PARENTING : MENJADI SINGLE PARENT

Oleh : Drs. H. Teguh Sunaryo

Direktur DMI PRIMAGAMA INDONESIA

ORANGTUA

Sekolah dan fakultas menjadi orangtua efektif tidak pernah ada, tetapi masih beruntung kita para orangtua pernah menjadi anak muda dan anak-anak sebelumnya. Itu berarti menjadi orangtua harus bisa belajar dari bagaimana interaksinya ketika masih menjadi anak-anak dengan orangtuanya, walau seratus persen tidak harus sama atau copy paste saja. Kita bisa bayangkan betapa enaknya menjadi anak-anak, taunya hanya menuntut saja kepada para ortunya, mau makan tinggal minta dan tinggal disuapi saja, mau mandi sudah disediakan air hangat secukupnya, mau ke sekolah diantarkan ayah-bunda, mau baju baru tinggal minta dan menangis jika tidak dikabulkannya, bangun tidur seenaknya dan tinggal nunggu dibangunkan dan disiapkan peralatan mandinya, dst. Dan sebaliknya betapa repotnya orangtua kita dulu saat menghadapi perilaku kita sebagai anak-anak mereka, dan saat ini posisi itu berbalik dan terbalik “kita yang dahulu sebagai anak-anak dengan berbagai macam perilakunya, kini kita sekarang menjelma sebagai orangtua”. Menjadi orangtua yang lengkap (ayah-bunda) saja begitu repotnya, apalagi menjadi orangtua yang sendirian (single parent). Kita tidak pernah tahu apakah kita akan mengalaminya atau tidak, tetapi setidaknya kita harus punya pengetahuan tentang keadaan dan tantangan saat seseorang harus menjadi orangtua tunggal (single parent).

SINGLE PARENT

Seseorang yang menjadi orangtua tunggal harus melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh pasangannya, maka orangtua tunggal sebaiknya mengetahui apa yang menjadi keperjaan utama pasangannya saat di dalam rumah. Terhadap para suami harus mengetahui “pekerjaan internal” istri kita, kita wajib tahu, dan akan lebih baik jika kita mampu melakukannya. Misalnya, memasak, mencuci, antar-jemput anak, memandikan, bersih-bersih rumah, mengatur pembantu, mmendampingi sikecil bermain, menemani belajar anak, mengajak diskusi mereka jika anak-anak sudah remaja, menemani tidur dan bercerita, berbagi kisah keseharian, mendengarkan keluhan. Sedangkan bagi para istri harus tahu “pekerjaan eksternal” suami kita, terutama bagaimana menggantikan posisi mereka dalam keterampilannya mencari nafkah. Jika seorang suami dahulu berwirausaha, bisakah kita meneruskan usahanya itu, jika ia seorang pegawai bisakah kita mendapatkan peluang kerja yang sesuai dengan kemampuan kita dst. Mengurus pekerjaan internal rumah tangga sulit, mengurus pekerjaan eksternal mencari nafkah itu juga berat. Belum lagi jika jumlah anak-anak kita banyak. Itu semua baru dari sudut pandang ekonomis, belum lagi dari aspek psikologis dan sosiologis.

ASPEK EKONOMI

Siapa saja yang tidak mau mendapatkan ‘penderitaan lebih” maka ia harus mau melakukan “persiapan lebih”. Dalam konteks berkeluarga dalam Islam, seorang pria berkewajiban mencari nafkah seberapapun besarnya. Dalam islam setiap manusia tidak diwajibkan berlomba-lomba untuk mencari kekayaan, tetapi berlomba-lomba dalam kebajikan dan berlomba-lomba dalam meminta ampunan Tuhan. Sehingga jika ada sebuah keluarga dimana seorang ayah tidak bekerja mencari nafkah untuk keluarganya, maka secara islami konsep dan amal berkeluarganya patut dipertanyakan. Hal tersebut menjadi kesulitan yang nyata ketika pasangan hidupnya (istrinya) harus berpisah entah karena perceraian atau kematian, wanita mana yang kelak sanggup menjadi penggantinya.

Demikian pula dalam suatu keluarga, walau dalam konsep berumahtangganya sudah benar (suaminya bekerja mencari nafkah) tetapi karena sesuatu hal sang suami harus berpisah, maka sang istri harus bisa menggantikan peran suami dalam ketrampilannya mencari nafkah.

Itulah pentingnya pendidikan kemandirian dan keahlian menata ekonomi keluarga bagi siapa saja, baik pria maupun wanita. Ada beberapa keahlian yang yang harus disiapkan sejak dini (sebelum berumahtangga atau sejak remaja) bagi kita dalam berumahtangga dalm aspek ekonomi. Pertama, memiliki wawasan entrepreneurship. Kedua, memiliki ketrampilan khusus. Ketiga, gemar menabung, dalam kondisi bahagia tidak lupa daratan. Keempat, memiliki aset yang bisa dijadikan pasive income. Kelima, memiliki wawasan psikologi leadership.

Persiapkan kelima aspek tersebut jika tidak ingin menyesal dikemusian hari, lebih baik sedia payung sebelum hujan, dan siapkan sekoci sebelum badai menimpa perahu kita.

ASPEK PSIKOLOGI

Mental dalam kesendirian dalam masa transisi amatlah berat, tetapi itu akan berlalu dengan seiringnya waktu. Percayalah dalam psikologi tetap berlaku istilah “semua bisa karena biasa”, “semua sulit saat awalnya saja’. Langkah psikologi yang harus diambil pada saat transisi menjadi orangtua tunggal (single parent) adalah merapat pada keluarga besar (ayah-ibu kandung / mertua jika masih ada, kakak-adik, dan keponakan), dan keluarga inti sendiri yaitu merapat dan lebih dekat kepada anak-anak kita sendiri terutama saat anak-anak masih dalam kategori usia belum mandiri atau usia dini. Konsentrasikan perhatian hanya pada masa kini dan masa depan anak-anak kita saja. Masa depan anak-anak kita adalah masa depan kita juga. Perbanyaklah mengoleksi buku-buku cerita yang menginspirasi, dalami dan pahami, berbagilah dengan anak-anak kita, mereka sangat membutuhkan stimulasi positif dari kita.

ASPEK SOSIOLOGI

Menjadi orangtua tunggal bukanlah kehendak bagi kita semua. Semua orang pasti menghendaki yang terbaik bagi dirinya. Pasangan yang baik, ekonomi yang baik, anak-anak yang baik dan keutuhan keluarga yang juga baik-baik. Tetapi kenyataan tidak selalu seperti yang kita harapkan. Untuk itu bagi siapa saja yang kebetulan menjumpai mereka yang berstatus orangtua tunggal (single parent) marilah kita jangan mudah berburuk sangka. Tidak berburuk sangka kepada mereka saja kita sudah tidak menambah beban berat hidupnya, terlebih jika kita bisa berempati sebagaimana mestinya. Para ayah bekerja mencari nafkah sendirian tanpa ada suport dari orang yang dicintainya selama ini, pulang kerumah lelah menjumpai anak-anaknya tanpa ibu yang melahirkannya. Para ibu harus belajar kerja sendirian tanpa nasihat dan pendampingan suami yang pernah dicintainya, anak-anak harus ditinggalkannya di rumah tanpa dirinya dan tanpa ayahnya.

Untuk itu secara sosiologis kita sebagai orangtua tunggal harus memahami kebiasaan masyarakat dimana kita tinggal, dan kita harus lebih dekat lagi kepada mereka terutama saat-saat kita memiliki waktu luang. Masyarakatpun harus bisa memaklumi bahwa betapa beratnya menjadi orangtua tunggal, jangan samakan kewajiban sosial-ekonomi orangtua tunggal dengan kewajiban sosial-ekonomi orangtua yang masih utuh di tengah-tengah pergaulan masyarakat. Beri support secara memadai. Sebaliknya bagi para orangtua tunggal bangun komunikasi lebih efektif kepada para tetangga dekat kita, dengan santun dan tanpa perasaan minder. Selama kita tidak melakukan perbuatan asusila tidak cukup alasan bagi kita untuk tidak eksis ditengah-tengah pergaulan masyarakat, baik bagi tetangga rumah tinggal kita atau bagi lingkungan kerja kita.

Semoga semua bisa dilewati dengan hati yang tulus dan sabar, perasaan yang optimis dan syukur, serta jiwa yang penuh semangat dan tidak mudah menyerah. Terimakasih, dan semoga bermanfaat.

Tulisan ini dipersembahkan oleh :

Manajemen PT. DMI INDONESIA

(Under Lisence Brainy Lab. PTE. LTD. Singapore & Colaboration With Comcare Group Singapore)

Kantor Pusat DMI PRIMAGAMA :

GRAHA POGUNG LOR  No : 2, 3, 4 (Lantai 1)

Jl. Ringroad Utara, Pogung Lor, Yogyakarta

Telp / Fax. :  (0274) 625 168

Layanan Konsultasi Psikologi (Hanya bagi yang sudah ikut Tes Bakat Deteksi DMI):

Contact Person :

  • Teguh Sunaryo HP : 085 643 383838 (Direktur)
  • Isworo Gunarsih  HP : 081 2278 5915 (Sekretaris)
  • Eko Yulianto HP : 085 328 012345 (Kepala Lab dan Teknisi)
  • Nurmey Nurul Chaq HP : 081 5790 2340 (Koordinator Konsultan Psikologi)
  • Bambang Hastobroto HP : 081 2269 3277 (Keuangan)

Info Lebih Detail Lihat di Website :  www.dmiprimagama.com & di Webblog : https://dmiprimagamapusat.wordpress.com

2 Comments

  1. makasinya atas informasinya top deh

    • Semoga bermanfaat…salam kenal dan salam sukses selalu…aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: