Tanggapan Tulisan Mitos tentang Bakat

  • Menanggapi Tulisan “Mitos tentang Bakat” (Jawapos, selasa, 13 desember 2011 hal 6). Yang ditulis oleh Renald Kasali.
  • Kesimpulannya sang penulis adalah pengikut aliran empirisme, bukan aliran nativisme. sedangkan DMI termasuk aliran konvergensi, gabungan antara bakat (nativisme, naturalisme) dengan kerjakeras (pengalaman dan pelatihan/ empirisme, behaviorisme).
    Sudah sangat jelas bahwa sejak dulu ketiga teori itu selalu muncul dan selalu punya pengikutnya masing-masing, dan kita bebas untuk memilihnya, (dan masing-masing selalu merasa paling benar).
  • Pertanyaan bagi para pengikut aliran empirisme adalah : Apakah setiap orang yang kerja keras pasti sukses seperti tokoh-tokoh yang ia contohkan (Wolfgang Amadius Mozart, Albert Einstein dan Charles Darwin ? Tidak bukan ? Karena masih ada banyak variable lainnya – tidak sekedar kerja keras – , asal melangkah saja, sebagaimana tumbuhan dan hewan yang tidak pernah mau dan bisa kenal bakatnya (misalnya). Dan itu juga tidak berarti empirisme adalah mitos bukan ?
  • Ya, jaman dahulu orang tidak perlu kenal bakat, sebagaimana jaman dahulu juga tidak mandi menggunakan shampoo bukan ? Jaman berkembang dan tidak stagnan ! jaman dahulu ceramah juga tidak harus masuk TV dan berdasi bukan ? Mengapa pak Renald pakai dasi ? Apa itu berarti dasi adalah mitos bagi orang yang anti dasi ?
  • Renald Kasali berkata seperti itu karena ia bukan ahli keberbakatan, bahwa kerja keras itu penting itu iya, dan siapa yang bilang bahwa jika orag sudah kenal bakatnya kemudian tidak perlu bekerja keras ? Ini seperti saja pendapatnya orang yang tidak punya mobil, ia akan berkata bahwa untuk sukses tidak perlu punya mobil cukup punya sepeda motor saja dan bisa sukses. Sedangkan bagi yang tidak punya sepeda motor akan mengatakan bahwa sukses tidak perlu sepada motor cukup dengan sepeda kayuh saja bisa sukses. Nah jika itu yang terjadi maka debat kusir namanya, tidak sekedar debat tentang mitos ? dan kita jangan terjebak pada debat kusir.
  • Tidak pahamnya seseorang atas “sesuatu” tidak berarti bahwa “sesuatu itu” adalah mitos, ini (bukan itu) sama persis pendapat anak TK yang tidak paham “teori integral” atau “ilmu ekonomi” kemudian ia berkata bahwa “teori integral” atau “ilmu ekonomi” itu adalah mitos !
  • Renald mestinya memberikan komentar sesuai keahliannya saja yaitu aspek bisnisnya, bukan pada aspek keberbakatannya. Dengan mengatakan bakat adalah mitos itu berarti beliau telah merendahkan para Guru Besar lainnya yang telah menulis tentang pentingnya pengembangan bakat seperti para Guru Besar di bidang pendidikan dan bidang psikologi, misalnya seperti ibu Prof. Dr. Utami Munandar dan ibu Prof. Dr. Reni Akbar Hawadi, yang selama ini bergelut dibidang keberbakatan.
  • Teknologi memang bisa dioperasikan oleh siapa saja yang mau belajar. Produk apa saja yang bisa disistemkan dalam bentuk soft ware programa computer, memang bisa dipakai oleh siapa saja, tapi tidak berarti bisa menciptakannya. Semua orang yang bisa mengoperasionalkan computer tidak berarti sekaligus adalah penciptanya. Tidak semua sopir adalah pemilik sekaligus pencipta mobil yang sedang dikendarainya. Itulah hebatnya teknologi, kehadirannya untu mempermudah kehidupan ini. Sebagaimana alat tes bakat fingerprint test, penggunanya tidak harus ahli computer, tidak harus ahli bakat, yang penting ia mahir mengunakan alat tersebut, toh setelah hasil tes bakatnya jadi, maka sang ahli psikologilah yang akan mengurai dan menjelaskannya.
  • Jika seorang Renald bebas berbicara mengenai apa saja, maka itu berlaku pula bagi orang yang lainnya untuk melakukan hal yang sama. “ah seorang marketer memang gusar jika tidak lagi punya produk yang bisa dijual” atau “ah seorang marketer memang mudah panic jika kalah bersaing”. Tentu semua akan berjalan dengan baik jika masing-masing kita berjalan sesuai keahliannya tanpa meremehkan bidang lainnya, dengan kesombongannya, subhanallah.

Yogyakarta, selasa, 13 Desember 2011

Teguh Sunaryo

Pengikut Aliran Konvergensi (Dalam khasanah dunia pendidikan dan pengajaran, bukan pada khazanah dunia ekonomi). Aliran konvergensi adalah aliran yang mengatakan bahwa bakat alami (genetika, nativisme, naturalisme) itu penting dan lingkungan serta pengalaman (empirisme, behaviorisme, nurturalisme) itu juga penting.

14 Comments

  1. salut buat Pak Teguh, lebih baik beraksi nyata daripada memperdebatkan teori dan konsep semata.

    • Betul sobat, bukan saatnya hanya berdebat, apalagi hanya pakai kusir, gak pakai pilot…haha…slmt berkarya dan salam sukses selalu…tq

  2. Bambang Rd

    Seseorang bernilai dan bermakna karena kemampuan komunikasi personal maupun komunal. namun demikian yang lebih diperhatikan bagaimana komunikasi yang bertanggungjawab. artinya siapapun bisa mengomentari tentang cara pandang seperti yang dimauinya, tapi ingat perlu analisa dan data yang akurat agar kita jangan disalah artikan sebagai asbun=asalbunyi. Bakat itu PASTI…salam smart Luar Biasa Pak teguh..

  3. rahma dini w

    viva! Mr Teguh

  4. mr abduh.... pendekar gunung prewangan

    semuanya benar… yg penting tak perlu diperdebatkan… wong ilmu itu berkembang…. yg penting menghargai sesuai disiplin ilmu masing-masing tanpa harus memvonis yg lain adalah salah….. wis ra njamane ???? sukses untuk bos tegsun…..

  5. Bowo

    Saya dulu sebelum melakukan Tes …sependapat dengan Pak Renald, tapi setelah membuktikan sendiri ikut Tes ( saya Tes 2 x ), saya hampir tidak percaya…kok bisa ya….pikiran, sifat dan bakat saya di baca oleh Laporan DMI. Apakah Pak Renald berkenan untuk Tes ????

    • Teguh Sunaryo

      1) Kata Renald “Albert Einstein diramalkan menjadi anak yang bodoh”…Siapa nama peramalnya ? Apakah tes bakat sama dengan meramal ?
      2) Kata Renald “Charles Darwin, Beethopen” mereka tidak pernah dikenal dari alat-alat tes…Apakah jaman dahulu sudah ada alat tes bakat seperti jaman sekarang ? Apakah setiap yang dahulu tidak ada, maka harus berarti yang sekarang juga tidak boleh ada, lantas dimana kreatitiftas dan inovasi itu letaknya ? Dimana ilmu itu harus berkembang ?
      hehe…aneh ya cara mengambil kesimpulan beliau….dahulu Einstein juga tidak pakai HP pak….tq

  6. ERNI PRAYESTI UTAMI

    Betul sekali Bapak.Bicara dg KESOMBONGAN,menandakan ketidak mampuan.Sukses kagem Bapak n team DMI.

  7. idha

    Betul sekali pak, kami sudah membuktikan hasilnya, jadi tdk perlu mendengarkan komentar2 yang akan mematikan semangat. Salam sukses…!

    • Teguh Sunaryo

      Yup…kita tdk boleh mundur “hanya karena komentar”, dan saya hanya sekedar memberikan “imbangan hak jawab” yang setimpal…toh masyarakat bebas menilainya “cara pandang seperti apa yg terbaik”…salam sukses selalu untuk kita semua…tq

  8. okiq

    (copas dari berbagai sumber )….. Rahasia di Balik Sidik Jari,Sidik jari merupakan identitas pribadi yang tak mungkin ada yang menyamainya. Jika di dunia ini hidup 6 miliar orang, maka ada 6 miliar pola sidik jari yang ada dan belum ditemukan seseorang yang memiliki sidik jari yang sama dengan lainnya. Karena keunikannya tersebut, sidik jari dipakai oleh kepolisian dalam penyidikan sebuah kasus kejahatan (forensik). Makanya pada saat terjadi sebuah kejahatan, TKP akan diclear up dan dilarang bagi siapa saja untuk masuk karena dikhawatirkan akan merusak sidik jari penjahat yang mungkin tertinggal di barang bukti yang ada di TKP.Ada tiga jenis sidik jari yaitu Whorl (lingkaran), Loop (sangkutan) dan Arch (busur). Sifat-sifat atau karakteristik yang dimiliki oleh sidik jari adalah parennial nature yaitu guratan-guratan pada sidik jari yang melekat pada manusia seumur hidup, immutability yang berarti bahwa sidik jari seseorang tak akan pernah berubah kecuali sebuah kondisi yaitu terjadi kecelakaan yang serius sehingga mengubah pola sidik jari yang ada dan individuality yang berarti keunikan sidik jari merupakan originalitas pemiliknya yang tak mungkin sama dengan siapapun di muka bumi ini sekali pun pada seorang yang kembar identik. Ilmu yang mempelajari sidik jari adalah Daktiloskopi yang berasal dari bahasa Yunani yaitu dactylos yang artinya jari jemari atau garis jemari dan scopein yang artinya mengamati.Uniknya lagi, sidik jari dapat pula dijadikan panduan mengidentifikasi bagaimana potensi seseorang, jadi sebenarnya kita bisa mengetahui bakat atau potensi kita sehingga kita bisa mengakomodasikan potensi kita untuk jenis pekerjaan apa yang paling cocok dengan bakat kita tersebut. Cara identifikasi bisa dilakukan secara kasat mata dengan orang yang pakar di bidangnya, atau ada juga yang menggunakan sebuah alat khusus pembaca sidik jari (finger print reader) yang dihubungkan ke sebuah komputer bersoftware khusus yang kemudian menganalisa berdasarkan titik-titik yang menjadi acuan. Adapun yang bisa diidentifikasi adalah mengenai pengendalian logika seseorang, reflek serta perkembangan otak. Mengenai bentuk dan pola sidik jari yang terdiri dari tiga jenis di atas memiliki ciri-ciri yang khas yaitu :
    • Whorl (melingkar) yaitu bentuk pokok sidik jari, mempunyai 2 delta dan sedikitnya satu garis melingkar di dalam pattern area, berjalan di depan kedua delta. Jenis whorl terdiri dari Plain whorl, Central pocket loop whorl, Double loop whorl dan Accidental whorl.
    • Loop adalah bentuk pokok sidik jari dimana satu garis atau lebih datang dari satu sisi lukisan, melereng, menyentuh atau melintasi suatu garis bayangan yang ditarik antara delta dan core, berhenti atau cenderung berhenti ke arah sisi semula.
    • Arch merupakan bentuk pokok sidik jari yang semua garis-garisnya datang dari satu sisi lukisan, mengalir atau cenderung mengalir ke sisi yang lain dari lukisan itu, dengan bergelombang naik di tengah-tengah.Salah satu cara mengidentifikasikan dengan alias uji membaca sidik jari dengan metode dermatoglyphic, ilmu pengetahuan yang usianya ratusan tahun.Derrmatoglyphic dari bahasa Yunani, derma berarti kulit dan glyph yaitu ukiran adalah ilmu pengetahuan yang berdasarkan teori epidermal atau ridge skill (garis-garis pada permukaan kulit, jari-jari, telapak tangan, hingga kaki). Dermatoglyphic mempunyai dasar ilmu pengetahuan yang kuat karena didukung penelitian sejak 300 tahun lalu.Para peneliti menemukan epidermal ridge memiliki hubungan yang bersifat ilmiah dengan kode genetik dari sel otak dan potensi inteligensia seseorang. Penelitian dimulai oleh Govard Bidloo pada tahun 1685. Lalu, berturut-turut dilakukan oleh Marcello Malpighi (1686), J.C.A. Mayer (1788), John E. Purkinje (1823), Dr. Henry Faulds (1880), Francis Galton (1892), Harris Hawthorne Wilder (1897) dan Noel Jaquin (1958).Beryl B. Hutchinson tahun 1967 menulis buku berjudul Your Life in Your Hands, sebuah buku tentang analisis tangan. Terakhir, hasil penelitian Beverly C. Jaegers (1974), sidik jari tercermin dalam karakteristik dan psikologi seseorang. Hasil penelitian mereka telah dibuktikan di bidang antropologi dan kesehatan.

  9. singkat padat jelaz maxna luaz

  10. memang sih interaksionis/konvergensi memandang benar pentingnya melihat bakat bawaan, nurture(pola asuh), behavior dan pengalaman, namun kalau tes (kalaupun benar bisa) hanya melihat pada satu unsur “bawaan saja” maka tidak terlalu bermanfaat, karena kalau saja ortu peka, ortu juga akan mampu melihat bakat anak tanpa harus melakukan tes yang mahalnya minta ampun. just follow the money guys n you’ll find the truth

    • 1. Kalau bukan bawaan namanya “BUKAN BAKAT”.
      2. Teori konvergensi menggabungkan antara bawaan dan lingkungan, jadi kalau hanya bakat bawaan saja, itu namanya bukan teori atau aliran konvergensi, tetapi aliran nativisme.
      3. Mahal itu relatif, bagi orang yang tidak punya uang maka semuanya menjadi mahal.
      4. Jika orangtuanya peka, apalgi cerdas, mungkin didik saja sendiri bisa. Tetapi apakah semua orangtua peka ? trmksh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: