MERANCANG GENERASI SMART BERBASIS BAKAT

Oleh : Drs. H. Teguh Sunaryo

Direktur DMI PRIMAGAMA INDONESIA

PENGANTAR

Banyaknya angka pengangguran intelektual, serunya tawuran antar pelajar, semaraknya berita mobil esemka yang mengiringi ramainya berita korupsi, menjadikan bahan renungan bagi kita bersama, mengapa itu semua bisa terjadi ? Tentu persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan semudah membalikkan tangan, semudah mimpi yang indah dan hilang saat kita terbangun. Kita harus merencanakan pembangunan manusia antar generasi (kaderisasi longterm / berkelanjutan), yaitu generasi setiap dua puluh tahunan. Coba kita perhatikan perjalanan antar generasi di negeri ini. Kemerdekaan RI tahun 1945, tahun 1965 pergolakan kekuasaan, tahun 1985 pergolakan ekonomi, mata uang terpuruk, terjadi devaluasi ekonomi, tahun 1998 pergantian kekuasaan (kurang tujuh tahun dari duapuluh tahun). Jika kita ambil angka tahun 1998 sebagai pedoman, maka tahun 2018 apa yang akan terjadi ? Sementara kesepakatan dunia sudah ditandatangani dengan adanya perdagangan bebas. Pada tahun 2010. perdagangan bebas asean dan china, tahun 2015 perdagangan bebas asia pasific dan tahun 2020 (dekat dengan tahun 2018) perdaganagn bebas dunia, pertanyaannya adalah : sudah siapkah kita menghadapi tahun 2020 (delapan tahun lagi dari sekarang tahun 2012) ? Pada tahun 2020, usia anak kita sudah berapa tahun ? atau duapuluh tahun lagi berapa usia anak kita ? Sudahkan anak-anak kita siapkan secara sungguh-sungguh, detail dan matang untuk menghadapi persaingan di dalam negeri dan di luar negeri ?  Sudahkah mereka kita siapkan untuk mengantisipasi krisis kebangsaan terpahit sekalipun berupa  pergolakan kekuasaan dan badai ekonomi (walau kita berharap itu tidak terjadi) ? Itulah pentingnya menyiapkan (merencanakan) anak-anak kita dengan sekenario setiap periode generasi (tidak sekedar berjangka pendek tetapi juga berjangka panjang) untuk menghindari gap generation dan lose generation.

GENERASI SMART

Generasi smart adalah generasi yang siap menjadi pemimpin saat datangnya perubahan setiap duapulutahunan, dan generasi smart adalah generasi yang bisa mandiri pada saat usianya beranjak remaja (bukan lagi menunggu dewasa / dewasa = matang). Ada tiga momentum periode waktu / generasi penting yang harus dipertimbangkan bagi perencanaan masa depan anak-anak kita antara lain, a) Agenda dalam negeri / nasional berupa Pemilu RI, tahun 2014, 2019, 2024, 2029, 2034. Pada tahun-tahun tersebut, kita dan anak-anak kita sudah berusia berapa ? b) Agenda luar negeri / internasional berupa tahapan perdagangan bebas dunia, tahun 2010 perdagangan bebas asean dan china, tahun 2015 perdagangan bebas asi pasific, tahun 2020 perdagangan bebas dunia. Pada tahun-tahun tersebut, kita dan anak-anak kita sudah berusia berapa ? c) Generasi usia produktif manusia, antara lain adalah usia 25 tahun, 30 tahun, 35 tahun, 40 tahun, 45 tahun, dan 50 tahun.

Terlepas dari adanya agenda a dan agenda b, sesungguhnya anak-anak kita pada momentum  generasi usia produktif (momentum c), sudah harus bisa hidup mandiri  dan bahkan (jika mau dikatakan generasi smart) harus juga mampu menjadikan orang lain hidup mandiri (tidak sekedar jadi pegawai/ employe atau self employe, tetapi juga sudah mampu menjadi pemimpin bagi orang lain, punya pegawai, punya pengikut, punya massa, mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain dan tidak sekedar bisa mengisi lowongan pekerjaan yang ada, apalagi sekedar menunggu datangnya lowongan pekerjaan).  Generasi smart adalah generasi yang : proaktif (tidak sekedar aktif apalagi pasif), produktif (tidak sekedar menghasilkan, tetapi juga mampu mendorong orang lain punya penghasilan), visioner (tidak sekedar punya cita-cita pribadi, tetapi punya agenda yang jelas untuk setiap tahap pergantian generasi), humanis (tidak sekedar peduli diri sendiri, keluarga sendiri, tetapi juga peduli kepada sesama tanpa batas ras, suku bangsa dan agama), menjadi insan global (tidak sekedar paham budaya lokal, nasional, dan budaya regional, tetapi paham budaya internasional. Tidak sekedar mampu menjadi pemimpin adat untuk sukunya saja, dan  tidak sekedar mampu memimpin bangsa untuk negaranya saja tetapi juga mampu tampil menjadi pemimpin kelas dunia yang mampu memimpin bangsa-bangsa di semua penjuru dunia / sesuai dengan bidang keahliannya).

BERBASIS BAKAT

Untuk mempermudah pencapaian cita-cita, sebaiknya anak-anak jangan diharapkan untuk menjadi pribadi yang ahli di segala bidang. Kebanyakan anak berbakat tidak berkembang karena ia diberi beban berat melampaui batas kemampuannya. Ia harus serba bisa dan ia harus bisa apa-apa. Paradigma anak ”harus serba bisa” benar-benar harus diubah dan disingkirkan, anak bukanlah dewa yang serba bisa (dewa saja tidak serba bisa). Karena itu anak-anak hanya dituntut punya satu keahlian bidang saja (savant), spesific dan profesional, dunia tidak menuntut keahlian disemua bidang bagi seseorang, termasuk bagi anak-anak kita.

Bakat adalah kemampuan individual, bukan kemampuan kolegial. Bakat adalah kemampuan personal, bukan kemampuan komunal, maka pendidikan yang spesific dan profesional yang menciptakan orang-orang yang spesialis sangat sesuai dengan pendidikan berbasis bakat. Bakat adalah “potensi  inheren spesifik” yang dibawa seseorang sejak ia lahir, dan merupakan “bahan baku” suatu kompetensi atau keahlian. Setiap orang dilahirkan dengan Bakat yang berbeda. Bakat  adalah kemampuan inherent dalam diri seseorang, dibawa sejak lahir dan terkait dengan struktur otak (Prof. Dr. Conny Semiawan, Perspektif Pendidikan Anak Berbakat, Grasindo, 1997, hal 11). Pendidikan berbasis bakat adalah pendidikan yang mempedulikan bakat, untuk dikenali, dikembangkan dan diarahkan sesuai dengan bakat unggulnya/ bakat utamanya. Bakat adalah karunia Tuhan yang harus disyukuri. Jika bakat tidak penting mengapa Tuhan menciptakannya untuk kita ? Dan jika bakat itu penting, maka bagaimana kita mengenalinya ?

Ada tiga cara penelusuran dan pengenalan bakat seseorang, yaitu a) Melalui cara eksplorasi atau pengalaman sehari-hari. Setiap anak dikenali pengalaman unik dan menariknya, setiap anak diberikan sebanyak mungkin pengalaman berupa beraneka macam les atau kursus sebagai suatu stimulasi, manakah yang paling optimal, maka itulah hal yang patut diduga sebagai bakat. b)  Melalui cara observasi, yaitu melalui pertanyaan-pertanyaan, dan menjawab soal-soal tertulis, melalui alat ukur psikometri yang diberi skoring dengan cara-cara tertentu. c) Melalui cara deteksi, dengan cara ini tes bakat dilakukan melalui teknologi terkini (biometric dan biopsikologi) yang dilakukan dengan programa dan statistika komputer melalui media sepuluh sidik jari tangan kita. Kita bisa melakukan dengan cara ketiganya sekaligus atau memilih satu diantaranya yang kita yakini tingkat kebenarannya. Dengan cara deteksi sidik jari bisa dilakukan secara cepat dan tidak perlu cemas karena tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan, tidak pakai tes yang sulit-sulit dan mendapatkan layanan konsultasi psikologi oleh para psikolog secara cuma-cuma gratis selamanya / seumur hidup / lifetime. Nah sudahkah bakat anak-anak kita kenali ?

PEMBENAHAN KURIKUKUM SECARA FUNDAMENTAL

Untuk merancang generasi smart yang diidam-idamkan tidaklah bisa dilakukan secara sendirian, ia akan lebih efektif jika juga dilakukan secara sistemik, maka tidak bisa dihindari adanya konsep pendidikan berbasis bakat yang mempedulikan bakat akan sangat efektif jika dilakukan melalui pembenahan kurikulum. Pembenahan kurikulum tidak sekedar sebagai suatu bongkar pasang begitu saja tanpa konsep yang cerdas dan matang, namun harus dilakukan secara strategis dan menyangkut hal-hal yang fundamental dan substansial. Harus dipahami bahwa proses pendidikan adalah bagian dari suatu ikhtiar pemberdayaan manusia, manusia diberdayakan agar mandiri dan memiliki kompetensi. Bisa mandiri karena ia memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh diri sendiri sekaligus oleh orang lain. Kompetensi bisa diraih jika potensi yang ada pada dirinya selalu diasah melalui sutau proses stimulasi. Dan stimulasi akan menjadi efektif jika fokus dan sesuai dengan potensi para peserta didiknya. Pertanyaannya adalah : Sudahkah pembelajaran di negeri ini fokus ? Sudahkah materi ajarnya sesuai dengan bakat anak-anak kita ? Sudahkah para tenaga pengajarnya mengenali potensi anak didiknya ? Sebuah rangkaian pertanyaan yang esensial yang harus dijawab dengan penuh kesungguhan, kejujuran, kecerdasan, dan tanggungjawab yang tidak gegabah (tanggungjawab besar). Dengan kerjasama yang cerdas dan harmonis, jujur dan terbuka antara sistem pendidikan formal, informal dan noformal, maka lambat laun generasi smart akan terwujud. Dengan kerjasama yang erat antara pihak eksekutif, legeslatif dan para tokoh pendidikan nasional yang handal, maka secara cepat generasi smart akan terlihat.

KESIMPULAN

Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini, maka kita dituntut harus selalu berikhtiar, jangan cepat puas bagi yang telah sukses dan jangan putus asa bagi yang masih gagal. Berlomba-lombalah dalam kebaikan, maka selalu siap untuk selalu dibandingkan dengan yang lain, dengan orang lain, dan dengan bangsa lain. Manusia adalah makhluk yang unik, maka jadilah dirimu sendiri, kembangkanlah cita-citamu dan raih masa depanmu berdasarkan keunggulannmu sendiri (potensi dan bakatmu sendiri) bukan berdasarkan keunggulan orang lain, bukan berdasarkan trend sesaat, bukan berdasarkan minat sesaat yang berubah-ubah setiap saat.

Bukalah topeng kita (bukan potensi orang lain) dan pakailah wajah kita sendiri (potensi diri sendiri), yakinkan bahwa wajah alami karunia Tuhan (bakat alami inherent)  akan lebih cantik dan abadi (bermanfaat) jika hanya disyukuri dan dirawat, bukan diganti apalagi sekedar ditutup-tutupi. Dan sesungguhnya eksistensi manusia terletak pada kualitas kepribadiannya. Pada karyanya dan pada kemanfaatannya. Pada prestasinya dan pada reputasinya. Pada kompetensinya dan pada pengabdiannya. Pada prosesnya dan pada hasilnya. Hakikat keberadaan manusia adalah Berbakat, Belajar dan Berkarya, dari skala yang paling kecil sampai skala yang besar dan raksasa. Dari orientasi jangka pendek, ke orientasi jangka menengah dan berjangka panjang (longterm).

Untuk mengakhiri tulisan ini ada suatu ungkapan yang mungkin bisa dipetik hikmahnya bagi sebagian kita, bahwa, Orang Bijak adalah orang yang “membeli sesuatu karena manfaatnya”, Orang Tangguh adalah orang yang mau dan mampu mengembangkan bakat unggulnya menjadi karya nyata, dan Orang Cerdas adalah orang yang “menilai sesuatu karena manfaat jangka panjangnya”, bukan hanya manfaat sesaat berjangka pendek saja. Terimakasih.

Tulisan ini dipersembahkan oleh :

Manajemen PT. DMI INDONESIA

(Under Lisence Brainy Lab. PTE. LTD. Singapore & Colaboration With Comcare Group Singapore)

Kantor Pusat DMI PRIMAGAMA :

GRAHA POGUNG LOR  No : 2, 3, 4 (Lantai 1)

Jl. Ringroad Utara, Pogung Lor, Yogyakarta

Telp / Fax. :  (0274) 625 168

Layanan Konsultasi Psikologi (Hanya bagi yang sudah ikut Tes Bakat Deteksi DMI):

Contact Person :

  • Teguh Sunaryo HP : 085 643 383838 (Direktur)
  • Isworo Gunarsih  HP : 081 2278 5915 (Sekretaris)
  • Eko Yulianto HP : 085 328 012345 (Kepala Lab dan Teknisi)
  • Nurmey Nurul Chaq HP : 081 5790 2340 (Koordinator Konsultan Psikologi)
  • Bambang Hastobroto HP : 081 2269 3277 (Keuangan)

Info Lebih Detail Lihat di Website :  www.dmiprimagama.com & di Webblog : https://dmiprimagamapusat.wordpress.com

Info lengkap tentang bimbingan belajar : www.primagama.co.id

Kenali bakat anda (atau anak anda) melalui fingerprint test DMI Primagama sekarang juga !

——————————————————————————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: