BIMBEL MODERN : BIMBEL YANG MENGANTARKAN SISWANYA SUKSES AKADEMIS DAN SUKSES MENITI KARIER

Oleh : Drs. H. Teguh Sunaryo

Direktur DMI Primagama

PERSAINGAN GLOBAL DAN KETERBUKAAN

Dunia benar-benar satu jumlahnya. Planet bumi yang begitu luas tetap satu jumlahnya. Fakta dan kesan seperti itu bisa terjadi karena hubungan antar sesama manusia di planet bumi ini sudah semakin sempit saja. Dimensi ruang dan waktu mampu ditembus dengan kemajuan ICT (Information and Communication Technology). Kemanapun kita pergi selama masih di dalam lingkup planet bumi ini maka antar kita masih bisa bertemu. Kita berada dimana, akan diketahui oleh mitra kita, dilihat dan bisa berkomunikasi dengan mereka. Letak dan posisi kita berada, atau sedang melakukan apa, dst. Dunia semakin terbuka bagi pergaulan antar sesama. Interaksi antar personal, antar komunitas dan antar budaya semakin tipis sekatnya. Saat itulah persaingan dan pertemanan semakin mengglobal. Kebutuhan manusia semakin kompleks dan hanya bisa dilakukan dan dipenuhi bila ada kerjasama lintas budaya, lintas suku bangsa dan lintas negara. Peradaban tidak lagi bisa dibangun hanya oleh “anak bangsa” tetapi oleh “antar anak bangsa”, bukan oleh sekedar “warga negara” tetapi oleh “warga dunia”. Peradaban global tidak bisa dicegah lagi, kecuali untuk diikuti, dikendalikan dan diarahkan kemana jalannya dan untuk kemanfaatan keseluruhan umat manusia.

KUALITAS SDM DAN PERKEMBANGAN BIMBEL

Pada zaman dimana tuntutan globalisasi semakin sempurna, maka kualitas SDM menjadi kunci utamanya. Peradaban dunia bisa terwujud dengan baik apabila esensi dan spirit pendidikan (dalam arti luas) diarahkan kepada tiga hal. Pertama, penguasaan atas teknologi. Kedua, diabdikan untuk kepentingan humanisme, rasa kemanusiaan dan kebersamaan. Ketiga, dilandaskan kepada nilai-nilai relegius. Ketiga hal dalam esensi pendidikan tersebut bisa dijalankan dengan baik apabila masing-masing “anak zaman” mampu membuat perencanaan hidupnya (yang hanya sekali) dengan matang dan penuh perhitungan. Di Indonesia dimana bagian dari belahan dunia, memiliki konsep peningkatan kualitas SDM melalui tripusat pendidikan dalam rangka mendesain strategi pembelajarannya yaitu pendidikan in formal yang dilakukan oleh keluarga inti anak, ayah dan ibu. Pendidikan non formal yang dilakukan oleh masyarakat dan pendidikan formal yang dilakukan oleh pemerintah melalui sekolah dan guru (tenaga kependidikan). Namun dalam perkembangannya ternyata ada kesimpangsiuran konsep dan tindakan dimana esensi pendidikan tidak segera bisa terwujud. Semua insan dipandang sebagai makhluk yang berpotensi serba sama (mono intelligence), sehingga stimulasinya juga sama. Pendidikan, pelatihan dan pengajaran tidak lagi dipandang sebagai hal yang spesifik. Ketiganya dicampur baurkan. Afeksi, psikomotori dan kognisi pun demikian. Semua diberikan pada dosis, formula dan komposisi yang sama untuk semua. Bimbel (bimbingan belajar) sebagai bagian dari pendidikan non formal, masih memiliki keleluasaan untuk membuat racikan pembelajaran guna menyajikan menu pendidikan yang sesuai dengan masing-masing person yang berpotensi beragam (multiple intelligence). Zaman terus berubah, kompleksitas hidup terus bertambah, maka rencana pembelajaran harus dipermudah, dan rencana hidup juga harus lebih fokus dan terarah. Ada dua fase perkembangan dunia bimbel di Indonesia. Pertama, fase les privat (les-lesan), dilakukan oleh guru sekolah kepada para siswanya (siswanya saja) diluar jam sekolah. Diselenggarakan di rumah guru, sang murid berdatangan. Manajemennya masih sangat sederhana. Presensi tidak ada, administrasi pendaftaran tidak ada, sarana belajar berupa buku tunggal dari buku wajib ajar sekolah. Tujuannya benar-benar hanya mengulangi dan mendalami pelajaran di sekolah.  Merek tidak ada, kursi dan meja seadanya, sekretaris tidak ada, office boy tidak ada, juru parkir dan satpam juga tidak ada. Pendek kata hubungan hanya terjadi hanya dan hanya antara sang guru dan sang murid saja. Kedua, fase bimbel, dilakukan secara masal. Ada tempat les atau kursus yang khusus. Ada manajemen walau hanya sederhana (berikutnya semakin lengkap sebagaimana industri lainnya). Ada organisasinya, ada pemiliknya, ada tenaga pengajarnya, ada petugas administrasinya, ada alat perkantorannya, ada marketing dan promosinya. Pada fase kedua ini “fase bimbel” mengalami kemajuan yang sangat dinamis. Persaingan antar penyelenggara bimbel semakin banyak, peminatnya juga tumbuh semakin besar, kesadaran akan pendidikan semakin tinggi, ledakan jumlah penduduk tidak bisa dikendalikan lagi, dst. Pada fase bimbel ini, industri jasa pendidikan bimbingan belajar mengalami perkembambangan dalam tiga tahapan. Tahap pertama, Bimbel sebagai bimbingan tes. Pada tahap ini tujuan bimbel hanya untuk mengantarkan para siswa lulus dan lolos tes saja. Maka penyelenggaraannya juga dilakukan hanya menjelang saat ujian nasional atau evaluasi belajar nasional (agar lulus evaluasi) dan pada saat menjelang pendaftaran masuk perguruan tinggi negeri ternama (agar lolos seleksi). Sarana belajar hanya buku wajib ajar sekolah ternama dan drilling soal-soal latihan serta cara praktis menyelesaikan soal latihan.   Tahap kedua, Bimbel sebagai pendamping belajar siswa. Pada tahap ini kegiatan belajar mengajar tidak hanya pada saat akan tes saja, tetapi kantor bimbel buka setiap hari. Para siswa masuk ada yang seminggu dua kali atau tiga hari. Proses kegiatan belajar mengajar dilakukan sepanjang tahun (bukan hanya saat ada tes saja). Tujuan bimbel pada tahap ini bukan hanya sukses tes menjelang kelulusan saja tetapi menjelang kenaikan kelas, dan menjelang semesteran serta sukses ulangan harian. Bimbel benar-benar telah mampu menjadi pendamping belajar siswa sepanjang tahun.  Tahap ketiga, Bimbel sebagai bimbingan karier. Pada tahap ini, bimbel tidak hanya mengantarkan siswanya sukses secara akademis saja seperti pada tahap kedua  dan tahap pertama (apalagi pada fase les-lesan). Bimbel pada tahap ini masuk pada tahap menjadi dan menjelma bimbel yang modern. Anak-anak modern tidak hanya butuh sukses akademis saja. Banyak siswa yang sukses secara akademis ternyata gagal ditengah masyarakatnya. Kurikulum tidak memberikan jaminan dan kepastian mereka sukses. Pembelajaran dilakukan secara monoton. Dahulu rumus praktis hanya ada di bimbel, tetapi sekarang sekolahpun sudah memiliki rumus praktis yang tidak kalah dengan bimbel (banyak guru bimbel masuk PNS sebagai guru sekolahan). Maka bimbel yang ingin bertahan hidup harus kreatif, inovatif dan menjawab kebutuhan zaman. Siswa zaman sekarang tidak mau gagal seperti para pendahulunya yang hanya sukses di akademis saja tetapi gagal dimasayarakat. Maka tujuan bimbel pada tahap ini (Bimbel modern) adalah mengantarkan siswa sukses secara akademis dan sukses dalam berkarier. Yang tidak sekolah saja harus berkarirer apalagi yang sekolah. Untuk itu pemilihan penjurusan sekolah, pemilihan pendalaman materi, dan pemilihan jurusan atau fakultas saat kuliah harus diselaraskan dengan karier masa depannya. Rencana pendidikan seseorang harus selaras dengan rencana kariernya. Rencana hidup untuk masa depan harus dimulai sejak dini. Rencana yang baik harus berorientasi pada visi (tuntutan zaman ke depan/ karier dan profesi baru) dan berbasis pada potensi (bakat alaminya/ bakat beda dengan minat). Para siswa sejak dibangku sekolah dan di tempatnya kursus (ikut bimbel modern) harus dikenalkan dengan perencanaan kariernya. Eksistensi manusia terletak pada karyanya, apa artinya gelar sarjana (sukses akademis) jika tidak punya kerier yang baik ?

TALENT VOTING HOME

Banyak hal yang bisa membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Satu diantaranya adalah keahliannya untuk membuat rencana hidupnya. Makhluk lainnya menjalani hidupnya hanya berdasarkan nalurinya saja (instinc), sedangkan manusia tidak. Sedangkan perbedaan antar sesama manusia salah satunya adalah kualitas perencanaan hidupnya. Ada yang berjangka pendek, ada yang berjangka panjang. Ada yang sesaat tidak sesuai dengan visi jangka panjangnya (parsial) dan ada yang esensial, strategis dan seirama antara potensi yang dimiliki dengan stimulasi yang akan diikhtiarkan serta dengan visi yang memang sudah direncanakan sejak dini. Manajemen Lembaga Pendidikan Primagama melihat bahwa selama ini ada missinglink atau hubungan yang terputus antara pilihan dan proses pendidikan yang dijalani seseorang dengan pilihan, tuntutan dan tantangan karier untuk masa depannya. Sehingga tidak jarang terjadi banyak siswa yang sukses dari aspek akademis tetapi gagal di dunia kerja, bahkan sekedar mendapatkan suatu pekerjaan saja sudah teramat sulit. Untuk itulah Primagama sebagai bimbingan belajar terbesar dan modern melahirkan suatu konsep perencanaan hidup yang selalu up to date dengan perkembangan zaman. Adapun garis besar perencanaan hidup itu adalah melalui penciptaan visi yang berbasis potensi. Sedangkan metode perencanaan hidup itu disebut sebagai Rumah DMI yang diberi nama “Talent Voting Home”. DMI adalah singkatan dari Dermatoglyphics Multiple Intelligence, suatu ilmu psikologi pendidikan yang melihat manusia sebagai insan yang memiliki kecerdasan majemuk (bukan kecerdasan tunggal) yang bisa diketahui melalui media pola sidik jari (biometri). Dengan demikian bisa dikatakan bahwa “Talent Voting Home” adalah nama sebuah model perencanaan hidup melalui proses edukasi untuk meraih puncak prestasi (visi) yang berbasis pada potensi (bakat alami), sebagaimana bagan berikut dibawah ini.

Secara sederhana, bisa dijelaskan bahwa semua berasal dari tes bakat sidik jari. Apapun pilihan pendidikannya harus melalui tes bakat terlebih dahulu. Apapun pelatihannya tes bakat terlebih dahulu. Tidak ada orang sukses dimuka bumi ini yang tidak melalui proses pendidikan, pelatihan dan pengajaran. Persolannya adalah mana yang paling cocok dan sesuai, mana yang paling efektif dan efisien. Semua itu bisa dipertimbangkan bukan hanya berdasarkan keinginnannya saja (minatnya saja, terndnya saja) tetapi harus selaras dengan bakatnya. Dengan tes bakat, bisa membantu setiap orang untuk mengenali dirinya sendiri (potensinya sendiri). Ada tiga cara ilmu pengetahuan untuk menelusuri bakat seseorang, antara lain : penelusuran bakat melalui Eksplorasi, Observasi dan Deteksi. Ketiga cara tersebut bisa dilakukan secara bersamaan atau dilakukan secara bertahap. Pada cara Eksplorasi, maka setiap kita (setiap anak) akan mencoba (atau dicobakan) semua jenis pelatihan, semua jenis keinginan, semua jenis minat, semua jenis alat permainan, dan semua jenis stimulasi lainnya (pilihan pendidikan, pelatihan, pengajaran). Dari semua “percobaan” itu maka akan diketahui mana yang paling disukai, paling disenangi dan paling menghasilkan prestasi yang paling tinggi. Dan prestasi yang paling tinggi itulah yang sebagian kita menyebutnya sebagai bakat. Pada tahap Ekplorasi ini, membutuhkan banyak “instrumen”, banyak stimulasi, banyak waktu dan tentu banyak biaya. Bagi mereka yang memiliki banyak biaya, maka tahap eksplorasi ini tidak menjadi kendala (kecuali dari aspek waktu, yang memang tidak bisa dibarter dengan apapun juga). Pada tahap kedua, muncul penelusuran bakat melalui metode Observasi. Setiap anak dicermati, diteliti, dikaji, diberikan beberapa stimulasi, bisa berupa alat-alat permainan, bisa berupa wawancara, atau bisa juga melalui alat-alat tes psikologi yang disesuaikan dengan kelompok usianya. Kemudian muncul skor-skor angka dan rekomendasi. Dan biasanya pada cara ini akan ada catatan bahwa “hasil tes ini sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis pada saat anak dites, dan bisa berubah dikemudian hari”. Pada tahap ketiga, adalah penelusuran bakat melelaui Deteksi. Dengan deteksi ini, seseorang bisa diketahui bakatnya melalui teknologi komputer (biometri), tanpa wawancara, tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan, dan tidak bisa dimanipulasi. Pada tahap sekarang ini, tahap deteksi ini menggunakan media “sidikjari” (fingerprint test), bukan “garis tangan” (palmistri). Teknologi selalu berkembang, diikhtiarkan untuk kemudahan dan peradaban kehidupan manusia. Tidak ada sendi kehidupan di zaman modern ini yang lepas dari pengaruh teknologi. Tingkat akurasi metode sidik jari ini mencapai angka 90 %. Nah, pertanyaan berikutnya adalah “setelah kita tes bakat lantas amau apa ?” Jawabnya sudah disediakan dalam bagan Rumah DMI tersebut diatas, yakni setelah tes bakat, maka akan diketahui potensi menonjol seseorang. Dari potensi menonjolnya itu (bakat utama, bakat unggulan, bakat kuat), maka langkah berikutnya adalah memilih kesesuain stimulasinya, apakah harus melalui jalur pendidikan, pelatihan atau pengajaran, atau bahkan kombinasi ketiganya.  Dengan demikian lebih jelas dan lebih fokus. Tugas berikutnya adalah pendampingan dan mencari lingkungan yang mendukung atas bakat utamanya tersebut. Maka puncak prestasi adalah sebuah konsekuensi atas suatu proses (pengenalan bakat yang diyakini, pemberian stimulasi yang fokus dan jeli serta pendampingan yang memadai). Semoga bermanfaat. Terimakasih.

 

 Tulisan ini dipersembahkan oleh :

Manajemen PT. DMI INDONESIA

(Under Lisence Brainy Lab. PTE. LTD. Singapore & Colaboration With Comcare Group Singapore)

 

Kantor Pusat DMI PRIMAGAMA :

GRAHA POGUNG LOR  No : 2 – 4 (Lantai 1)

Jl. Ringroad Utara, Pogung Lor, Yogyakarta

Telp / Fax. :  (0274) 625 168

 

Layanan Konsultasi Psikologi (Hanya bagi yang sudah ikut Tes Bakat DMI):

 

Contact Person :

  • Teguh Sunaryo HP : 085 643 383838 (Direktur)
  • Isworo Gunarsih  HP : 081 2278 5915 (Sekretaris)
  • Eko Yulianto HP : 081 6680 400 / 085 328 012345 (Kepala Lab dan Teknisi)
  • Nurmey Nurul Chaq HP : 081 5790 2340 (Koordinator Konsultan Psikologi)
  • Bambang Hastobroto HP : 081 2269 3277 (Keuangan)

 

Info Lebih Detail Lihat Situs : www.dmiprimagama.com & https://dmiprimagamapusat.wordpress.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: