OTAK DAN KECERDASAN

Budi Andayani

Fakultas Psikologi

Universitas Gadjah Mada

Kecerdasan adalah suatu potensi yang dimiliki oleh seseorang. Disebut bersifat potensial karena pada kenyataannya tidak semua kapasitas cerdas seseorang termanifestasi dalam kehidupan nyata. Kapasitas cerdas setiap individu sendir bukanlah kecerdasan yang bersifat tunggal. Hal ini dapat dipahami karena otak bukanlah suatu benda tunggal dengan peran tunggal. Otak adalah suatu sistem yang diyakini memiliki spesialisasi peran dan manifestasinya merupakan sinergi dari bagian-bagian dari sistem tersebut.

A. Memahami Otak

Otak dalam struktur sistem syaraf adalah sistem syaraf pusat, di samping syaraf tulang belakang. Otak disebut struktur karena otak sendiri terbagi atas beberapa bagian. Pembagian otak dalam area yang paling mudah adalah pembagian otak dalam empat lobus, yaitu lobus frontal, occipital, parietal, dan temporal, sebagaimana tampak dalam gambar 1.

 

Gambar 1. Lobus pada otak

Setiap lobus terdiri dari struktur-struktur yang masing-masing memiliki peran yang berbeda. Ketika suatu kapasitas dapat dipahami sebagai suatu kemampuan untuk melakukan respon terhadap stimulasi, baik dari dalam diri sendiri maupun dari lingkungan, maka setiap kapasitas memerlukan kemampuan mengingat. Kemampuan mengingat itu sendiri terkait pula dengan jenis penginderaan dan respon yang dapat dilakukan. Kemampuan mengingat itu sendiri ketika dipetakan di otak ternyata juga tersebar pada lobus yang berbeda. Stimulasi yang mayoritas bersifat visual akan disimpan sebagai ingatan di struktur yang terdapat di lobus occipital, sementara yang auditif berada di struktur yang ada di lobus temporal. Ingatan tentang penginderaan kulit akan di simpan di lobus parietal. Sementara itu, ada ingatan tentang kinestesi dan gerak di simpan di struktur yang berbeda, yaitu cerebellum, atau otak kecil.

Otak tidak saja dibedakan atas lobus yang ada. Otak juga dibedakan atas belahannya, yaitu otak kiri dan otak kanan, atau hemispherium kiri dan hemispherium kanan. Dalam istilah fisiologi dikatakan ada proses lateralisasi yang dapat dipahami sebagai spesialisasi peran di otak kiri atau kanan. Spesialisasi belahan otak kiri dan kanan dapat diperiksa pada gambar 2.

 

Gambar 2. Belahan Otak

 

 

Dari peta pada gambar 2 tampak bahwa belahan kiri terfokus pada kemampuan yang sifatnya verbal, atau menggunakan bahasa dalam operasinya. Termasuk di dalamnya adalah kemampuan bahasa, matematika, logika verbal. Sementara itu belahan kanan merupakan pusat untuk kemampuan yang menggunakan materi non-verbal. Itulah sebabnya, dikatakan kecerdasan yang terstimulasi oleh pengetahuan, yang sebagian besar dalam bentuk pengetahuan verbal, atau menggunakan bahasa sebagai medianya, adalah kecerdasan otak kiri. Bacaan, kegiatan belajar yang menggunakan bahasa, adalah kegiatan yang merangsang perkembangan otak kiri. Sementara itu, semua pengetahuan yang muncul dalam bentuk keterampilan, apresiasi, rangsangan-rangsangan perseptual, semuanya membentuk kecerdasan otak kanan. Termasuk di dalam urusan otak kanan adalah kemampuan mengembangkan kepekaan dan ekspresi emosi. Kapasitas otak kiri dan kanan inilah yang memungkinkan setiap orang memiliki potensi yang bagus untuk berbagai bidang, sehingga penampilan seseorang dalam setiap bidang atau manifestasi potensi merupakan perkara yang berbeda terkait dengan stimulasinya. Itu pula sebabnya, jika kemudian dikenal 7 jenis kecerdasan atau multiple intelligence sebagaimana dikemukakan Howard Gardner (dalam Lim, 2002), maka dasarnya adalah kapasitas otak yang berkembang sejak dalam kandungan tersebut.

Otak yang cerdas memiliki karakteristik yang khas, sehingga dapat dibedakan antara makhluk hidup yang cerdas, artinya yang mampu bertindak sesuai dengan situasinya, dan makhluk yang kurang cerdas, yang hidup dengan mengandalkan instingnya. Konon, makin cerdas suatu makhluk maka makin banyak dan rumitlah susunan syaraf di otak, sehingga jika “dibentangkan” maka luas dataran otak akan lebih besar daripada makhluk yang kurang cerdas, proposional dengan volume rongga kepalanya. Karena luasnya bentangan otak, dan untuk “pas” tersimpan dalam rongga kepala, maka otak harus melekuk-lekuk di dalam tempurung kepala. Lekukan ini, di dalam istilah anatomi disebut sebagi gyrus sedang tonjolan disebut sulcus. Oleh karena itu, makin dalam gyrus berarti makin cerdaslah makhluk tersebut. Begitu pula lah gambaran otak manusia dan begitu pula kelompok hewan cerdas seperti kelompok primata (chimpanze), dolphin, dan anjing.

B. Kecerdasan dan Fingerprint

Sir Francis Galton adalah seorang antropolog yang berminat menemukan dasar perbedaan individual, termasuk perbedaan kecerdasan. Salah satu yang telah dilakukan Galton adalah mengukur lingkar kepala dan menduga makin besar lingkarnya makin cerdaslah individu. Galton memeriksa, termasuk seorang diantaranya adalah Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris di masanya. Galton tidak mendapat dukungan dari datanya, karena orang-orang terkemuka tidak berbeda dengan orang biasa dalam ukuran kepalanya (Hilgard & Atkinson, 1979).

Galton selalu berusaha menemukan dasar perbedaan individu berdasarkan karakteristik fisik. Sidik jari dan rajah tangan ditengarai oleh Sir Francis Galton sebagai suatu karakteristik yang tidak pernah berubah sejak lahir hingga mati. Perkembangan sidik jari dan rajah tangan tampak ada kaitannya dengan perkembangan syaraf otak itu sendiri. Dari penelitian, terutama yang terkait dengan penyakit, diperoleh bukti ada kaitan antara faktor fisiologis dan sidik jari dan rajah tangan. Karena perkembangannya tekait pula dengan perkembangan syaraf maka dapat diasumsikan bahwa sidik jari dan rajah tangan orang yang berbeda kapasitas kecerdasannya akan berbeda pula karakteristik sidik jari dan rajah tangannya. Satu temuan yang mendukung hal ini adalah pada penderita Down Syndrom. Penderita DS mengalami hambatan perkembangan otak disebabkan oleh abnormalitas genetik, dimana khromosom ke 21 yang seharusnya merupakan sepasang khromosom muncul dalam 3 khromosom, sehingga nama lain dari abnormalitas ini adalah trisomi 21 (Pinel, 1997). Secara umum kecerdasan penderita DS adalah di bawah normal atau IQ di bawah sekor 80. Gambar 3 dan 4 menunjukkan penampilan penderita DS dan ciri khas pada rajah tangannya.

 

Gambar 3. Penderita Down Syindrome

Gambar 4. Rajah tangan penderita DS

 

Rajah tangan penderita sebagaimana pada gambar 4 menunjukkan garis yang tebal dan tidak terputus, demikian pula pada garis ruas-ruas jarinya. Penampilan ini menjadi satu bukti bahwa abnormalitas di otak dapat termanifestasi pula di bagian tubuh penderita, demikian pula sebaliknya, superioritas pada otak akan termanifestasi pada fisiknya.

C. Perkembangan Kecerdasan

Kecerdasan adalah potensi, yang akan termanifestasi jika mendapat stimulasi. Dengan dikenalnya perbedaan individual, maka dapat dipahami jika potensi pada setiap orang juga berbeda. Tidak tunggalnya kecerdasan menyebabkan setiap individu memiliki profil yang berbeda dalam kecerdasannya (Santrock, 2006).

Proses perkembangan kecerdasan terjadi dalam interaksi individu dengan lingkungan biopsikososialnya (Hoffman, Paris, & Hall, 1994). Perkembangan ini tentu saja memerlukan fasilitas dan media yang tepat. Fasilitas yang penting pertama adalah faktor fisik itu sendiri. Alat indera yang tidak bermasalah akan menjadi fasilitas penting proses perkembangan kecerdasan. Hambatan pada alat indera tertentu akan berpengaruh pada proses yang difasilitasi melalui jalur penginderaan tersebut.

Masalah persepsi terhadap sensasi yang dialami akan menjadi faktor yang berpengaruh dalam proses perkembangan kecerdasan. Persepsi sendiri akan dipengaruhi pula oleh faktor-faktor yang berasosiasi dengan objek (Hilgard dkk., 1979). Persepsi akan terkait dengan sikap terhadap objek, dan oleh karena itu setiap individu akan mengembangkan minat yang berbeda terhadap objek belajar. Perbedaan minat tersebut pulalah yang pada akhirnya akan membentuk karakteristik dan pengembangan pribadi seseorang.

D. Penutup

Setiap individu sejak masa perkembangan prenatal sudah membawa sifat-sifat sendiri. Hal ini terkait dengan  DNA, dukungan, dan hambatan dalam proses perkembangan prenatal. Perkembangan syaraf, terutama otak, akan menjadi dasar kecerdasan individu. Perkembangan ilmu masa kini mencoba mendapatkan gambaran potensi yang dibawa individu melalui penampakan fisiknya, dan salah satu adalah sidik jari dan rajah tangan.

Meski setiap orang memiliki potensi, proses perkembangan postnatal akan menentukan arah manifestasi potensi tersebut. Dalam istilah psikologi, bakat ada dan pengembangan selanjutnya adalah pada minatnya. Oleh karena itu proses pendidikan perlu memberikan fasilitasi pada pengembangan potensi dan selanjutnya minat itulah yang akan mengarahkan individu untuk menjadi dirinya, dan berkiprah dalam kehidupan secara bermanfaat dan berbahagia karenanya.

Daftar Bacaan

Hilgard, E.R., & Atkinson, R.L. 1979. Introduction to Psychology, 7th ed., New York: McGraw-Hill Book Co.

Hoffman, L., Paris, S., & Hall, E. 1994. Developmental Psychology Today, 6th ed. New York: McGraw-Hill, Inc.

Lim, L.P. 2002. Applying Learning Style in Instructulional Strategies. Learning Style, vol. 5, no. 7

Pinel, P.J.P. 1997. Biopsychology. Boston: Allyn & Bacon

Santrock, J.W. 2006. Life Span Development. 10th ed. Boston: McGraw-Hill Co, Inc.

Gambar-gambar diambil dari google.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: