PERJALANAN KERETA API MALAM

Seorang laki-laki nampak tergesa-gesa menuju ke stasiun Gambir Jakarta, ia mengajak dua anaknya laki-laki dan perempuan. Umur keduanya antara 5 sampai 8 tahun. Ketiganya akan menempuh perjalanan yang panjang ke kota Yogyakarta. Selama dalam perjalanan kedua anak tersebut nampak begitu ceria, ia membayangkan akan bertemu ibunya kembali setelah seminggu berpisah karena sesuatu hal. Di jakarta keduanya diajak oleh ayahnya untuk menjenguk kakeknya yang sedang sakit, sementara ibunya ada tugas kantor yang tidak bisa ditinggalkannya di Yogyakarta, sehari-hari mereka tinggal di yogyakarta. Mereka hidup bersama tanpa ada seorang pembantu rumahtangga, sehingga bigitu akrabnya anak-anak dengan ibunya.

Selama dalam perjalanan ayahnya hanya diam, melamun saja, menatap hampa gerak-gerik kedua anaknya.  Keduanya ramai bernyanyi saling bersahutan, sesekali lari kesana kemari di dalam gerbong kereta malam. Tidak jarang mereka berdiri di atas kursi sambil melihat ke depan dan kebelakang di antara penumpang yang lainnya. Tanpa merasa bersalah atau mengganggu orang disekitarnya anak-anak itu bersuaru keras dan terkadang nampak gaduh juga. Menjelang pagi dini hari, seorang ibu tidak kuasa menahan kantuknya, mengingatkan kedua anak itu agar diam dan tidak mengganggu banyak orang yang sedang tidur. Tetapi himbauan itu hanya didengar sebentar saja, tak lama kemudian mereka ramai kembali. Tidak lama kemudian ibu tersebut merasa perlu memberitahukan kepada ayah anak itu agar anak-anaknya tidak bising kembali. Dengan santun ibu itu membangunkan seorang bapak yang masih muda yang sedang tertidur lelap. “Mohon maaf pak, mohon anak-anaknya dikendalikan agar tidak mengganggu orang yang sedang tidur”. Kemudian dengan rasa penuh kasih sayang, ayah muda tersebut meraih tangan anak-anak mereka sembari membelainya. Dibisikkannya ditelinganya agar mereka segera tidur dan jangan ramai kembali. Tetapi karena sifat anak-anak, mereka hanya tidur sebentar dan terbangun kembali. Dalam hati sang ayah berkata “apakah ini hubungan ikatan batin yang sangat kuat antara anak-anak dengan ibunya?”. Karena tidak bisa menahan rasa pedih dihati, seorang ayah muda tadi, bertutur dengan terbata-bata kepada ibu yang membangunkannya. Laki-laki tersebut meminta nasihat kepada ibu tadi bagaimana caranya memberitahukan kepada kedua anaknya yang masih kecil-kecil bahwa ibu mereka siang tadi meninggal dunia karena suatu kecelakaan. Mendengar kalimat dan air mata yang keluar dari mulut dan mata sang ayah, kedua anak itu menangis histeris diikuti rasa menyesal dari  seorang ibu yang merasa terganggu oleh ulah kedua anak itu. Dalam hati sang ibu berkata “Untung saya tadi menegurnya dengan sikap yang santun”. Dengan derai air mata tanpa bisa dibendung ibu-ibu tadi menemani kedua anak-anak itu untuk bermain dan mendongeng sibisa-bisanya hingga tiba di stasiun Tugu Yogyakarta. Nah apa yang akan anda lakukan jika anda kebetulan bersama dalam satu gerbong yang sama pada malam itu ? Dan bagaimana sikap anda jika itu terjadi pada keluarga anda ? Semoga bermanfaat bagi kepekaan kalbu kita. Terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: