nyaris seimbang, hanya selisih 3% dari angka 50% sebagai angka yang seimbang, (KIH menang pilpres 53%, lebih 3% dari 50%, dan KMP kalah pilpres 47%, kurang 3 % dari 50%; selisih totalnya adalah 6% suara). Dalam teori manajemen konflik jika kekuatan para pihak yang berselisih seimbang, maka konflik akan semakin lama selesainya dan semakin berlaurt-larut. Dari aspek psikologis keadaan seperti itu akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi penguasa untuk bekerja dalam rangka merealisasikan janji kampanyenya. Dampaknya yang menjadi korban ikutannya adalah kesejahteraan rakyat yang terabaikan. Mereka elit politik saling menyandera dan lalai memikirkan kesejahteraan rakyatnya, mereka tetap gajian dan rakyatnya menjadi penonton pertengkaran, suatu kondisi yang sangat ironis dan miris.

9. Analisa Politik :

Azas hukum (peraturan perundangan) tidak digunakan dengan konsisten, moral para politikus masih terus perlu diperbaiki, korupsi terjadi dihampir semua partai politik. Sanksi hukum tidak membuat takut para pelanggarnya karena tidak berat akibatnya, UU parpol dan UU hukum saling bertabrakan dan multitafsir, menjadi sumber ketidakjelasan dalam penyelesaian permasalahan. Atau karena manusia memang tidak pernah bisa membuat sesuatu yang abadi sebagaimana tidak abadinya konstitusi buatan manusia yang disampaikan oleh Jean Jacques Rousseau dalam buku politiknya Kontrak Sosial, “Negara hukum akan mati sebagaimana matinya tubuh manusia. Pada kenyataannya manusia tidak mampu membuat sesuatu yang abadi. Yang bisa dilakukan manusia adalah hanya berusaha membuat organisasi (tubuh) untuk semakin lebih lama bertahan hidup”. (Sumber : Jean Jacques Rousseau, “Kontrak Sosial terjemah The Social Contract”, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1986, hal 77).

10. Kesimpulan :

  1. Kesempatan untuk berkarir di dunia politik sangat terbuka lebar bagi siapa saja, karena dibolehkan dari latar belakang ilmu apa saja, fakultas apa saja, bahkan tamat SMA pun bisa. Lowongannya juga sangat besar jumlahnya, ada di dewan sebagai wakil rakyat tingkat kabupaten, tingkat kota, tingkat provinsi dan tingkat nasional. Maka kajian ilmu psikologi politik menjadi suatu prosfek yang menarik sekaligus menantang untuk digeluti bagi para sarjana lulusan bidang ilmu psikologi dan bidang ilmu politik.
  2. Motif dibentuknya Negara adalah untuk menciptakan kebersamaan dan kesejahteraan; keamanan dan kedamain; bukan tontonan pertengkaran dan korupsi besar-besaran; bukan pula diplomasi kepalsuan dan peperangan yang menelan banyak korban nyawa manusia.
  3. Pendidikan politik melalui interaksi sosial dan program yang terencana, serta penjiwaan berpolitik sebagai suatu kesadaran diri melalui “cabang ilmu baru” – psikologi politik – merupakan variasi upaya, agar lebih optimal, agar tercipta politik kekuasaan yang santun dan berkeadilan, transparan dan penuh rasa tanggungjawab secara moral, material dan nilai-nilai transcendental.
  4. Negara banyak didirikan oleh mereka yang berpikir dan bertindak secara sekuler, sebagaimana pendapat Niccolo Machiavelli yang banyak diikuti. Satu sisi agama dianggap memegang peranan penting dalam mempersatukan Negara, namun disisi lain agama harus tunduk pada Negara: “Oleh karena itu dalam mempertahankan kekuasaan Negara, agama harus tunduk pada Negara. Agama menurut kesaksian sejarah memainkan peranan penting dalam mempersatukan suatu Negara” (Sumber: Niccolo Machiavelli, “Sang Penguasa Surat Seorang Negarawan Kepada Pemimpin Republik terjemah Il Principe”, Penerbit Gramedia, Jakarta, 1987, hal xxxvii). Masih menurut buku tersebut bahwa “Lembaga-lembaga agama hanyalah sarana-sarana atau alat-alat yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga tata tertib yang berlaku”. Machiavelli bukan seorang atheis namun pemikirannya betul-betul bercorak sekuler.

Referensi :

  1. Prof. Dr. Bimo Walgito, “Pengantar Psikologi Umum”, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2004.
  2. Prof. Dr. Miriam Budiardjo, “Dasar-Dasar Ilmu Politik”, Penerbit Gramedia, Jakarta, Edisi Revisi, Cetakan keempat, Oktober 2010.
  3. Prof. Dr. Soerjono Soekanto, “Sosiologi Suatu Pengantar”, Penerbit Rajawali Pers, Jakarta, Cetakan keempatbelas, September 1991.
  4. Jean Jacques Rousseau, “Kontrak Sosial terjemah The Social Contract”, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1986.
  5. Niccolo Machiavelli, “Sang Penguasa Surat Seorang Negarawan Kepada Pemimpin Republik terjemah Il Principe”, Penerbit Gramedia, Jakarta, 1987
  6. http://www.academia.edu/5603392/Psikologi_Politik_FINAL
  7. http://arti-definisi-pengertian.info/arti-psikologi-politik/

……………………………………………………………

Supported by : http://www.dmiindonesia.com

……………………………………………………………

Membangun Komunikasi Ortu dan Anak Berdasar Potensi dan Bakat Anak

1 Pengantar :

Salah satu permasalahan dari sekian banyak permasalahan yang ada, yang sering dihadapi para orangtua terhadap para-putrinya adalah tentang berkomunikasi dengan para putra-putrinya. Tentu komunikasi yang baik adalah berorientasi kepada mitra komunikasi kita, dalam hal ini adalah dengan anak-anak kita. Upaya membangun komunikasi yang efektif adalah jika antara pemberi pesan dengan penerima pesan terjalin secara harmonis dan bisa dengan mudah memahami pesan yang akan disampaikan.

2 Ada beberapa kendala mengapa pesan tidak sampai :

Beda persepsi, tidak seimbang pengalaman dan pengetahuannya, beda budaya dan bahasa, beda usia dan beda kepentingannya. Untuk mengurangi beberapa kendala tersebut adalah dengan menyesuaikan diri dengan mitra komunikasi, antara lain melalui pemahaman kita (para orangtua) terhadap potensi anak kita dan bakat yang dimilikinya.

3 Potensi Anak :

Kebanyakan orangtua menganggap bahwa potensi setiap anak adalah sama, sehingga ketika memperlakukan anak-anak juga dengan cara komunikasi yang sama. Ada perilaku anak yang agresif dan energik; ada yang pasif dan pendiam; ada yang reaktif dan spontan; ada yang serba ingin tahu dan ada acuh terhadap kejadian yang ada di lingkungan terdekatnya. Semua itu membutuhkan cara dan bentuk komunikasi yang berbeda. Ada yang bisa didekati dengan bentuk komunikasi lisan, ramah dan sabar, ada yang perlu sentuhan komunikasi tertulis dan formal. Dan semua itu juga perlu dikombinasikan dengan usia dan pengetahuannya. Untuk mengenali potensi anak setidaknya terdapat 3 cara, antara lain : (a) cara eksplorasi melalui pengalaman sehari-hari, (b) cara observasi melalui serangkaian psikotest dan (c) cara deteksi melalui fingerprint-test.

4 Bakat Anak :

Dengan tes bakat tertentu maka beberapa potensi seseorang bisa dikenali antara lain : (i) potensi bidang kecerdasannya, (ii) potensi gaya belajarnya dan (iii) potensi karakter komunikasinya. Ada baiknya para orangtua mengenali ketiga potensi besar tersebut. (i) Potensi kecerdasan ada 8 macam antara lain : (1) kecerdasan linguistic (2) kecerdasan logic-matemathic (3) kecerdasan intra-personal (4) kecerdasan inter-personal (5) kecerdasan visual-spasial (6) kecerdasan bodly-kinestethic (7) kecerdasan musicsl (8) kecerdasan naturlis. Sedangkan (ii) potensi gaya belajar meliputi 3 gaya antara lain : (1) visual (2) auditorial (3) tactile. Dan (iii) potensi karakter komunikasi seseorang terdapat 4 type antara lain : (1) reflektif (2) kritikal (3) kognitif (4) afektif. Kesemua potensi tersebut menuntuk cara komunikasi yang berbeda-beda.

5 Jenis aktifitas hidup manusia :

Setidaknya ada 4 macam aktifitas hidup manusia sejak masa kanak-kanak hingga ia tumbuh dewasa antara lain : (1) bermain (2) belajar (3) bekerja (4) beribadah. Semakin muda usia seseorang maka dominasinya adalah bermain. Permainan yang positif tentu mengandung pembelajaran yang merangsang perkembangan pengetahuannya atau kemandiriannya. Sedangkan pembelajaran yang positif adalah pembelajaran yang dapat digunakan sebagai bekal untuk bekerja kelak sesuai dengan tuntutan zamannya (relevan). Dan pada akhirnya usia semakin senja, maka kebutuhan akan ruhaninya lebih mendominasi jika dibandingkan dengan kebutuhan jasmaninya. Untuk membangun komunikasi pada anak usia dini atau usia pra sekolah akan menjadi efektif jika menggunakan komunikasi yang diikuti dengan permainan tertentu atau bicara sembari bercanda, atau bicara menggunakan alat peraga sesuai dengan bakat dan minatnya.

6 Kesimpulan dan saran :

Tidak ada teknik komunikasi yang mujarab yang dapat digunakan para orangtua dalam membangun komunikasi kepada putra-putrinya kecuali sesuai dengan bakat dan minatnya serta penuh kesabaran, ketekunan, dan permainan yang kreatif dan variatif. Sekedar untuk membiasakan shalat wajib saja dibutuhkan waktu 3 tahun yakni antara usia 7 tahun sampai usia 10 tahun.

Yogyakarta, 13 Nopember 2014

Teguh Sunaryo

Komisaris TK & PLAY GROUP KREATIF PRIMAGAMA

HP : 085 643 383838

————————————————————

Pengumumam Perubahan Jam Kerja TH. 2014

Diberitahukan kepada seluruh Kantor Cabang DMI Primagama dan para pengguna jasa tes deteksi bakat DMI Primagama, bahwa Kantor Pusat Operasional (Head Office) DMI Primagama Pusat sejak bulan September 2014 dan seterusnya, buka kerja untuk melayani masyarakat pada :

A. Hari Kerja Operasional Manajemen & Tes Bakat DMI :

  • Hari Kerja : Senin – Jumat (Pkl. 09.00 – 17.00 WIB)
  • Hari Kerja : Sabtu (Pkl. 09.00 – 15.00 WIB)
  • Hari Libur : Minggu dan Hari Libur Nasional

B. Hari Kerja Layanan Konsultasi Psikologi DMI :

  • Hari Kerja : Senin – Kamis (Pkl. 10.00 – 12.00 dan Pkl. 13.00 – 17.00 WIB)
  • Hari Kerja : Sabtu (Pkl. 10.00 – 12.00 dan Pkl. 13.00 – 17.00 WIB)
  • Hari Libur : Jumat dan Minggu serta Hari Libur Nasional

Demikian pemberitahuan ini disampaikan dan diumumkan di hadapan publik agar diketahui dan menjadi maklum adanya. Terimakasih atas kerjasamanya selama ini dan salam sukses selalu.

Yogyakarta, Senin 8 September 2014.

TTD

Manajemen Kantor Pusat DMI Primagama

.

———————————————————————-

MENCETAK GENERASI SMART BERBASIS BAKAT DAN KECERDASAN

Oleh Teguh Sunaryo

Direktur Lembaga Deteksi Bakat Sidikjari DMI Primagama

(Disampaikan pada Seminar Pendidikan Nasional dalam rangka Pelantikan Pengurus DPC Ikatan Alumni UNY Kabupaten Gunungkidul masa bakti 2014-1018 di Ruang Sidang Gedung DPRD Kabupaten Gunungkidul pada hari Sabtu, tanggal 10 Mei 2014). Panel bersama narasumber : Drs. Budi Utama, M.Pd. (Ketua DPRD Kab. Gunungkidul) dan Prof. Dr. H. Herminarto Sofyan (DPP-IKA-UNY).

1. PENGANTAR UMUM

Pendidikan nasional adalah masalah nasional. Artinya ini bukan masalah ”orang pendidikan saja”, tetapi masalah bersama yang harus dihadapi secara bersama. (Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc., Ed., 2009, hal 143).
Unesco memperkenalkan empat pilar belajar, yaitu : Learning to know, Learning to do, Learning to live together, dan Learning to be. (Prof. Dr. Soedijarto, M.A., 2008, hal 130). Belajar tidak sekedar memiliki pengetahuan semata, tetapi juga bisa melakukan dan mempraktekkan apa yang ia ketahui (to know). Setelah bisa melakukan sesuatu karena punya ketrampilan tertentu (to do) maka ia pun harus bisa bermanfaat bagi orang lain (to gather) dalam hidup berkomunitas yang berdampingan dengan saudara-saudara lainnya, dan kemudian ia pun harus bangga dan bisa menjadi dirinya sendiri (to be ; be your self) yang berbeda dari yang lain (individual differences) dalam rangka saling mengisi dan dan bergotong royong. Dan sinergisitas bisa optimal karena adanya kerjasama yang harmonis (the right man on the right place) antar komponen yang berbeda (Multiple Intelligences).
Pada diri setiap individu ada potensi, dan potensi itu dapat berbeda antar individu yang satu dengan individu lainnya (individual differences). Perbedaan individu itu dapat menyangkut kualitas potensi pancadaya (taqwa, cipta, rasa, karsa, karya), bakat, dan kondisi fisik. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., 2009, hal 213).

2. BAKAT DAN KECERDASAN

Apakah setiap manusia memiliki bakat ? Ya, setiap manusia memiliki bakat, namun bakat sebagai potensi harus dikembangkan menjadi prestasi dan menjadi suatu kenyataan. (Prof. Dr. Reni Akbar Hawadi, 2008, hal 125).
Bakat adalah suatu karakteristik unik individu yang membuatnya mampu (tidak mampu) melakukan suatu aktivitas dan tugas secara mudah (atau sulit) dan sukses (atau tak pernah sukses). (H. Yul Iskandar., MD., DSJ., MBAP., MASRS., Ph.D., 2000, hal 7).
Minat adalah usaha dan kemauan untuk mempelajari (learning) dan mencari sesuatu. (H. Yul Iskandar., MD., DSJ., MBAP., MASRS., Ph.D., 2000, hal 9).
Pengertian bakatpun berkembang ke arah bakat jamak dengan rumusan seperti : bakat seni, bakat verbal, bakat matematik/ numerikal, bakat mekanikal, bakat olahraga, bakat akademik, dll. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., 2009, hal 245).
Pengertian inteligensi sebagai ”kombinasi sifat-sifat manusia yang mencakup kemampuan untuk pemahaman terhadap hubungan yang kompleks; semua proses yang terlibat dalam berpikir abstrak; ” dan ”kemampuan untuk memperoleh kemampuan baru”. (Prof. Dr. Conny Semiawan, 2008, hal 11-12).
Setiap anak dianugerahi minat dan bakat yang berbeda-beda satu sama lain. Bakat merupakan potensi dalam (inherent) anak yang harus distimulasi (diaktivasi) terlebih dahulu sehingga dapat terlihat sebagai suatu kecakapan, pengetahuan, dan ketrampilan khusus yang menjadi bekal hidupnya kelak. (Bunda Lucy, Psi., 2009, hal 47).
Tujuan pendidikan pada umumnya ialah menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya secara optimal, sehingga ia dapat mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya, sesuai dengan kebutuhan pribadinya dan kebutuhan masyarakat. Setiap orang mempunyai bakat dan kemampuan yang berbeda-beda dan karena itu membutuhkan pendidikan yang berbeda-beda pula. Pendidikan bertanggungjawab untuk memandu (yaitu mengidentifikasi dan membina) serta memupuk (yaitu mengembangkan dan meningkatkan) bakat tersebut, termasuk dari mereka yang berbakat istimewa atau memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa. (Prof. Dr. Utami Munandar, 2004, hal 6).
Enam bidang keberbakatan menurut USOE (U.S. Office of Education) adalah bakat intelektual umum, bakat akademis khusus, bakat kreatif produktif, bakat seni, bakat psikososial atau memimpin, bakat psikomotor. (Prof. Dr. Utami Munandar, 2004, hal 28).
Delapan Kecerdasan Dasar (Kecerdasan Majemuk / Multiple Intelligences) meliputi : Kecerdasan linguistik (Word Smart), kecerdasan matematis-logis (Logic Smart), kecerdasan spasial-visual (Picture Smart), kecerdasan kinestetis-jasmani (Body Smart), kecerdasan musikal (Music Smart), kecerdasan interpersonal (People Smart), kecerdasan intrapersonal (Self Smart), kecerdasan naturalis (Nature Smart). (Thomas Armstrong, Ph.D., 2004, hal 2 – 4).
Setiap orang memang dilahirkan dengan berbagai bakat yang berbeda-beda. Bakat adalah kemampuan yang merupakan sesuatu yang ”inherent” dalam diri seseorang, dibawa sejak lahir dan terkait dengan struktur otak. Secara genetis struktur otak memang telah terbentuk sejak lahir, tetapi berfungsinya otak itu sangat ditentukan oleh caraanya lingkungan berinteraksi dengan anak manusia itu. (Prof. Dr. Conny Semiawan, 2008, hal 11).
Potensi kemampuan manusia yang mana yang akan menjadi pemeran utama dalam menemukenali masa depan yang harus ditemukan (success by design), dipersiapkan atau dihindari. (Prof. Dr. Conny Semiawan, 2008, hal 22-23).
Oleh karena itu, perkembangan ilmu yang tidak begitu cepat terjadi memerlukan pendekatan baru dalam pembelajarannya untuk menemukenali masa depan yang harus dihindari ataupun perlu disiapkan. (Prof. Dr. Conny Semiawan, 2008, hal 23-24).
Keberbakatan itu adalah ciri-ciri universal yang khusus dan luar biasa yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil interaksi dari pengaruh lingkungan. (Prof. Dr. Conny Semiawan, 2008, hal 25).
Hal yang paling penting adalah kita mengenali dan memelihara semua kecerdasan manusia yang bervariasi, dan semua kombinasi kecerdasan. (Prof. Howard Gardner, Ph.D., 2003, hal 29).
Ada tiga cara ilmu pengetahuan dalam mengenali bakat seseorang yaitu : (1) Metoda eksplorasi, yakni melalui trial and error, learning by doing, empirisme dan pengalaman berbagai jenis kursus yang membutuhkan banyak waktu dan biaya (experiencing various courses). (2) Metoda Observasi, yakni melalui varian psikotest berbasis psikometri ilmu psikologi, yang hasilnya senantiasa bisa berubah bergantung kondisi psikologis individu seseorang yang sedang dites. (3) Metoda Deteksi Bakat sidikjari berbasis teknologi (fingerprint test), yakni melalui kesepuluh disikjari tangan kanan dan kiri kemudian dipindai (di-scan) tanpa ada wawancara atau tanpa menjawab pertanyaan tertentu dalam bentuk apapun sehingga tidak menimbulkan rasa cemas. (Teguh Sunaryo, 2008, hal 2).

3. KURIKULUM SEBAGAI RANGKAIAN AKTIVASI (STIMULASI SISTEMIK) TERHADAP SUATU POTENSI

Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku individu yang diperoleh melalui pengalaman; melalui proses stimulus-respon; melalui pembiasaan; melalui peniruan; melalui pemahaman dan penghayatan; melalui aktivitas individu meraih sesuatu yang dikehendaki. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., 2009, hal 203).
Siapapun juga orangnya pasti mempunyai bakat yang unik, namun usaha apapun yang kita lakukan, maka tidak terelakkan lagi bagi kita bahwa belajar merupakan bagian dari proses untuk memaksimalkan bakat tersebut. (Edmund Bachman, Ph.D., 2005, hal 2).
Hasil belajar dirumuskan sebagai tahu, bisa, mau, terbiasa (disingkat TBMTb). (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., 2009, hal 204).
UU. No 20 tahun 2003, pasal 1 butir 19 : Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., 2009, hal 280).
Kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang diikuti peserta didik, atau apa yang dialami seorang di tempat ia belajar. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., 2009, hal 280).
Melalui sistem persekolahan yang modern dan bermutu akan lahir generasi baru dalam Indonesia merdeka yang ”cerdas” dan ”berkarakter”. (Prof. Dr. Soedijarto, M.A 2008, hal 73).
Tujuan sekolah seharusnya mengembangkan kecerdasan dan membantu orang mencapai sasaran profesi. (Prof. Howard Gardner, Ph.D., 2003, hal 25).
Design dari sekolah ideal saya di masa depan didasarkan pada dua asumsi. Pertama, adalah bahwa tidak semua orang mempunyai minat dan kemampuan yang sama, dan tidak semua kita belajar dengan cara yang sama. Kedua, bahwa tidak ada seorang pun yang dapat belajar untuk menguasai segala sesuatu (semua hal) yang ingin dipelajarinya, sekolah harus berpusat pada individu. (Prof. Howard Gardner, Ph.D., 2003, hal 25 – 26).
Kurikulum berpotensi menjebak karena kurikulum : a) diperlakukan lebih penting dari guru, b) diperlakukan sebagai sumber lengkap pengetahuan, c) diperlakukan sebagai program baku yang berpotensi universal, d) diperlakukan sebagai potensi utama dalam meningkatkan kualitas, e) sebagai strategi untuk melestarikan masa lalu. (Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc., Ed., 2009, hal 73-76).
Wallach (1976) pun menunjukkan bahwa mencapai skor tertinggi pada tes akademis belum tentu mencerminkan potensi untuk kinerja kreatif / produktif. (Prof. Dr. Utami Munandar, 2004, hal 25).
Perlu pula diingat bahwa kurikulum sekolah yang terlalu padat sehingga tidak ada peluang untuk kegiatan kreatif , dan jenis pekerjaan yang monoton, tidak menunjang siswa untuk mengungkapkan dirinya secara kreatif. (Prof. Dr. Utami Munandar, 2004, hal 46).
Kurikulum secara umum mencakup semua pengalaman yang diperoleh siswa di sekolah, di rumah, dan di dalam masyarakat dan yang membantunya mewujudkan potensi-potensinya. (Prof. Dr. Utami Munandar, 2004, hal 138).
Psikolog, guru BP atau pengelola program anak berbakat sebaiknya : a) mampu melakukan pengukuran / pengetesan, b) memahami berbagai gaya belajar dan motivasi, c) menguasai teori belajar perilaku, dan d) mengenal karakteristik khusus dari anak berbakat dan kreatif. (Prof. Dr. Utami Munandar, 2004, hal 248).
Guru, orangtua, dan pembimbing perlu mengenal bakat anak-anaknya sehingga dapat memberikan pendidikan dan menyediakan pengalaman sesuai dengan kebutuhan masing-masing. (Bunda Lucy, Psi., 2009, hal 64).
Ada empat substansi pembelajaran : (1) Stimulasi yang sesuai dengan potensi (2) Pengulangan (3) Pembiasaan, dan (4) Pemberdayaan. Potensi unggul dikenali kemudian diberi stimulasi secara berulang-ulang (aktivasi potensi) hingga tumbuh suatu kebiasaan positif yang berdampak pada kualitas keberdayaan seseorang. Potensi di deteksi sejak dini, pengulangan di lakukan berkali-kali (frekuensi, kuantita), pembiasaan menjadi budaya sehingga tanpa ada rasa terbebani (rasa senang, kualita), dan konsekuensinya adalah pribadi yang berdaya (cerdas, mahir) dan mandiri, berprestasi dan bermanfaat bagi lingkungan di sekitarnya. (Teguh Sunaryo, 2008, hal 1).

4. GENERASI SMART

Kompetensi merupakan wujud dari kekuatan seseorang dalam hal tertentu atau kemampuan seseorang melakukan satuan kegiatan yang dapat segera diwujudkan untuk memenuhi keperluan tertentu. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., 2009, hal 283).
Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang bersifat massal, muncul bersamaan dengan proses industrialisasi yang mengakibatkan terjadinya urbanisasi, vokasionalisasi, spesialisasi, serta mendorong orangtua meninggalkan anak untuk bekerja. Akibatnya orangtua tidak memiliki waktu untuk mendidik anak-anaknya. Karena itulah diperlukan suatu lembaga pendidikan yang khusus menyiapkan generasi muda untuk menghadapi tuntutan baru masyarakat modern. (Prof. Dr. Soedijarto, M.A., 2008, hal 95).
Melalui sistem persekolahan yang modern dan bermutu akan lahir generasi baru dalam Indonesia merdeka yang ”cerdas” dan ”berkarakter”. (Prof. Dr. Soedijarto, M.A., 2008, hal 73).
Pilar pendidikan nasional ialah ing ngarso sung tulodo, ing madyo bangun karso, tutwuri handayani. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., 2009, hal 58).
Ada empat prasyarat untuk meraih sukses : (1) Percaya Diri (2) Pandai Komunikasi (3) Daya Juang Tinggi (4) Kompetensi Inti. Tidak ada orang sukses yang tidak percaya diri, dan kebanyakan orang sukses adalah mereka yang pandai mempersuasi dengan membangun komunikasi pada kumunitas dan relasinya, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi kendala dan masalah, namun juga memiliki kompetensi tertentu yang relavan dengan zamannya. Sukses adalah kombinasi optimal antara bakat, minat dan cara hidup yang sehat. Dan puncak sukses adalah menjadi yang terbaik dalam bidangnya. (Teguh Sunaryo, 2008, hal 3)

5. KESIMPULAN

Kemampuan kreatif seseorang sering begitu ditekan oleh pendidikan dan pengalamannya sehingga ia tidak dapat mengenali potensi sepenuhnya, apalagi mewujudkannya. (Prof. Dr. Utami Munandar, 2004, hal 11).
Pengembangan potensi pembawaan ini akan paling mudah dan paling efektif jika dimulai sejak usia dini. (Prof. Dr. Utami Munandar, 2004, hal 13).
Dari sejarah tokoh-tokoh yang unggul dalam bidang tertentu ternyata memang ada diantara mereka yang semasa kecil atau sewaktu di bangku sekolah tidak dikenal sebagai seorang yang menonjol dalam prestasi sekolah, namun mereka berhasil dalam hidup. (Prof. Dr. Utami Munandar, 2004, hal 15).
Kreativitas adalah ungkapan (ekspresi) dari keunikan individu dalam interaksi dengan lingkungannya. Ungkapan kreatif ialah yang mencerminkan orisinalitas dari individu tersebut. Dari ungkapan pribadi yang unik inilah dapat diharapkan timbulnya ide-ide baru dan produk-produk yang inovatif. Oleh karena itu pendidik hendaknya dapat menghargai keunikan pribadi dan bakat-bakat siswanya (jangan mengharapkan semua melakukan atau menghasilkan hal-hal yang sama, atau mempunyai minat yang sama). Guru hendaknya membantu siswa menemukan bakat-bakatnya dan menghargainya. (Prof. Dr. Utami Munandar, 2004, hal 45).
Kunci sukses dari seorang anak adalah ketika ia dapat menjadi sesuai dengan potensi dan bakatnya, bukan berdasarkan apa kata orangtua maupun lingkungannya. (Bunda Lucy, Psi., 2009, hal 28).
Seseorang yang memiliki bakat dalam profesinya, rata-rata lebih sukses dibanding rekan seprofesinya yang sebenarnya tidak berbakat. (Bunda Lucy, Psi., 2009, hal 54).
Tidak ada kata terlambat untuk mengembangkan kemampuan bawaan dan memaksimalkan potensi anda. (Edmund Bachman, Ph.D., 2005, hal 6).

REFERENSI PUSTAKA

  1. Prof. Dr. Utami Munandar, ”Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat”, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, September 2004.
  2. Prof. Dr. Conny Semiawan, ”Perspektif Pendidikan Anak Berbakat”, Penerbit Grasindo, Jakarta, Januari 2008.
  3. Prof. Dr. Reni Akbar Hawadi, ”Psikologi Perkembangan Anak”, Penerbit Grasindo, Jakarta Maret, 2008.
  4. Prof. Howard Gardner, Ph.D., ”Multiple Intelligences”, Penerbit Interaksara, Batam Centre, Tahun 2003.
  5. Prof. Dr. Soedijarto, M.A., ”Landasan dan Arah Pendidikan Nasional kita”, Penerbit Kompas, Jakarta, Juli 2008.
  6. Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., ”Dasar Teori dan Praksis Pendidikan”, Penerbit Grasindo, Jakarta, 2009.
  7. Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc., Ed., ”Pendidikan Nasional Strategi dan Tragedi”, Penerbit Kompas, Jakarta, Juli 2009.
  8. H. Yul Iskandar., MD., DSJ., MBAP., MASRS., Ph.D., ”Test bakat, Minat, Sikap & Personality MMPI-DG”, Penerbit Yayasan Dharma Graha, Jakarta, Juli 2000.
  9. Thomas Armstrong, Ph.D., ”Sekolah Para Juara”, Penerbit Kaifa, Bandung, Cetakan IV, November 2004.
  10. Edmund Bachman, Ph.D., ”Metode Belajar Berpikir Kritis dan Inovatif”, Penerbit Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta, Cetakan pertama, September 2005.
  11. Bunda Lucy, Psi., ”Mendidik Sesuai Dengan Minat dan Bakat Anak”, Penerbit PT. Tangga Pustaka, Jakarta, Cetakan pertama, 2009.
  12. Teguh Sunaryo, “Makalah Seminar Pentingnya Mengenali Bakat Untuk Meraih Prestasi Puncak”, di Auditorium Universitas Mercu Buana Jakarta Barat, Sabtu, 23 Agustus 2008.

.

——————————Teguh Sunaryo : 085 643 383838————————–

 

Pengumuman

Dalam rangka program peningkatan pelayanan kepada klien dan Kantor Cabang DMI Primagama di seluruh Indonesia, dengan ini diberitahukan bahwa, Kantor Pusat DMI Primagama, masuk kerja :

  1. Hari : Senin – Sabtu (kecuali hari libur Nasional).
  2. Waktu :
  • Senin – Jumat : Pkl. 09.00 -17.00 WIB.
  • Sabtu  : Pkl. 09.00 – 15.00 WIB.
  • Minggu : Libur

Ketentuan ini berlaku sejak tanggal diumumkannya pengumuman ini yaitu pada hari kamis, tanggal 2 bulan januari tahun 2014 (Kamis, 2 Januari 2014).

Demikian pemberitahuan ini disampaikan semoga dapat menjadikan maklum dan atas kerjasama yang baik selama ini kami haturkan terimakasih.

Yogyakarta, 2 Januari 2014

Ttd

Manajemen DMI Primagama

——————————————————————-

Tiga Macam Produk Tes Bakat Sidikjari DMI

Tes Bakat Sidikjari DMI

Produk 1 : Tes Bakat Sidikjari DMI

Produk 1 : Tes Bakat Sidikjari DMI (DMI – PREMIUM)

Untuk : Semua Usia (1-90 tahun)

Harga di Jakarta dan sekitarnya : Rp 2.000.000,-

Harga di Luar Jakarta : Rp 1.500.000,-

Tes Karakter DMI

Produk 2 : Tes Karakter dan Profesionalisme DMI

.

.

.

.

.

.

.

.

Produk 2 : Tes Karakter & Profesionalisme DMI (DMI – PROFESI)

Untuk : Mahasiswa dan Pegawai (17-50 tahun)

Harga di Jakarta dan sekitarnya : Rp 500.000,-

Harga di Luar Jakarta : Rp 250.000,-

Tes Bakat Anak Cerdas Istimewa DMI

Produk 3 : Tes Bakat Anak Cerdas Istimewa DMI

.

.

.

.

.

.

.

.

Produk 3 : Tes Bakat Anak Cerdas Istimewa DMI (DMI – ACI atau DMI – KIDS)

Untuk : Usia PAUD dan Pelajar (1-16 tahun)

Harga di Jakarta dan sekitarnya : Rp 300.000,-

Harga di Luar Jakarta : Rp 200.000,-

Visi dan Misi DMI Primagama

VISI DMI PRIMAGAMA :

    1. Systemic & Fast
    2. Service & Friendly
    3. Superteam & Fun
    4. Simplicity & Focus
    5. Success & Fight

MISI DMI PRIMAGAMA :

    1. Praktis
    2. Bermanfaat
    3. Profesional
    4. Beragama
    5. Berbudaya

PHILOSOPY DMI PRIMAGAMA :

    1. Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu
    2. Jadikan kerja keras dan kerja ikhlas sebagai sarana ibadahmu
    3. Jadikan ilmu dan teknologi sebagai instrument hidupmu
    4. Jadikan kedamaian dan persahabatan sebagai semangat kebersamaanmu
    5. Jadikan sedekah dan rasa syukur sebagai kesuksesanmu

——————————————————————————

Bunda, kenali potensi diri sibuah hati dengan tes bakat sidikjari DMI

Tidak ada orangtua yang tidak sayang kepada putra-putrinya. Namun cara mengungkapkan perasaan sayangnya setiap orangtua berbeda-beda. Ada yang fokus perhatiannya hanya dalam aspek fisik belaka tanpa memperhatikan prestasi akademiknya. Ada yang memperhatikan aspek akademiknya namun lupa mengelola penampilannya. Dan ada yang sudah memperhatikan keduanya tetapi sama sekali belum paham mau dibawa kemana masa depan buah hatinya. Para orangtua belum tahu potensi inheren buah hatinya. Bunda juga tidak tahu bagaimana cara mengenali potensi putra-putrinya. Maka wajar jika ada sebagian bunda yang masih bingung terhadap cita-cita buah hatinya, sebagaimana bingungnya si buah hati yang setiap saat berganti-ganti cita-citanya.

Bunda, ada cara baru untuk mengenali potensi diri sibuah hati. Caranya sangat praktis dan tes-nya cuma sekali untuk selamanya. Bisa digunakan untuk mengetahui bakat unggulnya, dominasi otak kanan dan otak kirinya, gaya belajarnya, dan karakter komunikasinya.

Sebaiknya bunda mulai sekarang mengenali potensi diri sibuah hati, agar bisa membuatkan visi bagi masa depannya. Ciptakan visi berbasis potensi, tumbuhkan cita-cita berbasis talenta.

Anak-anak adalah masa depan kita, buatkan perencanaan karier yang matang bagi dirinya. Sekolah yang baik saja tidaklah cukup, jika tidak dijadikan bagian integral dari sebuah perencanaan kariernya. Sudah cukup banyak bukti, saat dibangku sekolah anak pandai namun saat bekerja ia sama sekali tidak punya prestasi. Saat sekolah dia nyaman namun saat bekerja dia merasa tersiksa karena tidak sesuai dengan bakatnya. Bahkan tidak jarang pula anak-anak sudah malas sejak dibangku sekolah karena pelajarannya tidak sesuai dengan bakatnya.

Sebelum semuanya terlambat, sebaiknya bunda berkonsultasi terlebih dahulu kepada pihak yang menurut bunda bisa dipercaya. Datanglah pada ahlinya, biarkan ayahnya bekerja untuk membiayai anak-anak kita, sedangkan bunda bisa turut memikirkan bagaimana masa depan generasi berikutnya, yaitu karier si buah hati tercinta.

Semoga bermanfaat, salam sukses untuk bunda semua, trimakasih.

Yogyakarta, Kamis, 6 Juni 2013

Oleh : Teguh Sunaryo

085 643 383838

Perencanaan Strategis

Manusia adalah makhluk yang sebaik-baiknya. Ia mampu membuat rencana bagi masa depannya. Berbeda dengan makhluk lainnya yang menghadapi hidup mengalir begitu saja mengikuti arus kemanapun ia berjalan, tanpa arah dan tanpa tujuan. Sehingga sangatlah disayangkan jika kita membengkalaikan potensi yang kita miliki, tanpa sadar kita telah men-down grade-kan level kemanusiaan kita sendiri. Orang yang seperti ini hidupnya pasti penuh ketidakpastian, selalu tergesa-gesa dan risau, sulit bersyukur dan tidak visioner. Sulit berdamai dengan diri sendiri serta lingkungannya.

Ada tiga Perencanaan Besar yang harus dilakukan oleh manusia yang ingin berkembang menjadi manusia yang bermanfaat dan beradab dengan sebaik-baiknya  al :

  1. Perencanaan hidup (Life Planner)
  2. Perencanaan karier (Career Planner)
  3. Perencanaan keuangan (Financial Planner)

Ketiganya merupakan perencanaan yang kita butuhkan agar kualitas hidup kita bisa menjadi lebih baik, nyaman dan berkecukupan, skala besar namun tidak penuh kegalauan, atau skala kecil namun penuh kebahagiaan, itulah hidup yang sejahtera lahir dan batin. Ketiga perencanaan itu semuanya penting, namun prioritasnya adalah membuat life planning terlebih dahulu, kemudian baru career planning dan yang terakhir financial planning. Perencanaan hidup adalah grand strategi bagi perjalanan sepanjang hidupnya, dari lahir sampai meninggal dunia. Sedangkan perencanaan karier, adalah suatu upaya dimana seseorang harus berkarya dalam menopang eksistensi dirinya. Harga diri seseorang dapat dilihat sejauh mana manfaatnya dalam kariernya, dan dalam karyanya. Sedangkan perencanaan keuangan, adalah sebuah upaya atas hasil karya kita (laba, gaji, nafkah, bonus, insentif, dll) untuk dikelola bagaimana penggunaan dan penyimpanannya agar efektif dan efisien, agar tepat guna bagi kebutuhan jangka pendek maupun kebutuhan jangka panjang.

1. Life Planner.

Bagaimana visi anda pada saat usia sekolah ? Bagaimana visi anda saat sudah selesai kuliah ? Bagaimana visi anda saat sudah mendapatkan pekerjaan dan menjadi karyawan ? Bagaimana visi anda saat anda sudah pensiun dan anak-anak mulai meninggalkan anda ? Anda ingin dikenang sebagai orang biasa atau orang yang memiliki keahlian tertentu ? Anda ingin dikenang sebagai orang awam biasa atau seorang tokoh di bidang tertentu ? Ini semua harus direncanakan dan diupayakan, sehingga hidup tidak tolah-toleh ke kiri dan ke kanan, tidak serba ragu dan bimbang, dan tidak dipermaikan oleh keadaan, namun justru kitalah yang mewarnai keadaan. Namun bagi anda yang hidupnya dengan penuh kesadaran diciptakan menjadi orang yang biasa saja, maka perencanaan hidup tidak begitu anda butuhkan. Tapi harus anda sadari bahwa anda adalah orang biasa yang semuanya menjadi serba biasa dan tidak menjadi istimewa, kecuali mukjizat memang ada menghampiri anda. Cara membuat life planning adalah dengan berdasarkan potensi diri yang ada miliki. Karena perencanaan hidup ini sebaiknya dilakukan sejak dini, maka potensi alami perlu segera dimengerti. Pada usia dini belumlah punya pengalaman yang berarti yang bisa dijadikan acuan terciptanya visi. Namun jika harus sudah punya pengalaman yang berarti terlebih dahulu maka biasanya usianya sudah terlambat andai terdapat pengalaman  yang keliru yang harus dibenanhi. Ciptakan visi berbasis potensi, miliki cita-cita berbasis berbasis talenta, kenali bakat kalau ingin dikenal sebagai orang hebat.

2. Career Planner.

Setelah perencanaan hidup yang berjangka panjang kita miliki dan kita yakini, maka tugas berikutnya adalah mendaratkan dan mewujudkannya. Cara mewujudkannya adalah dengan membuat perencanaan jangka pendek berupa perencanaan akademik (academic planning) berupa sekolah atau study di bidang apa, yang sesuai dengan potensi utamanya (bakat unggulnya) atau perencanaan pelatihan yang dibutuhkan sesuai dengan bakatnya, training di bidang apa ? Persoalan tempatnya harus dimana tidaklah begitu penting, yang penting adalah kesesuaiannya antara potensinya dengan aktivasinya atau stimulasinya.

3. Financial Planner.

Pada akhirnya memuntut ilmu sebagai upaya mengembangkan potensi diri membutuhkan biaya, namun biaya tidak akan lebih besar jika prosesnya efektif dan efisien. Dari sejak mengenali potensi diri, menetapkan visi, mengedukasi diri, memberikan aktivasi atau stimulasi semuanya membutuhkan biaya, maka semua itu haruslah direncanakan secara realistis dan terukur. Setelah menjadi orang sukses pun perencanaan keuangan terus dibutuhkan, termasuk bagaimana merencanakan untuk anak-anak kita generasi berikutnya. Mereka harus lebih sukses dari pada seniornya, jangan ulangi kegagalan dan kesulitan kita kepada generasi berikutnya.

Demikianlah, peradaban manusia yang tumbuh dan berkembang selaras dengan kemajuan dan perubahan zaman. Perencanaan strategis menjadi titik awal untuk memulai dan bangkitnya suatu generasi bagi yang menghendaki. Direncanakan saja belum ada jaminan sukses, apalagi jika tidak memiliki perencanaan yang baik sama sekali. Semoga bermanfaat, dan mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Terimakasih.

Yogyakarta, Selasa, 21 Mei 2013

Persembahan DMI Primagama,

Lembaga Tes Bakat Sidikjari DMI di Indonesia,

Teguh Sunaryo

Direktur

Keunggulan

aku bisa1Begitu banyak orang berikhtiar dengan beraneka ragam cara, tidak lain adalah untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik dalam hidupnya. Semuanya itu guna mempertahankan hidup. Baik siklus kehidupan pribadinya maupun siklus kehidupan  sebuah perusahaan. Mereka yang bisa bertahan tentulah memiliki keunggulan bersaing yang patut dibandingkan dengan yang lainnya. Mereka punya kelebihan dibanding dengan yang lainnya. Siapa yang kuat akan bertahan, siapa yang berkualitas akan berjalan terus hidupnya. Itulah mengapa seseorang ingin menjadi pribadi yang unggul, mencari sekolahan yang unggul dan mencari tempat bekerja yang juga unggul.

Hanya orang-orang yang unggullah yang bisa bertahan dalam persaingan yang berat, dan hanya orang-orang yang unggullah yang senantiasa dipikat. Hanya perusahaan-perusahaan yang unggullah yang mampu bertahan dalan ketatnya persaingan. Perusahaan hebat merupakan kumpulan dari orang hebat, dan orang yang hebat selalu dicari oleh banyak perusahaan yang hebat pula. Pertanyaannya adalah : 1) Sudahkan kita menjadi peribadi unggul yang siap berkompetisi dalam segala situasi ? 2) Sudahkah keunggulan kita diketahui oleh para pihak yang membutuhkan keahlian kita  ? 3) Dalam berbisnis, sudahkah kita memiliki produk yang berkualitas yang layak dibandingkan dengan pihak kompetitor pada segmen yang sama ?

Para konsumen sudah sangat cerdas dalam mengambil keputusan untuk pemenuhan kebutuhannya. Mereka selalu ingin membandingkan sebelum mengambil keputusan. Sementara para pengusaha (produsen, eksekutif puncak) yang ingin bertahan harus selalu kreatif mencari keunggulan yang dapat memikat hati para pembeli.

Milikilah keunggulan yang tidak dimiliki oleh orang lain, atau oleh perusahaan lain, maka saat dibandingkan anda akan menjadi gula yang diperebutkan oleh para semut. Menjual produk yang ada keunggulannya akan lebih mudah dari pada menjual produk yang tidak ada apa-apanya. Dan tidak pernah ada orang yang bangga saat tidak punya keaunggulan apa-apa. Dan akan lebih aneh jika sudah punya keunggulan malah tidak segera diberdayakan, apa ada ? ada apa ? Biarlah konsumen yang akan menjawabnya, dan pasar yang akan membuktikannya. Biarlah keyakinan diri terus diuji sambil menunggu siapa yang paling berprestasi. Yakinlah bahwa perjalanan tidak pernah usai selama kita tidak pernah menyerah, dan selama itu pula masih tersedia waktu bagi kita untuk berbenah.

Selamat berkarya dan selamat meng-upgrade diri semoga menjadi insan yang unggul yang banyak dicari.

Yogyakarta, Kamis, 16 Mei 2013

Oleh Teguh Sunaryo

Direktur PT. DMI Indonesia

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.