Pesan Ibu Elly Risman Untuk Ayah-Bunda

Pesan Ibu Elly Risman

Senior Psikolog UI, Konsultan Parenting Nasional

Inilah pesan untuk para Orangtua :

Kalau Anda dititipi anak Presiden, kira-kira bagaimana mengasuh dan menjaganya ?

Beranikah Anda membentaknya sekali saja ?

Pasti enggak, kan ?

Nah, yang sekarang menitip bukan Presiden, tapi yang jauh lebih berkuasa dari Presiden, yaitu Allah.

Beranikah Anda membentak, memarahi, mencubit, menyentil, bahkan memukul ?

Jika Anda pernah melakukannya, kira-kira nanti di hari akhir, apa yang Anda jawab ketika ditanya Pemiliknya ?

Jiwa anakmu lebih mahal dari susu termahal yang ditumpahkannya.

Jaga lisanmu, duhai orangtua.

Jangan pernah engkau memarahi anakmu hanya gara-gara ia menumpahkan susunya atau karena ia melakukan hal yang menurutmu salah.

Anakmu tidak tahu kalau apa yang ia lakukan adalah kesalahan.

Otaknya belum mempunyai konsep itu.

Jaga Jiwa Anakmu.

Lihatlah tatapan mata anakmu yang tidak berdosa itu ketika engkau marah-marah.

Ia diam dan mencoba mencerna apa yang engkau katakan.

Apakah ia mengerti ?

Mungkin iya, tapi cobalah perhatikan apa yang ia lakukan.

setelah engkau pukul dan engkau marahi.

Anakmu tetap memelukmu, masih ingin engkau belai.

Bukankah inilah tanda si anak memaafkanmu ?

Namun, jika engkau terus-menerus mengumbar kata-kata kasarmu kepadanya, otak anakmu akan merekamnya dan akhirnya, cadangan ‘maaf’ di otaknya hilang.

Apa yang akan terjadi selanjutnya, duhai orangtua ?

Anakmu akan tumbuh menjadi anak yang ‘ganas’ dan ia pun akan membencimu sedikit demi sedikit hingga tidak tahan hidup bersamamu.

Jiwa anak yang terluka itu akan mendendam.

Pernahkah engkau saksikan anak-anak yang ‘malas’ *merawat orangtuanya ketika tua ?

Jangan salahkan anak-anaknya.

Cobalah memahami apa yang sudah dilakukan oleh orangtua itu kepada anak-anaknya ketika mereka masih kecil.

Orangtua.., anakmu itu bukan kaset yang bisa kau rekam untuk kata-kata kasarmu.

Bersabarlah.

Jagalah kata-katamu agar anak hanya tahu bahwa ayah ibunya adalah contoh yang baik, yang bisa menahan amarahnya.

Duhai orangtua, engkau pasti kesal kalau anakmu nakal.

Tapi pernahkan engkau berpikir bahwa kenakalannya mungkin adalah efek rusaknya jiwa anakmu karena kesalahanmu…

Kau pukul & kau cubit anakmu hanya karena melakukan hal-hal sepele.

Kau hina dina anakmu hanya karena ia tidak mau melakukan hal-hal yang engkau perintahkan.

Cobalah duduk dan merenungi apa saja yang telah engkau lakukan kepada anakmu.

Apakah engkau lebih sayang pada susu paling mahal yang tertumpah?

Anakmu pasti menyadari dan tahu ketika kemarahan itu selalu hadir di depan matanya.

Jiwanya pun menjadi memerah bagai bara api.

Apa yang mungkin terjadi ketika jiwa anak sudah terusik ?

Anak tidak hormat pada orangtua.

Anak menjadi musuh orangtua.

Anak menjadi sumber kekesalan orangtua.

Anak tidak bermimpi hidup bersama dengan orangtua.

Hal-hal inikah yang engkau inginkan, duhai orangtua ?

Ingatlah, jiwa anakmu lebih mahal dari apa pun termahal yang ada di dunia

Jaga lisan dan perlakukanmu kepada anakmu.

……………………………………………………………………………..

Kenal BAKAT sejak DINI lebih FOKUS mewujudkan PRESTASI

……………………………………………………………………………..

Yuk Bunda, Hargai dan Kenali Si Buah Hati dengan “5 RUDI”

Banyak ayah-bunda yang meninginkan kesuksesannya diwariskan kepada putra-putrinya. Keinginan tersebut tidak sepenuhnya salah. Bahwa setiap orangtua menghendaki anaknya sukses itu benar, namun tidak semua kesuksesan berada pada bidang keahlian yang sama. Setiap orang adalah unik, maka biarlah ia menjadi diri mereka sendiri, dan biarlah mereka memilih tempat yang sesuai dengan bakat dan minatnya.

Berikut ini ada artikel yang dapat menjelaskan hal tersebut (Mohon di KLIK di bawah ini):

https://www.haibunda.com/psikologi/d-3571895/yuk-bun-hargai-kemampuan-si-kecil-dengan-melihat-5-rudi

Semoga bermanfaat, salam hangat untuk ayah-bunda Indonesia.

Yogyakarta, Selasa, 25 Juli 2017

Kenal BAKAT sejak DINI lebih FOKUS mewujudkan PRESTASI

Info Tes Bakat Sidikjari DMI:

Telp/WA: 085-643-383838 ; 0822-4022-5454

Teguh Sunaryo DMI.

SURAT GURU UNTUK PARA ORANGTUA SISWA

Moment pasca ujian sekolah

Dengan hormat,

Bersyukur melalui surat ini kami menjumpai Bpk/Ibu/ Sdr. Orang tua/ Wali terbaik yang terus mendukung putra/ putri meraih prestasi, bersinergi bersama kami.

Bersama surat ini kami sampaikan bahwa, Ujian anak Anda telah selesai. Saya tahu Anda cemas dan berharap anak Anda berhasil dalam ujiannya.

Tapi, mohon diingat, di tengah-tengah para pelajar yang menjalani ujian itu, ada calon seniman, yang tidak perlu mengerti Matematika.

Ada calon pengusaha, yang tidak butuh pelajaran Sejarah atau Sastra. Ada calon musisi, yang nilai Kimia-nya tidak berarti. Ada calon olahragawan, yang lebih mementingkan fisik daripada fisika… di sekolah. Ada calon photografer yang lebih berkarakter dengan sudut pandang art berbeda yang tentunya ilmunya bukan dari sekolah ini.

Sekiranya anak Anda lulus jadi yang teratas, hebat! Tapi bila tidak, mohon jangan rampas rasa percaya diri dan harga diri mereka. Katakan saja: “Tidak apa-apa, itu hanya sekedar ujian.”

Anak-anak itu diciptakan untuk sesuatu yang lebih besar lagi dalam hidup ini. Katakan pada mereka, tidak penting berapapun nilai ujian mereka, Anda mencintai mereka dan tak akan menghakimi mereka.

Lakukanlah ini, dan disaat itu, lihatlah anak Anda menaklukkan dunia. Sebuah ujian atau nilai rendah tak akan mencabut impian dan bakat mereka. Dan mohon, berhentilah berpikir bahwa hanya dokter dan insinyur yang bahagia di dunia ini.

Semoga surat ini bermanfaat dan dapat menyadarkan kita tentang sudut pandang terhadap anak-anak kita.

Semoga anak-anak Anda sukses besar pada bidang keahliannya, amin.

Mohon maaf apabila kurang berkenan.

Salam hormat dari kami “Guru peduli anak dan bakat terpendamnya”

Animals Schooling

Renungan Menyongsong Tahun Pelajaran Baru

Di sebuah hutan belantara berdirilah sebuah sekolah para binatang.

Statusnya “disamakan” dengan sekolah manusia.

Kurikulum sekolah tersebut mewajibkan setiap siswa lulus semua pelajaran dan mendapatkan ijazah.

Terdapat 5 mata pelajaran dalam sekolah tersebut:
a. Terbang
b. Berenang
c. Memanjat
d. Berlari
e. Menyelam

Banyak siswa yang bersekolah di “animals schooling”, ada elang, tupai, bebek, rusa dan katak.

Terlihat di awal masuk sekolah, masing masing siswa memiliki keunggulan pada mata pelajaran tertentu.

Elang, sangat unggul dalam terbang. Dia memiliki kemampuan yang berada di atas kemampuan binatang lain.

Demikian juga katak, sangat mahir pada pelajaran menyelam.

Namun, beberapa waktu kemudian karena “animals schooling” mewajibkan semua harus lulus 5 Mapel.

Maka mulailah si Elang belajar memanjat dan berlari.

Tupai pun berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi karena belajar terbang.

Bebek seringkali ditertawakan meski sudah bisa berlari dan sedikit terbang. Namun sudah mulai tampak putus asa ketika mengikuti pelajaran memanjat.

Semua siswa berusaha dengan susah payah namun belum juga menunjukkan hasil yang lebih baik.

Tidak ada siswa yang menguasai 5 mapel tersebut dengan sempurna.

Kini, lama kelamaan.
Tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat berenang dengan baik karena sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek, karena terlalu sering belajar memanjat.

Kondisi inilah yang saat ini terjadi mirip dengan kondisi pendidikan anak-anak kita.
Orangtua berharap anaknya serba bisa.
Sangat stress ketika matematikanya dapat nilai 5.

Les A, Kursus B, Les C, kursus D, private E dan sebagainya dan berjibun kegiatan lain tanpa memperhatikan dan tidak fokus pada potensi anaknya masing masing.

Mari kita syukuri karunia luar biasa yang sudah Allah amanahkan kepada para orangtua yang memiliki anak-anak yang sehat dan lucu.

Setiap anak memiliki belahan otak dominannya masing masing.

Ada yang dominan di limbik kiri, neokortek kiri, limbik kanan, neokortek kanan, juga batang otak.

Sehingga masing masing memiliki kelebihannya sendiri sendiri.

Fokuslah dengan kelebihan itu, kawal, stimulasi dan senantiasa fasilitasi agar terus berkembang.

Janganlah kita disibukkan dengan kekurangannya.

Karena sesungguhnya setiap anak yang terlahir di dunia ini adalah cerdas (di kelebihannya masing-masing), istimewa dan mereka adalah Bintang yang bersinar di antara kegelapan Malam.

Inilah saatnya kita bergandeng tangan menggali potensi diri anak dan anak didik kita seoptimal mungkin dengan Tes Bakat yang menurut anda dapat dipercaya.

Selamat berjuang Bapak Ibu Guru, Ayah dan Bunda. Semoga Allah mudahkan segala urusan kita mengiringi kesuksesan peserta didik serta ananda kelak di dunia dan di akhirat. Aamiin
________

ILUSTRASI KECERDASAN MAJEMUK

Dikembangkan oleh Prof. Howard Gardner, Ph. D.

Dipapan tulis, saya menggambar sebatang pohon kelapa ditepi pantai, lalu
sebutir kelapa yang jatuh dari tangkainya.

Kemudian saya bercerita tentang 4 anak yang mengamati fenomena alam “jatuhnya
buah kelapa” ditepi pantai itu.

Anak ke 1: Dengan cekatan dia mengambil secarik kertas, membuat
bidang segi tiga, menentukan sudut, mengira berat kelapa, dan dengan
rumus matematikanya anak ini menjelaskan hasil perhitungan ketinggian
pohon kelapa, dan energi potensial yang dihasilkan dari kelapa yang jatuh
lengkap dengan persamaan matematis dan fisika.

Lalu psycholog tanya ke siswa sy? Apakah anak ini cerdas?… dijawab
serentak sekelas … iya … dia anak yang cerdas sekali. Lalu sy
lanjutkan cerita …

Anak ke 2: Dengan gesit anak ke dua ini datang memungut kelapa yang
jatuh dan bergegas membawanya ke pasar, lalu menawarkan kepedagang dan
dia bersorak … yesss … laku Rp 8.000.

Kembali saya bertanya ke anak-anak dikelas … apakah anak ini cerdas?…
anak-anak menjawab iyaa … dia anak yang cerdas. Lalu saya lanjutkan cerita

Anak ke 3: Dengan cekatan, dia ambil kelapanya kemudian dia bawa
keliling sambil menanyakan, pohon kelapa itu milik siapa? Ini
kelapanya jatuh mau saya kembalikan kepada yang punya pohon.

Saya bertanya kepada anak-anak… apakah anak ini cerdas?… anak-anak mantap
menjawab … iya … dia anak yang cerdas.
Sayapun melanjutkan cerita ke empat …

Anak ke 4: Dengan cekatan, dia mengambil kelapanya kemudian dia
melihat ada seorang kakek yang tengah kepanasan dan berteduh dipinggir
jalan. “Kek, ini ada kelapa jatuh, tadi saya menemukannya, kakek boleh
meminum dan memakan buah kelapanya”.

Lalu saya bertanya … apakah anak ini, anak yang cerdas? anak-anak menjawab,
yaa … dia anak yang cerdas.

Anak-anak menyakini bahwa semua cerita diatas menunjukan anak yang cerdas.

Mereka jujur mengakui bahwa setiap anak memiliki “Kecerdasan-unik-nya”.
Dan mereka ingin dihargai “Kecerdasan-unik-nya” tersebut. …
Namun … yang sering terjadi … kita para orang tua dan pendidik,
menilai kecerdasan anak hanya dari satu sisi, yakni ? “Kecerdasan Anak
Pertama, Kecerdasan Akademik”, Lebih parahnya, kecerdasan yang
dianggap oleh negara adalah kecerdasan anak pertama yang diukur dari
nilai saat mengerjakan UNAS.

Sedang … “Kecerdasan Finansial” (anak no 2), “Kecerdasan Karakter”
(anak no 3) dan “Kecerdasan Sosial” (anak no 4). Belum ada ruang yang
diberikan Negara untuk mengakui kecerdasan mereka; mereka adalah anak kandung
negara yang belum diberi ruang untuk diakui.

Saya jadi ingat, cerita ini, dulu sering kami jadikan olok-olokan saat
SMA, antara anak IPA dan anak IPS, siapa yg sebenarnya cerdas?

Bapak Ibu … anak Bapak Ibu semuanya adalah anak-anak yang cerdas dengan
“Keunikan Kecerdasan-nya” masing-masing … hargai dan jangan samakan dengan orang
lain atau bahkan dengan diri anda sendiri.

Mari hargai kecerdasan (bakat) anak kita masing-masing, dan siapkan mereka untuk zaman
dimana mereka akan hidup kelak.

Strategi bisa dipelajari, sedangkan bakat tidak bisa diduplikasi.

Kenal BAKAT sejak DINI lebih FOKUS mewujudkan PRESTASI⁠⁠⁠⁠.

Perubahan Jam Kerja Tahun 2017

Diberitahukan kepada seluruh Kantor Cabang DMI INDONESIA dan para pengguna jasa Tes Deteksi Bakat Sidikjari DMI, bahwa Kantor Pusat Operasional (Head Office) DMI INDONESIA Pusat, sejak hari Senin, 8 Mei 2017 dan seterusnya, buka kerja untuk melayani masyarakat pada :

A. Hari Kerja Operasional Manajemen & Tes Bakat DMI:

  • Hari Kerja : Senin – Jumat (Pkl. 09.00 – 17.00 WIB)
  • Hari Kerja : Sabtu (Pkl. 09.00 – 15.00 WIB)
  • Hari Libur : Minggu dan Hari Libur Nasional

B. Hari Kerja Layanan Konsultasi Psikologi DMI:

  • Hari Kerja : Senin – Sabtu (Pkl. 13.00 – 17.00 WIB)
  • Hari Libur : Minggu dan Hari Libur Nasional

Bagi yang ingin berkonsultasi, akan lebih baik jika berkenan menelpon terlebih dahulu kepada para konsultan psikologi DMI yang selama ini telah menjalin komunikasi atau kepada:

  • Koordinator Konsultan DMI: Ibu Nurmey Nurulhaq (Mbak Rully): 0813 2604 4480
  • Manajemen DMI: Kantor: 0274-625 168; Isworo Gunarsih: 0812 2785 916; Bambang Hastobroto: 0812 2693 277; Eko Yulianto: 085 328 012345; Teguh Sunaryo: 088 8686 6464; 085 643 383838; WA: 085 775 900 600

Demikian pemberitahuan ini disampaikan dan diumumkan di hadapan publik agar diketahui dan menjadi maklum adanya. Terimakasih atas kerjasamanya selama ini dan salam sukses selalu.

Yogyakarta, Jumat 12 Mei 2017.

TTD

Manajemen Kantor Pusat DMI INDONESIA

Kiat Belajar Efektif

Pengantar:

Setiap menjelang ujian nasional atau masuk pendaftaran ke perguruan tinggi, banyak orang terlibat dalam mempersiapkan atau memperbincangkan kondisi dan situasi tentang kesiapan putra-putrinya atau para siswa di suatu sekolah. Perbincangan tersebut dilakukan oleh para orangtua siswa atau wali murid, oleh para pendidik atau para pengamat dunia pendidikan.

Evaluasi diri dan Peta diri:

Sebelum menyarankan atau menggunakan suatu saran dari pihak manapun ada baiknya setiap guru atau orangtua murid bahkan murid atau siswanya itu sendiri wajib mengetahui dimana peta kemampuan akademisnya di dalam suatu kelas. Gambaran fakta tentang peta dirinya di dalam kelasnya merupakan realitas yang nyata yang perlu di eavaluasi kemudian diberikan alternative solusi sesuai dengan posisi peta dirinya, inilah yang disebut diagnose kemampuan akademik atau evaluasi diri kinerja akademisnya selama ini.

Seseorang yang sakit mata tentu obatnya bukan obat untuk penyakit kulit. Orang yang sakit kulit yang tidak parah tentu dosisnya juga berbeda jika dibandingkan dengan seseorang yang sedang sama-sama sakit kulit namun kondisinya sudah terlalu parah. Demikian pula posisi seorang siswa di dalam kelasnya. Jika posisi di dalam kelas saja ia tidak mau peduli, bagaimana mungkin bisa berkompetisi dengan baik di dalam ruang kelas yang maha luas dan besar diantara banyak sekolah, banyak kota dan banyak propinsi se-Indonesia?

Untuk memetakan kemampuan akademis di sebuah kelas, cukup dibedakan menjadi tiga level kemampuan akademisnya, antara lain: (a) 10 Papan ATAS yakni rangking 1-10; (b) 10 Papan TENGAH yakni rangking 11-20; (c) 10 Papan BAWAH yakni rangking 21-30.  Dimana posisi saya? Dimana posisi anak saya? Dimana posisi siswa saya? Ketika rangkingnya berbeda maka alternative solusinya juga berbeda.

Jika posisi kita di dalam satu kelas saja sudah kedodoran, bagaimana mungkin akan berkompetisi diantara banyak kelas atau banyak sekolahan?

Bagi yang posisinya masuk papan atas, masih ada tahap evaluasi berikutnya dengan membandingkan kualitas atau rangking antara sekolah, dilevel berapa rangking sekolahan kita? Kemudian berapa besar nilai Ujian Nasional kita?

Jika dengan cara tersebut masih membingungkan maka kita bisa menggunakan nilai Ujian Nasional saja. Ini akan efektif digunakan jika nilai ujian nasional berbanding lurus dengan nilai rata-rata raport selama sekolah. Jika nilai ujian nasional dan nilai rata-rata raport tidak konsisten, maka nilai ujian nasional bisa disebut nilai “kebetulan” saja, maka tidak layak digunakan sebagai acuan.

Faktor penghambat:

Bagi siswa yang akan masuk ke perguruan tinggi, maka ketika naik kekelas 12 sudah mulai focus belajar hanya dan hanya untuk persiapan masuk ke perguruan tinggi saja. Untuk siswa yang rangkingnya masuk pada level rangking tengah atau bawah maka baginya wajib focus dan wajib meninggalkan semua hal yang tidak ada hubungannya dengan sukses ujian nasional atau sukses masuk ke perguruan tinggi. Bank soal ujian nasional dan bank soal masuk ke perguruan tinggi wajib dikoleksi dan dipelajari. Sedangkan beberapa kegiatan yang wajib ditinggalkan selama satu tahun adalah ikut kompetisi atau bermain olahraga, ikut kompetisi atau bermain kesenian, dan lain-lain, kecuali bagi mereka yang ingin hidup dan berprofesi dibindang olahraga atau dibidang kesenian.

Selama kelas 6, kelas 9 dan kelas 12, bagi yang rangkingnya jelas-jelas rendah (papan tengah atau papan bawah) tinggalkan handphone, tinggalkan smartphone, tinggalkan internet-kecuali untuk mencari informasi tentang jadwal ujian nasional atau jadwal pendaftaran ujian masuk ke perguruan tinggi yang diminati.

Faktor pendukung:

Bagi siswa pada level tengah dan bawah bergaullah dengan siswa yang pandai-pandai yang ada pada level atas. Koleksilah dan pelajarilah dari sebanyak-banyaknya bank soal ujian nasional dan bank soal ujian masuk ke perguruan tinggi. Sering-seringlah ikut try-out yang diselenggarakan oleh sekolah maupun oleh lembaga bimbingan belajar agar tidak menjadi jago kandang saja, apalagi sudah bukan jago merasa jagoan, ini sangat berbahaya menuai kegagalan. Untuk siswa yang berada pada level atas tidak ikut bimbel tidak masalah, namun tetap ikut try-out dan tetap rajin belajar dan tidak sombong, sedangkan bagi siswa yang berada pada level tengah dan level bawah maka baginya wajib ikut bimbel yang professional.

Upaya mengetahui Bakat dan Minat:

Setelah kemampuan akademis diketahui dan diupayakan untuk terus ditingkatkan, maka tugas berikutnya adalah mengetahui bakat dan minatnya. Banyak orang pintar kesasar masuk ke suatu jurusan atau fakultas, hingga ia mudah bosan, mudah jenuh dan tidak bergairah dalam menuntaskan sekolahnya atau kuliahnya. Maka banyak biaya dan waktu terbuang begitu saja. Bagaimana dengan siswa yang sudah tidak pintar masih kesasar pula? Inilah pentingnya bagi semua siswa untuk mengetahui bakat dan minatnya.

Ada tiga cara ilmu pengetahuan untuk mengetahui bakat seseorang. Pertama dengan cara Eksplorasi, yakni serba coba-coba, learning by doing, dan experiences. Kedua dengan cara Observasi, menggunakan alat ukur psikotest. Ketiga dengan cara Deteksi, yakni dengan deteksi bakat sidikjari DMI.

Mohon maaf jika tidak berkenan, semoga bermanfaat dan salam sukses selalu ..Aamiin YRA.

Terimakasih.

Yogyakarta, Sabtu, 16 Juli 2016

Teguh Sunaryo

SMS: 085 643 383838 ; WA: 088 8686 6464

Artikel lainnya ada di : www.dmiindonesia.com dan di : www.dmiprimagamapusat.wordpress.com  .

…………………….

Lima Prinsip Deteksi Bakat Sidikjari DMI

Oleh Teguh Sunaryo

(Direktur Lembaga Deteksi Bakat Sidikjari DMI)

……………………………………………………………………………………………………………….

Ada lima prinsip yang perlu dipahami oleh para testee (peserta tes DMI) sebelum membaca Hasil Deteksi Bakat Sidikjari DMI yang ada dalam Buku Assessment Report DMI:

  1. Developing no change: Bakat yang telah ada dan telah diketahui adalah untuk dikembangkan, bukan untuk diubah. Setiap perubahan bisa ke arah positif (tumbuh-kembang) namun juga bisa menjadi negative (tidak tumbuh dan tidak berkemabng). Namun jika berkembang – dan itu berdasarkan bakat unggulnya – maka seseorang akan menuju kepada perubahan yang lebih positif. Setiap perubahan belum tentu berkembang, sedangkan setiap perkembangan pastilah mengalami perubahan, dan perubahan tersebut menuju ke arah yang lebih baik dan lebih berdaya guna.
  2. Convergen no divergen: Fokuslah pada bakat, sedangkan minat sewajarnya menyesuaikan pada bakat. Bakat merupakan potensi inherent yang dibawa oleh seseorang sejak dilahirkan. Sedangkan minat merupakan pengaruh lingkungan dan kebiasaan dari seseorang yang mudah muncul dan mudah pula hilang (bosan) berdasarkan hal yang sedang trend di masyarakat. Jika seseorang fokus pada bakat kuatnya maka ia akan hidup lebih efektif, efisien dan produktif.
  3. Strength Approach no defisite Approach: Utamakanlah bakat yang lebih kuat (unggul), karena bakat yang lemah akan mengikuti laju perkembangan bakat yang kuat. Mengembangkan bakat yang lebih kuat akan lebih mudah dilakukan daripada mengembangkan bakat yang lemah. Tuluslah menerima kelemahan sekaligus bangga mengembangkan bakat yang kuat. Setiap pribadi pasti punya kelemahan sekaligus kekuatan. Banyak orang gagal memiliki keahlian dan kompetensi, atau bahkan gagal sukses karena sibuk dengan kelemahannya dan lupa terhadap bakat kuat yang telah dimilikinya.
  4. Optimist no pessimist: Bangga terhadap bakat kuat akan menimbulkan rasa optimisme baru. Rasa optimis yang ada jika dipadukan dengan bakat yang kuat maka akan menimbulkan prestasi maksimal yang diharapkan. Optimisme dapat muncul karena tumbuhnya minat yang selaras dengan bakatnya. Dan minat yang positif adalah yang sesuai dengan bakat kuatnya yang diikuti dengan rasa optimisme. Orang yang optimis akan gembira mendapatkan penugasan-penugasan dalam melaksanakan pekerjaannya.
  5. Proportional no balance: Bakat unggul dan kelompok usia (Golden-age; Midle-age; Adult-age) yang berbeda antar satu orang dengan orang lainnya, akan menuntut penanganan dan perlakuan yang berbeda pula (proportional). Setiap pribadi adalah unik (individual differences) itulah pentingnya seseorang ditempatkan sesuai dengan keunikan bakat dan minatnya (the right man on the right place). Sukses adalah kombinasi optimal antara bakat, minat dan cara hidup yang sehat. Dan puncak sukses adalah menjadi yang terbaik (maksimal) pada bidangnya (spesialisasi) dan bermanfaat (added value) bagi diri sendiri dan orang lain disekitarnya (di keluarga, di masyarakat, di tempat bekerja).

Semoga kita dan generasi yang akan datang dapat lebih berkembang berdasarkan bakat dan minatnya masing-masing. Jadilah dirimu sendiri (be your self) yang memiliki keunggulan bersaing positif yang berbeda dari yang lainnya (competitive advantage).
…………………………………………………………….

Dipersembahkan oleh:

Manajemen PT. DMI Indonesia

GRAHA POGUNG LOR, NO. 2 – 4, LT. 1;

Jl. Ringroad Utara, Pogung Lor, Yogyakarta
Telp : (0274) 625 168 ; 530 6600 ; 530 6601
Fax : (0274) 530 6602

…………………………………………………………….

Psikologi Politik : Pasca pilpres RI tanggal 9 Juli 2014 dan Pelantikan Presiden tanggal 20 Okt 2014

Oleh : Teguh Sunaryo
Disampaikan pada Agenda Kolokium STiPsi Jogja, Jumat, 20 Maret 2015

1. Pengantar :

Dari sekian kali Indonesia menyelenggarakan pilpres, baru kali ini peserta capresnya (kandidatnya) hanya dua pasang saja. Sehingga “keunikan” yang ada sungguh-sungguh bisa dirasakan bedanya. Diantara beda yang mencolok adalah : (1) perang urat syaraf di media online. Masing-masing kubu saling menjelekkan satu sama lainnya. Website yang kaitannya dengan dua pasangan capres tiba-tiba muncul begitu banyaknya. Bahkan ada sebuah tabloid yang terang-terangan menjelekkan lawan politiknya. Perbedaan lainnya adalah (2) munculnya pengamat politik yang sebelumnya tidak pernah kita jumpai, yaitu bapak Prof. DR. Hamdi Muluk yang memberikan hasil pengamatannya melalui sudut pandang cabang ilmu psikologi politik. Dari kreatifitas beliau inilah istilah “psikologi politik” menjadi lebih popular. Beliau sering menyampaikan hasil pengamatan dan komentarnya melalui media TV. (3) adanya gugatan di meja hijau MK untuk pengambilan keputusan siapakah pemenang yang sah untuk menjadi presiden terpilih.

Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan isi tulisan dari aspek psikologi politik terhadap perilaku elit politik maupun para pendukungnya dalam kancah pilpres 9 juli 2014 dan pasca pelantikan presiden terpilih pada tanggal 20 Oktober 2014.

2. Definisi :

Ilmu psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Karena jiwa itu abstrak maka didekati melalui gejala kejiwaan seseorang melalui perilakunya secara ilmiah. Menurut Sartain : “Psikologi merupakan ilmu jiwa yang ilmiah yang scientifics”. Sedangkan menurut Morgan : “Psikologi sebagai suatu ilmu jiwa yang bersifat ilmiah yang didekati dengan penelitian yang dijalankan secara terencana, sistematis, terkontrol dan data empiris” (Sumber: Prof. Dr. Bimo Walgito, “Pengantar Psikologi Umum”, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2004, hal 2).

Ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari perihal negara dan bagaimana cara meraih sebuah kekuasaan dalam suatu system pemerintahan di suatu daerah atau Negara. Menurut Rod Haque : “Politik adalah kegiatan yang menyangkut cara bagaimana kelompok-kelompok mencapai keputusan-keputusan yang bersifat kolektif dan mengikat melalui usaha untuk mendamaikan perbedaan-perbedaan diantara anggota-anggotanya”. Sedangkan menurut Andrew Heywood: “Politik adalah kegiatan usaha suatu bangsa yang bertujuan untuk membuat, mempertahankan, dan mengamandemen peraturan-peraturan umum yang mengatur kehidupannya, yang berarti tidak dapat terlepas dari gejala konflik dan kerjasama. (Sumber: Prof. Dr. Miriam Budiardjo, “Dasar-Dasar Ilmu Politik”, Penerbit Gramedia, Jakarta, Edisi Revisi, Cetakan keempat, Oktober 2010, hal 16).

“Psikologi politik adalah penggabungan dari dua displin ilmu yang masing-masing mempunyai pengertian yang berbeda”. (Sumber: http://www.academia.edu/5603392/Psikologi_Politik_FINAL). Dan juga “Psikologi politik merupakan bidang interdisiplin yang tujuan substantive dasarnya adalah menyingkap kesaling-terkaitan antara proses psikologi dan proses politik”. (Sumber: http://arti-definisi-pengertian.info/arti-psikologi-politik/) Obyek utama psikologi dan politik ada yang sama yakni tentang manusia dan organisasi, yang berbeda adalah cara pandangnya. Psikologi dengan cara pandang aspek kejiwaan sedangkan politik dari sudut pandang aspek kekuasaan. Sudut pandang psikologi politik adalah aspek “jiwa yang berkuasa” yang meliputi kesehatan jiwa yang berkuasa (perilaku penguasanya) dan kesehatan jiwa (perilaku) organisasinya.

3. Saling menghasut di media online :

Pada media online seperti dimedia social facebooke, tweeter, webblog, website dan di youtube banyak sekali kampanye bersifat negative daripada yang bersifat pujian. Ini menggambarkan bahwa ketika sang penulis menyampaikan pendapatnya tanpa diketahui identitas aslinya ia akan menggunakan dengan semaunya. Mereka merasa tidak ada yang mengawasi sehingga bebas mengaktualisasikan persepsi dan pikirannya sendiri. Kepribadian seperti ini jika dibiarkan maka akan membentuk sebuah kebiasaan yang buruk dan bisa merusak diri sendiri serta pihak lain. Dan jika dibiarkan terus terjadi, maka tanpa sadar akan menciptakan pribadi-pribadi yang tidak bertanggungjawab. Mereka merasa bahwa untuk mendapatkan kekuasaan atau untuk memenangkan persaingan boleh menggunakan segala cara. Jika mereka menang maka akan memimpin dengan cara arogan. Dan jika pelakunya adalah para pendukungnya maka mereka akan anarkis jika capresnya kalah. Interaksi social harus didorong kearah yang lebih positif bukan yang negatif sebagaimana pendapat “Interaksi social merupakan hubungan-hubungan social yang dinamis menyangkut hubungan antara orang-orang perorang, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorang dengan kelompok manusia. Mereka saling menegur, berjabat tangan, saling berbicara bahkan mugkin saling berkelahi” (Sumber: Prof. Dr. Soerjono Soekanto, “Sosiologi Suatu Pengantar”, Penerbit Rajawali Pers, Jakarta, Cetakan keempatbelas, September 1991, hal 67).

4. Berebut dekat pada pondok pesantren :

Beda di online beda pula di offline. Di online kampanye berjalan sangat tidak sopan dan mengumbar fitnah, sedangkan di dunia nyata (offline) relative lebih santun. Bahkan antar kedua kandidat tetap bisa saling memuji. Mereka rajin menemui para kiayi besar yang memiliki kantung suara yang juga besar. Ada kecenderung kedekatan para capres kepada para kiayi lebih pada aspek motivasi mendulang suara daripada menimba ilmu akhirat. Keadaan ini sebenarnya masih bisa diperbaiki walau memerlukan waktu yang lama, yakni menyadarkan para pemilih pemula sejak dini. Para capres merasa wajar mendekati para kiayi dan santrinya, karena mereka dituntut setor suara. Suara terbanyak dalam pilpres menentukan siapa pemenangnya. Indonesia adalah Negara hukum yang warga negaranya adalah mayoritas beragama Islam, suara Islam adalah suara mayoritas, maka wajar menjadi prioritas perebutan dalam mendulang suara.

5. Debat capres secara langsung di TV :

Media elektronik yang digunakan dengan relative santun adalah media televisi. Iklannya sopan dan debat capresnya juga sangat mendidik. Mereka para capres saling beradu argument dengan ketrampilannya masing-masing, dan para pemirsa bebas menentukan pilihannya. Ada yang tertarik karena ketegasannya, ada yang karena kelugasannya. Ada yang tertarik karena kecerdasannya dan ada yang tertarik kare tutur bahasanya. Semua ada plus minusnya, tetapi tidak ada kampanye hitam dalam media ini.

6. Saling merasa benar hingga ke meja hijau melalui MK :

Setelah pemilihan berjalan, dan penghitungan suara tiba, maka muncullah saling klaim siapa pemenangnya. Kaidah konstitusi tidak lagi dihiraukan. Punya hak atau tidak punya hak dalam mengumumkan siapa pemenangnya mereka saling adu klaim sendiri-sendiri. Masing-masing tim sukses mengumumkan menjadi pemenangnya melalui lembaga hitung quick count di televisi. Masing-masing pihak menggunakan jasa hitung cepat sendiri-sendiri. Membayar sendiri-sendiri. Sungguh untuk urusan ini pilpres di Indonesia telah masuk pada pasar demokrasi bebas tanpa kendali. Dampaknya saat pengumuman calon pemenangnya oleh lembaga resmi (KPU) pun diprotes dan diajukan di meja hijau. Sidang berjalan dengan menghadirkan banyak saksi dari masing-masing pihak dari sebagian besar pemilih di Indonesia. Tentu menelan biaya besar dan waktu yang lama.

7. Saling membentuk partai Koalisi :

Setelah pelantikan presiden terpilih pada tanggal 20 Oktober 2014, konflik antara pihak yang kalah dengan pihak yang menang saat pilpres, masih berkelanjutan di DPR-RI. Pihak yang menang pilpres diwakili oleh partai pengusung capres pemenangnya yaitu partai PDIP yang dipimpin oleh Megawati, Nasdem dipimpin oleh Sura Paloh, PKB dipimpin oleh Muhaimin Iskandar, Hanura di pimpin oleh Wiranto, dan PKPI dipimpin oleh Sutiyoso. Kemudian mereka pemenang pilpres menamakan diri sebagai Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Sedangkan pihak yang kalah pilpres menamakan diri sebagai Koalisi Merah Putih (KMP) yang terdiri dari partai Gerindra yang dipimpin oleh Prabowo Subiyanto sebagai ketua umum gerindra sekaligus capres yang kalah, Golkar yang dipimpin oleh Aburizal Bakri, PAN yang dipimpin oleh Hatta Rajasa yang juga sebagai cawapres yang gagal, PPP yang dipimpin oleh Surya Darma Ali, PKS yang dipimpin oleh Anis Matta. Ada satu partai yang memilih di luar koalisi yaitu Demokrat. Demokrat bisa disebut partai cerdas karena pandai mengambil peluang, kesempatan dan posisi, ketika “lawan” politiknya sedang berseteru secara seimbang, atau mencla-mencle ke sana ke sini. Namun jika Demokrat bersedia memilih secara tegas diantara dua koalisi yang ada, maka perseteruan antara KIH dan KMP akan lebih cepat selesai, lantas pertanyaannya Demokrat akan dapat apa? Dan siapa yang akan memberinya?. Berpolitik yang santun dan benar memang harus melibatkan rasa-jiwa dan logika, namun jangan sampai mengabaikan kepentingan bangsa dan Negara.

8. Analisa Psikologi :

Diawali dengan adanya demokrasi terbuka atau demokrasi yang bebas serta adanya media online yang setiap orang leluasa mengakses, kegaduhan ditingkat isu hitam (black campaign) selalu terjadi. Ketidak-nyamanan dan saling mengancam menjadi kegetiran dari aspek kejiwaan, dan aspek etika tidak lagi diindahkan. Kekuatan kedua kubu koalisi nyaris seimbang, hanya selisih 3% dari angka 50% sebagai angka yang seimbang, (KIH menang pilpres 53%, lebih 3% dari 50%, dan KMP kalah pilpres 47%, kurang 3 % dari 50%; selisih totalnya adalah 6% suara). Dalam teori manajemen konflik jika kekuatan para pihak yang berselisih seimbang, maka konflik akan semakin lama selesainya dan semakin berlaurt-larut. Dari aspek psikologis keadaan seperti itu akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi penguasa untuk bekerja dalam rangka merealisasikan janji kampanyenya. Dampaknya yang menjadi korban ikutannya adalah kesejahteraan rakyat yang terabaikan. Mereka elit politik saling menyandera dan lalai memikirkan kesejahteraan rakyatnya, mereka tetap gajian dan rakyatnya menjadi penonton pertengkaran, suatu kondisi yang sangat ironis dan miris.

9. Analisa Politik :

Azas hukum (peraturan perundangan) tidak digunakan dengan konsisten, moral para politikus masih terus perlu diperbaiki, korupsi terjadi dihampir semua partai politik. Sanksi hukum tidak membuat takut para pelanggarnya karena tidak berat akibatnya, UU parpol dan UU hukum saling bertabrakan dan multitafsir, menjadi sumber ketidakjelasan dalam penyelesaian permasalahan. Atau karena manusia memang tidak pernah bisa membuat sesuatu yang abadi sebagaimana tidak abadinya konstitusi buatan manusia yang disampaikan oleh Jean Jacques Rousseau dalam buku politiknya Kontrak Sosial, “Negara hukum akan mati sebagaimana matinya tubuh manusia. Pada kenyataannya manusia tidak mampu membuat sesuatu yang abadi. Yang bisa dilakukan manusia adalah hanya berusaha membuat organisasi (tubuh) untuk semakin lebih lama bertahan hidup”. (Sumber : Jean Jacques Rousseau, “Kontrak Sosial terjemah The Social Contract”, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1986, hal 77).

10. Kesimpulan :

  1. Kesempatan untuk berkarir di dunia politik sangat terbuka lebar bagi siapa saja, karena dibolehkan dari latar belakang ilmu apa saja, fakultas apa saja, bahkan tamat SMA pun bisa. Lowongannya juga sangat besar jumlahnya, ada di dewan sebagai wakil rakyat tingkat kabupaten, tingkat kota, tingkat provinsi dan tingkat nasional. Maka kajian ilmu psikologi politik menjadi suatu prosfek yang menarik sekaligus menantang untuk digeluti bagi para sarjana lulusan bidang ilmu psikologi dan bidang ilmu politik.
  2. Motif dibentuknya Negara adalah untuk menciptakan kebersamaan dan kesejahteraan; keamanan dan kedamain; bukan tontonan pertengkaran dan korupsi besar-besaran; bukan pula diplomasi kepalsuan dan peperangan yang menelan banyak korban nyawa manusia.
  3. Pendidikan politik melalui interaksi sosial dan program yang terencana, serta penjiwaan berpolitik sebagai suatu kesadaran diri melalui “cabang ilmu baru” – psikologi politik – merupakan variasi upaya, agar lebih optimal, agar tercipta politik kekuasaan yang santun dan berkeadilan, transparan dan penuh rasa tanggungjawab secara moral, material dan nilai-nilai transcendental.
  4. Negara banyak didirikan oleh mereka yang berpikir dan bertindak secara sekuler, sebagaimana pendapat Niccolo Machiavelli yang banyak diikuti. Satu sisi agama dianggap memegang peranan penting dalam mempersatukan Negara, namun disisi lain agama harus tunduk pada Negara: “Oleh karena itu dalam mempertahankan kekuasaan Negara, agama harus tunduk pada Negara. Agama menurut kesaksian sejarah memainkan peranan penting dalam mempersatukan suatu Negara” (Sumber: Niccolo Machiavelli, “Sang Penguasa Surat Seorang Negarawan Kepada Pemimpin Republik terjemah Il Principe”, Penerbit Gramedia, Jakarta, 1987, hal xxxvii). Masih menurut buku tersebut bahwa “Lembaga-lembaga agama hanyalah sarana-sarana atau alat-alat yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga tata tertib yang berlaku”. Machiavelli bukan seorang atheis namun pemikirannya betul-betul bercorak sekuler.

Referensi :

  1. Prof. Dr. Bimo Walgito, “Pengantar Psikologi Umum”, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2004.
  2. Prof. Dr. Miriam Budiardjo, “Dasar-Dasar Ilmu Politik”, Penerbit Gramedia, Jakarta, Edisi Revisi, Cetakan keempat, Oktober 2010.
  3. Prof. Dr. Soerjono Soekanto, “Sosiologi Suatu Pengantar”, Penerbit Rajawali Pers, Jakarta, Cetakan keempatbelas, September 1991.
  4. Jean Jacques Rousseau, “Kontrak Sosial terjemah The Social Contract”, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1986.
  5. Niccolo Machiavelli, “Sang Penguasa Surat Seorang Negarawan Kepada Pemimpin Republik terjemah Il Principe”, Penerbit Gramedia, Jakarta, 1987
  6. http://www.academia.edu/5603392/Psikologi_Politik_FINAL
  7. http://arti-definisi-pengertian.info/arti-psikologi-politik/

……………………………………………………………

Supported by : http://www.dmiindonesia.com

……………………………………………………………

Membangun Komunikasi Ortu dan Anak Berdasar Potensi dan Bakat Anak

1 Pengantar :

Salah satu permasalahan dari sekian banyak permasalahan yang ada, yang sering dihadapi para orangtua terhadap para-putrinya adalah tentang berkomunikasi dengan para putra-putrinya. Tentu komunikasi yang baik adalah berorientasi kepada mitra komunikasi kita, dalam hal ini adalah dengan anak-anak kita. Upaya membangun komunikasi yang efektif adalah jika antara pemberi pesan dengan penerima pesan terjalin secara harmonis dan bisa dengan mudah memahami pesan yang akan disampaikan.

2 Ada beberapa kendala mengapa pesan tidak sampai :

Beda persepsi, tidak seimbang pengalaman dan pengetahuannya, beda budaya dan bahasa, beda usia dan beda kepentingannya. Untuk mengurangi beberapa kendala tersebut adalah dengan menyesuaikan diri dengan mitra komunikasi, antara lain melalui pemahaman kita (para orangtua) terhadap potensi anak kita dan bakat yang dimilikinya.

3 Potensi Anak :

Kebanyakan orangtua menganggap bahwa potensi setiap anak adalah sama, sehingga ketika memperlakukan anak-anak juga dengan cara komunikasi yang sama. Ada perilaku anak yang agresif dan energik; ada yang pasif dan pendiam; ada yang reaktif dan spontan; ada yang serba ingin tahu dan ada acuh terhadap kejadian yang ada di lingkungan terdekatnya. Semua itu membutuhkan cara dan bentuk komunikasi yang berbeda. Ada yang bisa didekati dengan bentuk komunikasi lisan, ramah dan sabar, ada yang perlu sentuhan komunikasi tertulis dan formal. Dan semua itu juga perlu dikombinasikan dengan usia dan pengetahuannya. Untuk mengenali potensi anak setidaknya terdapat 3 cara, antara lain : (a) cara eksplorasi melalui pengalaman sehari-hari, (b) cara observasi melalui serangkaian psikotest dan (c) cara deteksi melalui fingerprint-test.

4 Bakat Anak :

Dengan tes bakat tertentu maka beberapa potensi seseorang bisa dikenali antara lain : (i) potensi bidang kecerdasannya, (ii) potensi gaya belajarnya dan (iii) potensi karakter komunikasinya. Ada baiknya para orangtua mengenali ketiga potensi besar tersebut. (i) Potensi kecerdasan ada 8 macam antara lain : (1) kecerdasan linguistic (2) kecerdasan logic-matemathic (3) kecerdasan intra-personal (4) kecerdasan inter-personal (5) kecerdasan visual-spasial (6) kecerdasan bodly-kinestethic (7) kecerdasan musicsl (8) kecerdasan naturlis. Sedangkan (ii) potensi gaya belajar meliputi 3 gaya antara lain : (1) visual (2) auditorial (3) tactile. Dan (iii) potensi karakter komunikasi seseorang terdapat 4 type antara lain : (1) reflektif (2) kritikal (3) kognitif (4) afektif. Kesemua potensi tersebut menuntuk cara komunikasi yang berbeda-beda.

5 Jenis aktifitas hidup manusia :

Setidaknya ada 4 macam aktifitas hidup manusia sejak masa kanak-kanak hingga ia tumbuh dewasa antara lain : (1) bermain (2) belajar (3) bekerja (4) beribadah. Semakin muda usia seseorang maka dominasinya adalah bermain. Permainan yang positif tentu mengandung pembelajaran yang merangsang perkembangan pengetahuannya atau kemandiriannya. Sedangkan pembelajaran yang positif adalah pembelajaran yang dapat digunakan sebagai bekal untuk bekerja kelak sesuai dengan tuntutan zamannya (relevan). Dan pada akhirnya usia semakin senja, maka kebutuhan akan ruhaninya lebih mendominasi jika dibandingkan dengan kebutuhan jasmaninya. Untuk membangun komunikasi pada anak usia dini atau usia pra sekolah akan menjadi efektif jika menggunakan komunikasi yang diikuti dengan permainan tertentu atau bicara sembari bercanda, atau bicara menggunakan alat peraga sesuai dengan bakat dan minatnya.

6 Kesimpulan dan saran :

Tidak ada teknik komunikasi yang mujarab yang dapat digunakan para orangtua dalam membangun komunikasi kepada putra-putrinya kecuali sesuai dengan bakat dan minatnya serta penuh kesabaran, ketekunan, dan permainan yang kreatif dan variatif. Sekedar untuk membiasakan shalat wajib saja dibutuhkan waktu 3 tahun yakni antara usia 7 tahun sampai usia 10 tahun.

Yogyakarta, 13 Nopember 2014

Teguh Sunaryo

Komisaris TK & PLAY GROUP KREATIF PRIMAGAMA

HP : 085 643 383838

————————————————————