LIMA PRINSIP FINGERPRINT TEST DMI PRIMAGAMA INDONESIA

 

Oleh : Drs. H. Teguh Sunaryo

Direktur DMI PRIMAGAMA INDONESIA

Sebelum mendalami tentang seluk beluk Tes Bakat melalui media Sidik Jari yang biasa disebut sebagai Fingerprint Test (FPT), ada beberapa hal yang menjadi prinsip yang perlu kita ketahui. Pertama, Growing no Changes. Dalam diskusi keberbakatan sering disebutkan bahwa bakat adalah karunia Tuhan yang dibawa sejak seseorang itu dilahirkan yang menggambarkan atas kemampuan atau ketidakmampuan seseorang pada bidang tertentu. Karena bakat adalah karunia tuhan maka ia jangan diubah tetapi disyukuri. Bentuk bersukurnya adalah melalui suatu ikhtiar untuk diyakini kemudian ditumbuhkembangkan secara baik dan benar. Baik, karena harus selalu menjaga dan meningkatkan kualitas. Benar, karena harus selalu berdasarkan urutan proses kronologis atau standar operating prosedur tertentu (dalam suatu proses tidak semua hal bisa di komutatifkan). Mengubah berarti menggambarkan rasa tidak bersyukurnya. Kalau tumbuh dan berkembang pastilah berubah, sementara bila berubah belum tentu tumbuh dan berkembang. Mengubah bisa menuju ke hal yang lebih baik dan bisa juga menuju ke hal yang lebih buruk, walau kebanyakan kita berharap perubahan selalu ke arah yang lebih baik. Kedua, Convergen no Divergen. Bila bakat sudah dikenali maka sebaiknya dikembangkan secara khusus, tidak perlu lagi mencoba-coba banyak hal diluar keberbakatannya. Hukum kekekalan energi mengatakan bahwa energi itu satu tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan, hanya berbubah bentuk. Kalau energi yang satu itu diubah ke hal-hal yang khusus dan fokus maka ia akan mudah tumbah dan berkembang. Kalau dikembangkan kebanyak hal maka ia akan terpecah-pecah. Sebaliknya bagi seseorang yang belum kenal dan belum yakin atas apa-apa yang menjadi bakat alaminya, maka biasanya ia akan menempuh jalan trial and error, learning by doing. Semua bidang akan diujicobakan, semua hal akan dilalaui. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, walau jelas-jelas akan lama, tidak efektif dan tidak efisien, bahkan cenderung boros dan selalu dikejar oleh sang waktu (usia). Ketiga, Strenght Approach no Defisit Approach. Kalau bakat sudah dikenali selain tidak perlu trial and error, maka kita tinggal mengembangkan bakat yang menonjol saja. Mengembangkan bakat lebih mudah dari pada mengubah bakat. Mengembangkan bakat menonjol lebih mudah dari pada mengembangkan bakat lemah. Jangan mengubah anak harimau menjadi anak naga, demikian kata pepatah. Itu berarti bahwa setiap orang selalu diberi karunia berupa kekuatan sekaligus juga kelemahannya. Kembangkanlah apa-apa yang menjadi kekuatan kita. Bukankah sukses adalah menjadi yang terbaik pada bidangnya. Tidak ada orang yang sukses pada semua bidang kehidupan. Keempat, Optimis no Pesimis. Kenal atau tidak kenal bakat orang yang ingin sukses haruslah senantiasa optimis. Banyak orang tidak kenal bakat alaminya saja hidupnya selalu optimis apalagi bagi orang yang sudah mengenal bakat unggulnya maka ia harus lebih optimis lagi. Orang yang optimis selalu semangat dan yakin. Orang yang optimis selalu bisa melihat kesempatan di dalam kesempitan sekalipun. Sebaliknya orang yang pesimis selalu melihat kesulitan walau dalam kesempatan sekalipun. Orang yang pesimis terlalu sering berkeluh kesah. Bahwa tidak semua orang yang optimis itu bakal sukses, tetapi terlalu banyak bukti bahwa orang yang pesimis adalah gagal. Kelima, Proportional no Balance. Hidup adalah proses, didalam proses semuanya dituntut untuk selalu proporsional. Memberlakukan anak usia dini tentu akan berbeda dengan memberlakukan orang dewasa. Dalam proses bila semuanya telah dilakukan secara proporsional maka akan terjadilah suatu keseimbangan. Keseimbangan adalah sebuah konsekuensi atas proses yang berjalan secara proporsional. Proporsional adalah proses sedangkan keseimbangan adalah suatu konsekuensi. Apabila seseorang setelah mengikuti tes bakat didapati bahwa potensi otak kirinya lebih dominan dari pada otak kananya, maka ia tidak harus kecewa. Kembangkan saja potensi otak kirinya secara maksimal maka otak kanannya segera akan mengikuti. Sebaliknya bagi seseorang yang otak kanannya lebih dominan dari pada otak kiri, maka tugasnya adalah mengembangkan otakan kanannya dan otak kirinya segera akan mengikutinya. Kinerja otak kanan dan otak kiri tidaklah bersifat ON-OFF. Artinya tidak lah otak kanan diam saja saat otak kiri sedang bekerja, dan tidak lah otak kiri akan diam saja walau otaka kanannya sedang bekerja. Keduanya saling mendukung. Menggapai sukses tidak harus menunggu kondisi otak kanan dan otak kiri seimbang terlebih dahulu. Pilihlah jenis-jenis pekerjaan atau jenis-jenis kegiatan yang sesuai dengan kemampuan dominan otak kita masing-masing.

Tulisan ini dipersembahkan oleh :

Manajemen PT. DMI INDONESIA

(Under Lisence Brainy Lab. PTE. LTD. Singapore & Colaboration With Comcare Group Singapore)

Kantor Pusat DMI PRIMAGAMA :

GRAHA POGUNG LOR  No : 2 – 4 (Lantai 1)

Jl. Ringroad Utara, Pogung Lor, Yogyakarta

Telp / Fax. :  (0274) 625 168

Layanan Konsultasi Psikologi (Hanya bagi yang sudah ikut Tes Bakat DMI):

Contact Person :

  • Teguh Sunaryo HP : 085 643 383838 (Direktur)
  • Isworo Gunarsih  HP : 081 2278 5915 (Sekretaris)
  • Eko Yulianto HP : 081 6680 400 / 085 328 012345 (Kepala Lab dan Teknisi)
  • Nurmey Nurul Chaq HP : 081 5790 2340 (Koordinator Konsultan Psikologi)
  • Bambang Hastobroto HP : 081 2269 3277 (Keuangan)

Info Lebih Detail Lihat Situs : www.dmiprimagama.com & https://dmiprimagamapusat.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: