Perencanaan Strategis

Manusia adalah makhluk yang sebaik-baiknya. Ia mampu membuat rencana bagi masa depannya. Berbeda dengan makhluk lainnya yang menghadapi hidup mengalir begitu saja mengikuti arus kemanapun ia berjalan, tanpa arah dan tanpa tujuan. Sehingga sangatlah disayangkan jika kita membengkalaikan potensi yang kita miliki, tanpa sadar kita telah men-down grade-kan level kemanusiaan kita sendiri. Orang yang seperti ini hidupnya pasti penuh ketidakpastian, selalu tergesa-gesa dan risau, sulit bersyukur dan tidak visioner. Sulit berdamai dengan diri sendiri serta lingkungannya.

Ada tiga Perencanaan Besar yang harus dilakukan oleh manusia yang ingin berkembang menjadi manusia yang bermanfaat dan beradab dengan sebaik-baiknya  al :

  1. Perencanaan hidup (Life Planner)
  2. Perencanaan karier (Career Planner)
  3. Perencanaan keuangan (Financial Planner)

Ketiganya merupakan perencanaan yang kita butuhkan agar kualitas hidup kita bisa menjadi lebih baik, nyaman dan berkecukupan, skala besar namun tidak penuh kegalauan, atau skala kecil namun penuh kebahagiaan, itulah hidup yang sejahtera lahir dan batin. Ketiga perencanaan itu semuanya penting, namun prioritasnya adalah membuat life planning terlebih dahulu, kemudian baru career planning dan yang terakhir financial planning. Perencanaan hidup adalah grand strategi bagi perjalanan sepanjang hidupnya, dari lahir sampai meninggal dunia. Sedangkan perencanaan karier, adalah suatu upaya dimana seseorang harus berkarya dalam menopang eksistensi dirinya. Harga diri seseorang dapat dilihat sejauh mana manfaatnya dalam kariernya, dan dalam karyanya. Sedangkan perencanaan keuangan, adalah sebuah upaya atas hasil karya kita (laba, gaji, nafkah, bonus, insentif, dll) untuk dikelola bagaimana penggunaan dan penyimpanannya agar efektif dan efisien, agar tepat guna bagi kebutuhan jangka pendek maupun kebutuhan jangka panjang.

1. Life Planner.

Bagaimana visi anda pada saat usia sekolah ? Bagaimana visi anda saat sudah selesai kuliah ? Bagaimana visi anda saat sudah mendapatkan pekerjaan dan menjadi karyawan ? Bagaimana visi anda saat anda sudah pensiun dan anak-anak mulai meninggalkan anda ? Anda ingin dikenang sebagai orang biasa atau orang yang memiliki keahlian tertentu ? Anda ingin dikenang sebagai orang awam biasa atau seorang tokoh di bidang tertentu ? Ini semua harus direncanakan dan diupayakan, sehingga hidup tidak tolah-toleh ke kiri dan ke kanan, tidak serba ragu dan bimbang, dan tidak dipermaikan oleh keadaan, namun justru kitalah yang mewarnai keadaan. Namun bagi anda yang hidupnya dengan penuh kesadaran diciptakan menjadi orang yang biasa saja, maka perencanaan hidup tidak begitu anda butuhkan. Tapi harus anda sadari bahwa anda adalah orang biasa yang semuanya menjadi serba biasa dan tidak menjadi istimewa, kecuali mukjizat memang ada menghampiri anda. Cara membuat life planning adalah dengan berdasarkan potensi diri yang ada miliki. Karena perencanaan hidup ini sebaiknya dilakukan sejak dini, maka potensi alami perlu segera dimengerti. Pada usia dini belumlah punya pengalaman yang berarti yang bisa dijadikan acuan terciptanya visi. Namun jika harus sudah punya pengalaman yang berarti terlebih dahulu maka biasanya usianya sudah terlambat andai terdapat pengalaman  yang keliru yang harus dibenanhi. Ciptakan visi berbasis potensi, miliki cita-cita berbasis berbasis talenta, kenali bakat kalau ingin dikenal sebagai orang hebat.

2. Career Planner.

Setelah perencanaan hidup yang berjangka panjang kita miliki dan kita yakini, maka tugas berikutnya adalah mendaratkan dan mewujudkannya. Cara mewujudkannya adalah dengan membuat perencanaan jangka pendek berupa perencanaan akademik (academic planning) berupa sekolah atau study di bidang apa, yang sesuai dengan potensi utamanya (bakat unggulnya) atau perencanaan pelatihan yang dibutuhkan sesuai dengan bakatnya, training di bidang apa ? Persoalan tempatnya harus dimana tidaklah begitu penting, yang penting adalah kesesuaiannya antara potensinya dengan aktivasinya atau stimulasinya.

3. Financial Planner.

Pada akhirnya memuntut ilmu sebagai upaya mengembangkan potensi diri membutuhkan biaya, namun biaya tidak akan lebih besar jika prosesnya efektif dan efisien. Dari sejak mengenali potensi diri, menetapkan visi, mengedukasi diri, memberikan aktivasi atau stimulasi semuanya membutuhkan biaya, maka semua itu haruslah direncanakan secara realistis dan terukur. Setelah menjadi orang sukses pun perencanaan keuangan terus dibutuhkan, termasuk bagaimana merencanakan untuk anak-anak kita generasi berikutnya. Mereka harus lebih sukses dari pada seniornya, jangan ulangi kegagalan dan kesulitan kita kepada generasi berikutnya.

Demikianlah, peradaban manusia yang tumbuh dan berkembang selaras dengan kemajuan dan perubahan zaman. Perencanaan strategis menjadi titik awal untuk memulai dan bangkitnya suatu generasi bagi yang menghendaki. Direncanakan saja belum ada jaminan sukses, apalagi jika tidak memiliki perencanaan yang baik sama sekali. Semoga bermanfaat, dan mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Terimakasih.

Yogyakarta, Selasa, 21 Mei 2013

Persembahan DMI Primagama,

Lembaga Tes Bakat Sidikjari DMI di Indonesia,

Teguh Sunaryo

Direktur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: