UJI KEJUJURAN DAN SPORTIFITAS

Pada suatu saat ada sekelompok regu sedang berlatih. Pelatihan kepemimpinan diikuti oleh 30 orang peserta. Pada hari pertama pelatihan dibuka oleh seorang instruktur yang berwibawa. Menjelang istirahat makan siang beliau mempersilahkan mengambil nasi  arem-arem yang sangat lezat (nasi yang dibungkus daun pisang) sebagai menu makan siang. Beliau sengaja menyediakan sejumlah peserta saja, bahkan beliau sendiri tidak turut makan siang karena jumlahnya memang dibuat pas. Nasi arem-arem disediakan diruang makan, dan tanpa disadari perilaku mereka direkam kamera cctv. Seperti biasa pelatihan setelah usai istirahat berjalan dengan lancar. Menjelang usai pelatihan pada hari itu sang instruktur bertanya “Siapa yang tidak kebagian nasi arem-arem ?” Pertanyaannya bukanlah “Siapa yang mengambil nasi arem-arem dua atau lebih ?“, pastilah tidak ada yang berani menjawab.  Tidak begitu lama ada dua orang peserta yang menjawab dengan tegas dan lantang tanpa merasa bersalah, karena memang tidak bersalah “Saya tidak kebagian nasi arem-arem pak intsruktur !”. Kemudian, kedua orang tersebut diminta maju di depan kelas, dan diminta dengan sungguh-sungguh menjawab dengan jujur, dan mereka berdua tetap menjawab “Sungguh saya tidak kebagian !”. Sore hari itu semua peserta pelatihan yang berjumlah 30 orang diberi hukuman atau sanksi semuanya. Mereka diminta untuk push-up sebanyak 100 kali push-up. Selama diberi hukuman mereka saling menyalahkan, ada yang menyalahkan yang mengaku tidak kebagian, tetapi ada juga yang sibuk bertanya-tanya siapa yang makannya lebih dari satu. Tanpa terasa keringat mengalir membasahi baju mreka masing-masing. Setelah usai menjalani hukuman maka sang ketua kelas merapatkan kelompoknya seraya berkata “Siapa yang makannya dobel ?” Tidak ada yang mau mengaku. Setelah disidang sampai sore tidak juga ketemu siapa yang makan dobel itu, maka diambillah sebuah kesimpulan bersama bahwa lain kali, jangan ada yang makan dobel, atau setidak-tidaknya jika terpaksa ada yang masih makan dobel dan ketahuan maka dia harus didenda memberi makan semua orang dalam satu kelas atau jika tidak ketahuan, maka bagi yang tidak kebagian jangan sampai mengaku bahwa dirinya tidak kebagian. Itu semua dilakukan demi kebersamaan dan menghindari hukuman kembali. Semua dilakukan atas dasar keputusan bersama bahkan tidak ada seorangpun yang menolak.

Tanpa terasa hari pelatihan sudah akan berakhir. Pelatihan dilakukan selama lima hari. Dan pada hari yang kelima itu, instrukturnya adalah orang yang mengajar pada hari pertama. Para peserta masih ingat bagaimana capeknya mereka dihukum push-up. Dan ketika instruktur itu masuk ke ruang kelas maka semua pesrta teringat akan kesepakatan yang pernah mereka buat. Nah, sang instruktur yang berpengalaman itu benar-benar memberikan ujian kembali. Beliau membawa nasi arem-arem sedikit lebih besar lagi dengan jumlah hanya 28 buah. Saat istirahat siang tiba oleh beliau semua peserta dipersilahkan makan siang dengan arem-arem yang telah disediakan. Karena sudah lapar para peserta hanya memikirkan perutnya masing-masing, mereka tidak sempat menghitung jumlah arem-arem tersebut,  bahkan satu-persatu mereka mengambil dengan enaknya tanpa menghiraukan yang lainnya. Tibalah dua orang terakhir akan mengambil arem-arem tersebut, ternyata sudah tidak bersisa, mereka berdua bertanya kepada ketua kelas “Kami berdua tidak kebagian, ini bagaimana ?”. Sang ketua kelas dengan sigap mengumpulkan semua anggotanya dan bertanya “Siapa yang makan arem-arem lebih dari satu ?”. Berkali-kali ditanya tidak ada yang mengaku. Karena kelas segera akan masuk kembali maka semua bersepakat tidak akan menjawab tidak kebagian jika ditanya oleh sang instruktur. Benar, saat instruktur itu masuk kelas beliau bertanya “Siapa yang tidak kebagian arem-arem ?”. Mereka tidak ada yang menjawab. Dan ketika instruktur itu bertanya “Siapa yang kebagian arem-arem ?”. Semua menjawab serentak “Saya kebagian!”. Tanpa diduga sang instruktur marah. Karena bagaimana bisa semua bisa kebagian arem-arem, jumlah yang ia bawa saja hanya 28 buah. Nah karena semua kompak berbohong maka semua peserta dalam satu kelas diberi hukuman kembali. Itulah kisah pelatihan kepemimpin berkarakter secara aplikatif yang diberikan seorang instruktur yang berpengalaman. “Janganlah kamu serakah atau egois dengan merugikan orang lain” dan “Janganlah kamu bekerjasama dalam kebohongan atau kebatilan”. Semoga kisah ini bisa menginspirasi kita semua. Kisah tersebut disarikan dari bincang-bincang dengan pak Kalis Purwanto, saat makan pagi bersama di hari jumat, 21 Okt 2011 di Graha Pogung Lor Yogyakarta. Semoga bermanfaat. Terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: