PARENTING : GEMUK VS KURUS

Oleh : Drs. H. Teguh Sunaryo

Direktur DMI PRIMAGAMA INDONESIA

Kesehatan adalah nikmat yang pertama setelah iman. Betapa senangnya jika kita punya iman yang kuat dan kesehatan yang terjaga, terlebih jika hidup bisa sejahtera lahir dan batin. Dalam indikator kesehatan, seseorang dikatakan sehat ada ukurannya masing-masing. Ada nilai normal standarnya. Misalnya cholesterol normal 150-250 mgr/dl; asam urat normal 2.5-7.0 mgr/dl; hematokrit normal L 40-48% P 37-43%; trombosit normal 150,000-400,000 sel/mm3 dst.

Tetapi dalam pergaulan sehari-sehari terkadang penilaian atas kesehatan seseorang sangatlah beragam. Saya sering mendengar kata-kata pujian yang senang dari seorang ibu saat ia melihat ada anak kecil yang gemuk “ah lucu ya anak itu gemuk sekali”, “ah subur sekali ya anak itu, menggemaskan”, padahal tidak semua gemuk itu baik. Sebaliknya ada juga yang bilang “ah anak itu gemuk sekali, kasihan ya jika kelak ia besar apa bisa pede”, “wah apa tidak kegemukan ia, itu khan obesitas yang banyak menyimpan sumber penyakit”, “apa tidak keberatan membawa badannya sendiri”, “waduh kalau beli sepatu dan baju dimana ia, apa cukup ukurannya”, dst.

Saya juga sering mendengar komentar antar satu ibu kepada ibu lainnya, terutama saat mereka membicarakan orang lain yang ada disekitarnya, atau saat sedang berjumpa setelah sekian lama tidak bertemu “ibu itu kok sekarang gemuk sekali ya, apa tidak bisa mengatur badan”, “ibu itu kok sekarang kurus sekali ya, apa sedang sedih ia”, padahal tidak semua kurus itu buruk, “hai, gimana khabarnya, lho kok gemuk sekali makmur ya”, “hai gimana khabarnya, lho kok gemuk sekali sekarang ada masalah apa”. Pertanyaan-pertanyaan serupa atau komentar-komentar serupa juga sering saya dengar terhadap orang-orang yang kurus, “lho jeng sekarang kok makin kurus, ada masalah apa”, “lho kamu kok kurus, sedang sakit ya”.

Sebagai pria, saya tidak begitu ambil pusing terhadap kondisi badan seseorang, ya saya lihat adalah bagaimana keramahan dan kesopanan seseorang kepada saya dan sebaliknya. Sehingga saya merasa kasihan kepada orang yang disapanya. Seolah-olah jadi orang bertambah gemuk salah dan bertambah kurus juga salah, bukankah tingkat kesehatan seseorang sudah ada ukurannya ?. Apa tidak bisa ya kita menyapa orang yang gemuk dengan bahasa sanjungan “wah sekarang gemuk lho, ya semoga itu tanda-tanda makmur”, “wah sekarang langsing lho, diet dimana ini”. itupun jika kita ingin menyapa seseorang yang kita kenal dengan mengomentari bentuk badannya. Sedangkan bagi mereka yang rasional, biasanya jika harus menyapa seseorang, mereka melakukannya tanpa menyebut bentuk dan ukuran badan seseorang. Misalnya  “bagaimana khabarnya bu, semoga baik-baik selalu”, “bagaimana khabarnya pak, semoga sehat-sehat selalu”, atau kepada teman dekat “wah lama ya kita tidak ketemu, nampaknya makin OK aja ini”, atau “kemana saja, lama tidak ketemu mbak, ada khabar baik buat saya”, dst.

Pada intinya, dalam kesempatan ini saya hanya ingin menyampaikan bahwa : a) Setiap kita berjumpa dengan orang yang kita kenal maka sapalah terlebih dahulu dengan baik dan santun, dengan ramah dan penuh pujian, jangan menjadikan ukuran badan seseorang sebagai bahan olok-olokan walau tanpa sengaja sekalipun, mungkin tidak sengaja bagi kita tetapi menyakitkan bagi yang lain. Ciptakan kesempatan yang sangat langka saat berjumpa dengan sapaan yang berkesan dan menyenangkan, tanpa menyinggung perasaan orang lain. Gemuk dan kurus adalah ralita yang cukup kita saksikan saja tanpa perlu ada komentar yang berlebihan dan justru menimbulkan musuh-musuh baru bagi kita. Bagi yang gemuk punya alasannya tersendiri, dan bagi yang kurus pun demikian, tetapi sekali lagi ukuran kesehatan itu bukan semata-mata hanya dilihat dari gemuk atau kurusnya seseorang, ukuran cantik tidaknya seseorang pun demikian, banyak variable yang harus dipertimbangkan, dan serahkan semua pada ahlinya. Memang terlalu gemuk itu tidak bagus bagi kesehatan dan terlalu kurus pun demikian, tetapi biarlah dokter yang ahli dibidangnya yang menjawabnya. b) Hematlah hidup dengan biaya yang seperlunya, agar tidak terlalu gemuk jangan terlalu banyak makan, itu khan jadi boros. Sementara jika sudah terlalu gemuk untuk menguruskannya juga sulit dan butuh biaya yang relatif juga tidaklah murah sehingga malah muncul biaya yang berikutnya. Makanlah dengan pola makan yang sehat dan sempurna, berolahragalah secara ringan, rutin dan berkelanjutan. Ada 4 (empat) kebutuhan dasar tumbuh-kembang anak dan orang dewasa yang tidak bisa diabaikan satu sama lainnya yaitu : gizi, edukasi, rekreasi dan silaturahmi. Semoga bermanfaat. Terimakasih.

 

 

Tulisan ini dipersembahkan oleh :

Manajemen PT. DMI INDONESIA

(Under Lisence Brainy Lab. PTE. LTD. Singapore & Colaboration With Comcare Group Singapore)

 

Kantor Pusat DMI PRIMAGAMA :

GRAHA POGUNG LOR  No : 2, 3, 4 (Lantai 1)

Jl. Ringroad Utara, Pogung Lor, Yogyakarta

Telp / Fax. :  (0274) 625 168

 

Layanan Konsultasi Psikologi (Hanya bagi yang sudah ikut Tes Bakat Deteksi DMI):

 

Contact Person :

  • Teguh Sunaryo HP : 085 643 383838 (Direktur)
  • Isworo Gunarsih  HP : 081 2278 5915 (Sekretaris)
  • Eko Yulianto HP : 085 328 012345 (Kepala Lab dan Teknisi)
  • Nurmey Nurul Chaq HP : 081 5790 2340 (Koordinator Konsultan Psikologi)
  • Bambang Hastobroto HP : 081 2269 3277 (Keuangan)

 

Info Lebih Detail Lihat di Website :  www.dmiprimagama.com & di Webblog : https://dmiprimagamapusat.wordpress.com

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: