LOMBA ANAK BERBAKAT

 

Oleh : Drs. H. Teguh Sunaryo

Direktur DMI PRIMAGAMA INDONESIA

 Sebagai orangtua kita sering mendengar ada perlombaan untuk anak berbakat. Dari sekian perlombaan yang digelar itu sebagian besar (bahkan secara keseluruhan) yang ditampilkan hanya dibidang seni dan olahraga saja. Pendek kata bisa ditafsirkan bahwa lomba anak berbakat adalah lomba anak-anak di atas panggung dan di dalam lapangan terbuka. Bidang seni diwakili dengan aktifitas panggung menyanyi, membaca puisi, pantomim, menari dan menggambar (untuk anak-anak lomba mewarnai). Sedangkan lomba untuk olahraga diwakili dengan aktifitas di dalam lapangan terbuka, seperti sepakbola, karate, bola voli, pencak silat, berenang, senam aerobik, dst. Dari kedua jenis aktifitas bakat tersebut (seni dan olahraga) menimbulkan persepsi bahwa untuk dunia sekolah dan dunia kerja tidak memerlukan bakat, tidak perlu penggalian bakat, tidak perlu pengembangan bakat. Tidak ada orang sukses atau tokoh besar di zaman sekarang ini yang sukses tanpa sekolah dan tanpa bekerja atau berkarya. Maka menjadi wajar bila produktifitas dunia kerja dan dunia sekolah dilingkungan kita tidak bisa maksimal. Muncul persepsi yang amat membingungkan. Dunia seni dan olahraga sering di lombakan (sebagi eksplorasi bakat) tetapi dianggap sebagai dunia yang tidak menjanjikan bagi masa depan pelakunya. Dan pada akhirnya seni dan olahraga hanya sebagai hobby saja, tidak lebih dari itu. Banyak para orangtua berpendapat seperti itu, bahkan sebagian besar guru pun mengatakan “jangan sampai prestasi seni atau olahraga mengganggu sekolah ya”. Sedangkan di sekolahan sering diadakan pelatihan, les pelajaran tambahan, tetapi tidak pernah ada pembahasan yang mendalam apakah pelatihan dan les tambahan tersebut sudah sesuai dengan bakatnya. Nampaknya dunia ilmu pengetahuan di sekolah formal tidak pernah mau tahu apakah anak-anak sekolah itu berbakat atau tidak berbakat. Sementara dunia seni dan olahraga diakui sebagai bagian dari bakat tetapi tidak memberikan harapan bagi masa depan.

Menurut Prof. Dr. Howard Gardner dari Havard University, dikatakan bahwa setiap orang itu memiliki sembilan jenis potensi keberbakatan yang apabila dikembangkan (melalui pelatihan, pendidikan, dan pengajaran), maka akan menjelma menjadi suatu kecerdasan atau suatu kecakapan. Setiap orang memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing dan berbeda-beda. Kesembilan bakat tersebut adalah : Linguistic; Logic-Matemathic; Intrapersonal; Interpersonal; Bodly-kinestehtic; Visual-spasial; Musical; Naturalist; Existential. Kekuatan distribusi masing-masing orang antar orang berbeda-beda, ada yang menonjol dan ada yang lemah, tetapi tidak ada yang kosong sama sekali. Itulah mengapa manusia sering disebut makhluk yang unik dan multi dimensional. Betapa Tuhan telah memberikan karunia kepada kita sedemikian sempurna bila dibandingkan dengan makhluk yang lain.

Bakat adalah karunia Tuhan yang diberikan kepada manusia untuk bekal hidupnya. Untuk itu setiap kita harus bersyukur, dan bentuk rasa syukur yang terbaik adalah menerima dengan ikhlas apa yang menjadi kelemahan, dan bersedia mengembangkan terhadap keunggulannya. Mengembangkan bakat menonjol itu lebih mudah dibandingkan dengan mengembangkan bakat yang lemah. Karena itulah dalam rangka mengembangkan bakat yang menonjol kita harus mengenal terlebih dahulu apa yang menjadi bakat istimewa masing-masing kita. Dahulu ketika ilmu pengetahuan dan teknologi belum berkembang dan belum canggih, maka setiap orangtua sibuk untuk mengenali bakat anak-anaknya melalui suatu  eksplorasi. Semua stimulus (pelatihan, pendidikan, pengajaran) diberikan dengan porsi yang sama dan sangat berlebihan. Semua permainan, buku pelajaran, dan semua jenis mata pelajaran harus dikuasai. Sehingga anak-anak beban hidupnya semakin berat dan tidak fokus. Energi yang dikeluarkan anak-anak sangatlah tinggi dan biaya yang dikeluarkan orangtua juga relatif banyak dan menjadi mahal. Di dalam masyarakat jawa para orangtua dalam rangka mengenali bakat anak-anaknya melalui upacara budaya bernama “tedak bumi”. Ketika anak-anak mulai belajar berjalan dan menginjakkan kakinya pertama kali di atas bumi, maka anak-anak dimasukkan ke dalam kurungan (anak dipagari). Di dalam kurungan itu anak-anak diberikan bermacam-macam alat permainan, kemudian mainan mana yang pertama dia pilih itulah yang dijadikan “pegangan”, dijadikan “visi” atau dijadikan “cita-cita”nya kelak.  Itu menggambarkan bahwa betapa pentingnya mengenali bakat atau potensi anak-anak kita. Perjalanan pencarian bakat melalui tahap upacara budaya, kemudian berkembang melalui eksplorasi pendidikan yang sangat mahal dan lama, dan sekarang ini berubah melalui teknologi yang disebut deteksi. Dari Mitos Budaya, ke Eksplorasi Edukasi, menuju ke Deteksi Teknologi, dan itu sudah ditemukan oleh warga Singapura bernama Mr. Eric Lim Choo Siang, kemudian pada tanggal 3 Maret 2008 dibawa ke Indonesia oleh Kalis Purwanto, Adam Primaskara dan Teguh Sunaryo.

Dari uraian tersebut diatas bisa ditarik benang merah bahwa setiap stimulus yang diupayakan (melalui pendidikan, pelatihan, pengajaran, bahkan pengalaman) adalah dalam rangka “mengubah potensi menjadi kompetensi”, “mengembangkan bakat menuju prestasi yang hebat”, “mengenali potensi untuk mencari stimulasi yang serasi”, “mengenal bakat guna penanganan yang lebih tepat”,  “mengenali potensi untuk menentukan tindakan dini”, “mewujudkan potensi agar menjadi prestasi”. Dengan teknologi kita tidak lagi meraba-raba bakat anak kita, tidak lagi menduga-duga potensi diri kita, dan tidak lagi panik mengeksplorasi bakat dengan segala cara yang berdampak pada biaya hidup lebih mahal dan penuh ketidak pastian. Dengan bakat dikenali lebih dini, maka cita-cita semakin jelas dan visi semakin lebih pasti. Tugas para orangtua berikutnya adalah : Pertama, bekerja keras guna menyediakan fasilitas belajar dan memilihkan sekolah yang sesuai dengan potensinya atau bakatnya.  Kedua, penuh ketekunan dan kesabaran untuk senantiasa menyelaraskan visi dengan potensinya serta menyeimbangkan minat dengan bakatnya.  Tidak pernah ada kata menyerah dalam memberikan dukungan pada keberhasilan anak-anak kita. Mereka adalah masa depan kita, kesuksesan mereka kesuksesan kita juga. Semoga !

 

Tulisan ini dipersembahkan oleh :

Manajemen PT. DMI INDONESIA

(Under Lisence Brainy Lab. PTE. LTD. Singapore & Colaboration With Comcare Group Singapore)

 

Kantor Pusat DMI PRIMAGAMA :

GRAHA POGUNG LOR  No : 2 – 4 (Lantai 1)

Jl. Ringroad Utara, Pogung Lor, Yogyakarta

Telp / Fax. :  (0274) 625 168

 

Layanan Konsultasi Psikologi (Hanya bagi yang sudah ikut Tes Bakat DMI):

 

Contact Person :

  • Teguh Sunaryo HP : 085 643 383838 (Direktur)
  • Isworo Gunarsih  HP : 081 2278 5915 (Sekretaris)
  • Eko Yulianto HP : 081 6680 400 / 085 328 012345 (Kepala Lab dan Teknisi)
  • Nurmey Nurul Chaq HP : 081 5790 2340 (Koordinator Konsultan Psikologi)
  • Bambang Hastobroto HP : 081 2269 3277 (Keuangan)

 

Info Lebih Detail Lihat Situs : www.dmiprimagama.com & https://dmiprimagamapusat.wordpress.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: