PETANI DAN EKSEKUTIF

Disarikan dari cerita seorang teman baik saya Doddy Manaf di Yogyakarta

Dalam penerbangan Yogyakarta menuju Jakarta terjadi suatu dialog ringan antara seorang eksekutif muda yang baru saja dipromosikan naik jabatan pada sebuah perusahaan ternama di Indonesia dengan seorang ibu yang berusia paruh baya lebih kurang enampuluhan yang kebetulan mereka duduk saling bersebelahan.

Anak Muda bertanya dengan ramah, “mau ke Jakarta bu?” Kemudian ibu itu menjawab “benar mas”. Sembari ingin mengisi waktu luang AM mencoba bertanya kembali “ke Jakarta mau pulang atau mau bekerja bu?”, kata ibu dengan tersenyum polos menjawab “mau nengok anak yang sedang bekerja di Jakarta mas, lha mamasnya mau kemana ?” gantian ibu balik bertanya. AM menjawab “mau bekerja bu, setelah liburan lebaran di Yogya tanah kelahiran saya”. Ibu bertanya : “enak ya mas bekerja di Jakarta ?”, AM menjawab : “ya jelas to bu, kalau tidak enak tidak mungkin jauh-jauh saya datangi, lha anak ibu bekerja di mana ?”. Ibu menjawab: “anak saya bekerja sebagai Direktur Utama di sebuah Bank Nasional mas” (mau disebutkan nama banknya disini sepertinya tidak begitu etis). AM itu tidak begitu percaya karena dia sendiri sebagai salah satu pimpinan sebuah BUMN ternama yang merasa kenal semua pimpinan Bank di Jakarta. Sambil menguji kebenaran itu AM bertanya pada ibu itu yang penampilannya tidak begitu meyakinkan “nama putra ibu siapa?”. Ibu : “ Si Fulan”. Mendengar jawaban itu AM tambah ragu, karena nama tersebut memang pimpinan sebuah bank besar yang nama bank dan pimpinannya sama-sama terkenal. Dalam hati AM berkata jangan-jangan ibu ini hanya mengaku-aku, karena nama yang disebutkan tadi memang sungguh-sungguh terkenal. Dengan niat menguji dan ragu atas kejujuran ibu itu, AM bertanya lagi “si Fulan anak nomor berapa bu?” Ibu: “anak nomor dua dari empat bersaudara mas”. AM : “ yang nomor tiga dimana bu?”. Ibu: “wah repot mas”. AM berpikir pasti anak nomor tiganya hidupnya tidak sukses dan itu berarti jauh dari pikiran logis bahwa si Fulan tadi adalah anaknya. AM menyela: “repot kenapa bu ?” Ibu: ”lha gimana gak repot mas, kalau saya harus tengok tinggalnya jauh sekali”. AM : “dimana bu?” sembari berpikir bahwa anaknya tersebut pasti tinggal di pedesaan tertinggal. Ibu menjawab : “di Amerika mas, makanya saya jarang tengokin dia, fisik saya mudah lelah sekarang”. Tidak kurang akal Am nakal mengkorek info kembali dari ibu itu. AM : “anak nomor empat ada dimana bu?”. Ibu : “di Bandung”. AM : “kerja dimana bu ?”. Ibu : “tidak kerja mas”. AM : “lha terus hidupnya dari mana bu ?”. Ibu : “ya dari perusahaan miliknya mas, ia dihidupi dari duaribu pegawainya yang cakap dan loyal”. Setengah tidak yakin (bukan setengah gelas lho) AM mengkorek lagi , ia makin penasaran karena anak yang nomor satunya kok tidak pernah diceritakan “lha kalau anak nomor satunya dimana bu?”. Kali ini sang ibu menjawab dengan jelas dan lengkap “anak saya yang nomor satu hanya jadi petani mas di Yogya, dari kerjakerasnya itulah ketiga adik-adiknya ia sekolah sampai sarjana hingga mendapatkan pekerjaan dan posisi seperti itu. Kami ditinggal bapak saat anak-anak masih kecil, ibu menghidupi anak-anak dalam keterbatasan. Anak saya yang nomor satu tidak mau meneruskan sekolah setelah tamat SMK, ia memilih jadi petani untuk membiayai adik-adiknya sekolah hingga kuliah. Nah sekarang ini setiap menjelang lebaran tiba adik-adiknya yang jadi pengusaha di Bandung dan pimpinan perusahaan di Jakarta maupun di Amerika selalu bersilaturahmi pada petani itu yang tidak lain adalah kakaknya yang penuh perjuangan, pengorbanan dan kesederhanaan”. Mendengar cerita itu Anak Muda itu (AM) merasa bersalah pada diri sendiri dan pada orang lain, gumamnya “mengapa saya merasa paling hebat ya ? ternyata ada orang lain yang lebih hebat dari saya” (komen : hehe….eksekutif kok baru tau sekarang, eksekutif jadul kali ya…), “wah lain kali saya tidak boleh meremehkan orang lain yang penampilannya hanya bersahaja, saya kira ibu-ibu itu hanya PRT, ternyata pejuang tangguh yang menghasilkan anak-anak yang juga tangguh”

7 Comments

  1. Subhnallah…, betapa kita tidak boleh memandang rendah orang yang penampilannya bersahaja; betapa kita tidak boleh memandang bahwa profesi ini rendah dan profesi itu berkelas, asal halal dan dilakukan penuh tanggung jawab serta berdedikasi tinggi, profesi apa pun sungguh mulia. Sebuah cerita sederhana yang cukup inspiratif, Pak. Terima kasih banyak nggih, Pak Teguh, akhirnya di dunia blog kita juga bertemu.

  2. anna

    jangan pernah memandang dengan sebelah mata akan profesi seseoran, biar itu seoran petani bahkan tukang becak sekalipun,,, dan hikmah yang penting dari kisah tersebut… adalah ‘…. TIDAK SELAMANYA GENERASI PETANI AKAN JADI PETANI TERUS…. KITA BISA MENGUBAH NASIB… SELAGI KITA MAU…DAN BUKAN BERARTI PETANI ITU BUKAN PEKERJAAN MULI…”

  3. Agama telah mengajarkan moral dan kebaikan sejak 14 abad yang lalu. Bagimu pekerjaanmu dan bagiku pekerjaanku (AL QUR’AN : 10; YUNUS : 41), bagimu amalanmu dan bagiku amalanku (AL QUR’AN : 2; AL BAQOROH : 139; AL QUR’AN : 28; AL QOSHOSH : 55), itu adalah bagian dari sifat saling mengakui eksistensi masing-masing sekaligus rasa saling menghormati satu dari yang lain. Terimakasih.

  4. idul

    Ijin berbagi ke teman2 ya pak… terima kasih…

    • Silahkan dishare ke teman-teman, semoga bermanfaaat walau hanya sedikit. Salam sukses sllu. Trmksh

  5. Pejuang Tangguh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: