ANTARA KRITIK DAN PUJIAN

Oleh : Drs. H. Teguh Sunaryo

Direktur DMI PRIMAGAMA INDONESIA

Banyak orang salah kaprah membandingkan makna antara kritik dengan pujian. Orang sering senang memberikan pujian dari pada kritikan dengan asumsi bahwa banyak orang senang dipuji dibandingkan dengan dikritik. Tidak jarang pujian yang salah bisa membuat orang menjadi terlena. Perlu diingat bahwa fungsi keduanya sangatlah berbeda. Ibarat gula tentu berbeda dengan garam. Keduanya hampir sama bentuk dan warnanya tetapi sangat berbeda rasanya. Gula memiliki rasa manis, sementara garam memiliki rasa asin. Sayur apapun jika tanpa garam maka ia akan menjadi hambar, dan minum kopi apapun akan menjadi pahit tanpa diberi gula. Fungsi garam dan gula adalah menyempurnakan “performa” sesuai peruntukannya. Sama dengan kritik dan pujian. Saat seseorang sedang melakukan kesalahan tentu bukan malah diberi pujian, jika ia kurang peka maka ia merasa tidak bersalah, dan akibatnya akan tetap melakukan hal dan kesalahan yang sama. Demikian dengan kritikan, orang yang sedang berduka cita sangat tidak bijaksana jika kita beri kritikan. Itu berarti bahwa antara kritikan dan pujian harus dihadirkan pada saat yang tepat dan tempat yang tepat, dengan demikian “performa” seseorang akan tampil penuh perbaikan dan kebanggaan menuju ke arah yang lebih baik. Ibarat kopi menjadi manis, dan ibarat sayur asam terasa makin enak, nikmat dan tidak hambar.

Bagi seorang tokoh kritik adalah vitamin. Tokoh yang besar justru berbuat tidak butuh pujian, ia merasa pujian akan segera menjatuhkannya, dan menjadikan seseorang bisa terlena. Sedangkan bagi “tokoh kecil” atau “orang biasa” pujian menjadi “kebahagiaan” dan kebanggaan yang menyenangkan. Hati-hatilah dengan pujian seseorang, itu pasti ada maksudnya, cermati jangan sampai terlena. Sebaliknya kritikan akan menjadi “alat pembunuh” bagi mereka yang berjiwa kerdil dan gila sanjungan. Untuk itulah dalam pergaulan sehari-hari kita harus bisa menata diri kita masing-masing dengan baik, siapkan mental dalam pergaulan yang penuh dinamika dan sangat heterogen ini. Tetap bersikap dewasalah jika menerima kritikan atau pujian.

Sebagai seorang pemimpin, pujian dan kritikan menjadi bagian instrumen dan tools yang bisa membesarkan dirinya sekaligus anak buahnya. Seorang pemimpin adalah tokoh, maka ia harus siap mental mendapatkan kritikan yang datang bertubi-tubi sekalipun. Sebagai pemimpin kita harus mengerti tinggi rendahnya “dosis kritikan” yang harus diberikan pada anak buahnya, dan harus mengerti “timingnya” saat kritikan itu diberikan kepada para mitranya. Sebagai anak buah terimalah kritikan walau pahit tetapi obat, kririkan yang realistis akan mendewasakan kita. Kritikan juga bisa dijadikan indikator banyak tidaknya seseorang melakukan kesalahan, tebal tipisnya mental seseorang. Pujianpun demikian, bisa dijadikan tolok ukur kepribadian seseorang, mana yang senang disanjung dan mana yang biasa-biasa saja terhadap datangnya suatu sanjungan.

Mengkritik terus-terusan itu juga kurang bijaksana, terlalu sering memuji itu juga menjadi kurang berarti. Tidak pernah mengkritik tanda tidak berani, dan tidak pernah memuji tanda kurang empati. Singkat kata, keduanya dibutuhkan demi dinamikanya suatu hubungan yang tidak pernah akan sempurna. Keduanya bisa hadir saling silih berganti bergantung suasananya, keadaannya, peruntukannya dan sikap mental para personnya. Bergaulah dengan orang-orang yang berpikir positif, maka anda akan terhindarkan dari suatu debat yang tidak begitu penting antara beda kritikan dan pujian. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tekun dan total, maka anda tidak akan terasa waktu berlalu begitu saja. Berpikirlah positif walau mendapatkan kritikan dan tetap bertindaklah positif jangan cepat puas walau penuh pujian, tidak terlena apalagi leha-leha. Ikhlaslah dalam memberikan pujian dan santunlah dalam menyampaikan kritikan. Dan harus diingat bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatunya itu senantiasa berpasang-pasangan, dan tidak ada yang sia-sia, serta petiklah hikmahnya. Kritikan adalah hal yang biasa yang menjadi hidup menjadi luar biasa. Bisa luar biasa sakitnya, juga bisa luar biasa dahsyatnya untuk menjadikan kita segera bangkit. Dan jangan pernah anda berharap mendapatkan suatu pujian jika anda selalu menghindari suatu ujian, “ada pujian ada ujian, ada kritikan ada kebangkitan“. Kritik dan pujian adalah bumbu kehidupan. Selamat berkarya dan saling memberi manfaat bagi sesama. Terimakasih.

Tulisan ini dipersembahkan oleh :

Manajemen PT. DMI INDONESIA

(Under Lisence Brainy Lab. PTE. LTD. Singapore & Colaboration With Comcare Group Singapore)

Kantor Pusat DMI PRIMAGAMA :

GRAHA POGUNG LOR  No : 2, 3, 4 (Lantai 1)

Jl. Ringroad Utara, Pogung Lor, Yogyakarta

Telp / Fax. :  (0274) 625 168

Layanan Konsultasi Psikologi (Hanya bagi yang sudah ikut Tes Bakat Deteksi DMI):

Contact Person :

  • Teguh Sunaryo HP : 085 643 383838 (Direktur)
  • Isworo Gunarsih  HP : 081 2278 5915 (Sekretaris)
  • Eko Yulianto HP : 085 328 012345 (Kepala Lab dan Teknisi)
  • Nurmey Nurul Chaq HP : 081 5790 2340 (Koordinator Konsultan Psikologi)
  • Bambang Hastobroto HP : 081 2269 3277 (Keuangan)

Info Lebih Detail Lihat di Website :  www.dmiprimagama.com & di Webblog : https://dmiprimagamapusat.wordpress.com

2 Comments

  1. setuju sekali, Pak, kritikan dan pujian harus dihadirkan pada saat yang tepat dan tempat yang tepat; sungguh, bila ini dijadikan pegangan, betapa indah hidup ini….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: