MENCETAK GENERASI SMART BERBASIS BAKAT DAN KECERDASAN

Oleh Teguh Sunaryo

Direktur Lembaga Deteksi Bakat Sidikjari DMI Primagama

(Disampaikan pada Seminar Pendidikan Nasional dalam rangka Pelantikan Pengurus DPC Ikatan Alumni UNY Kabupaten Gunungkidul masa bakti 2014-1018 di Ruang Sidang Gedung DPRD Kabupaten Gunungkidul pada hari Sabtu, tanggal 10 Mei 2014). Panel bersama narasumber : Drs. Budi Utama, M.Pd. (Ketua DPRD Kab. Gunungkidul) dan Prof. Dr. H. Herminarto Sofyan (DPP-IKA-UNY).

1. PENGANTAR UMUM

Pendidikan nasional adalah masalah nasional. Artinya ini bukan masalah ”orang pendidikan saja”, tetapi masalah bersama yang harus dihadapi secara bersama. (Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc., Ed., 2009, hal 143).
Unesco memperkenalkan empat pilar belajar, yaitu : Learning to know, Learning to do, Learning to live together, dan Learning to be. (Prof. Dr. Soedijarto, M.A., 2008, hal 130). Belajar tidak sekedar memiliki pengetahuan semata, tetapi juga bisa melakukan dan mempraktekkan apa yang ia ketahui (to know). Setelah bisa melakukan sesuatu karena punya ketrampilan tertentu (to do) maka ia pun harus bisa bermanfaat bagi orang lain (to gather) dalam hidup berkomunitas yang berdampingan dengan saudara-saudara lainnya, dan kemudian ia pun harus bangga dan bisa menjadi dirinya sendiri (to be ; be your self) yang berbeda dari yang lain (individual differences) dalam rangka saling mengisi dan dan bergotong royong. Dan sinergisitas bisa optimal karena adanya kerjasama yang harmonis (the right man on the right place) antar komponen yang berbeda (Multiple Intelligences).
Pada diri setiap individu ada potensi, dan potensi itu dapat berbeda antar individu yang satu dengan individu lainnya (individual differences). Perbedaan individu itu dapat menyangkut kualitas potensi pancadaya (taqwa, cipta, rasa, karsa, karya), bakat, dan kondisi fisik. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., 2009, hal 213).

2. BAKAT DAN KECERDASAN

Apakah setiap manusia memiliki bakat ? Ya, setiap manusia memiliki bakat, namun bakat sebagai potensi harus dikembangkan menjadi prestasi dan menjadi suatu kenyataan. (Prof. Dr. Reni Akbar Hawadi, 2008, hal 125).
Bakat adalah suatu karakteristik unik individu yang membuatnya mampu (tidak mampu) melakukan suatu aktivitas dan tugas secara mudah (atau sulit) dan sukses (atau tak pernah sukses). (H. Yul Iskandar., MD., DSJ., MBAP., MASRS., Ph.D., 2000, hal 7).
Minat adalah usaha dan kemauan untuk mempelajari (learning) dan mencari sesuatu. (H. Yul Iskandar., MD., DSJ., MBAP., MASRS., Ph.D., 2000, hal 9).
Pengertian bakatpun berkembang ke arah bakat jamak dengan rumusan seperti : bakat seni, bakat verbal, bakat matematik/ numerikal, bakat mekanikal, bakat olahraga, bakat akademik, dll. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., 2009, hal 245).
Pengertian inteligensi sebagai ”kombinasi sifat-sifat manusia yang mencakup kemampuan untuk pemahaman terhadap hubungan yang kompleks; semua proses yang terlibat dalam berpikir abstrak; ” dan ”kemampuan untuk memperoleh kemampuan baru”. (Prof. Dr. Conny Semiawan, 2008, hal 11-12).
Setiap anak dianugerahi minat dan bakat yang berbeda-beda satu sama lain. Bakat merupakan potensi dalam (inherent) anak yang harus distimulasi (diaktivasi) terlebih dahulu sehingga dapat terlihat sebagai suatu kecakapan, pengetahuan, dan ketrampilan khusus yang menjadi bekal hidupnya kelak. (Bunda Lucy, Psi., 2009, hal 47).
Tujuan pendidikan pada umumnya ialah menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya secara optimal, sehingga ia dapat mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya, sesuai dengan kebutuhan pribadinya dan kebutuhan masyarakat. Setiap orang mempunyai bakat dan kemampuan yang berbeda-beda dan karena itu membutuhkan pendidikan yang berbeda-beda pula. Pendidikan bertanggungjawab untuk memandu (yaitu mengidentifikasi dan membina) serta memupuk (yaitu mengembangkan dan meningkatkan) bakat tersebut, termasuk dari mereka yang berbakat istimewa atau memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa. (Prof. Dr. Utami Munandar, 2004, hal 6).
Enam bidang keberbakatan menurut USOE (U.S. Office of Education) adalah bakat intelektual umum, bakat akademis khusus, bakat kreatif produktif, bakat seni, bakat psikososial atau memimpin, bakat psikomotor. (Prof. Dr. Utami Munandar, 2004, hal 28).
Delapan Kecerdasan Dasar (Kecerdasan Majemuk / Multiple Intelligences) meliputi : Kecerdasan linguistik (Word Smart), kecerdasan matematis-logis (Logic Smart), kecerdasan spasial-visual (Picture Smart), kecerdasan kinestetis-jasmani (Body Smart), kecerdasan musikal (Music Smart), kecerdasan interpersonal (People Smart), kecerdasan intrapersonal (Self Smart), kecerdasan naturalis (Nature Smart). (Thomas Armstrong, Ph.D., 2004, hal 2 – 4).
Setiap orang memang dilahirkan dengan berbagai bakat yang berbeda-beda. Bakat adalah kemampuan yang merupakan sesuatu yang ”inherent” dalam diri seseorang, dibawa sejak lahir dan terkait dengan struktur otak. Secara genetis struktur otak memang telah terbentuk sejak lahir, tetapi berfungsinya otak itu sangat ditentukan oleh caraanya lingkungan berinteraksi dengan anak manusia itu. (Prof. Dr. Conny Semiawan, 2008, hal 11).
Potensi kemampuan manusia yang mana yang akan menjadi pemeran utama dalam menemukenali masa depan yang harus ditemukan (success by design), dipersiapkan atau dihindari. (Prof. Dr. Conny Semiawan, 2008, hal 22-23).
Oleh karena itu, perkembangan ilmu yang tidak begitu cepat terjadi memerlukan pendekatan baru dalam pembelajarannya untuk menemukenali masa depan yang harus dihindari ataupun perlu disiapkan. (Prof. Dr. Conny Semiawan, 2008, hal 23-24).
Keberbakatan itu adalah ciri-ciri universal yang khusus dan luar biasa yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil interaksi dari pengaruh lingkungan. (Prof. Dr. Conny Semiawan, 2008, hal 25).
Hal yang paling penting adalah kita mengenali dan memelihara semua kecerdasan manusia yang bervariasi, dan semua kombinasi kecerdasan. (Prof. Howard Gardner, Ph.D., 2003, hal 29).
Ada tiga cara ilmu pengetahuan dalam mengenali bakat seseorang yaitu : (1) Metoda eksplorasi, yakni melalui trial and error, learning by doing, empirisme dan pengalaman berbagai jenis kursus yang membutuhkan banyak waktu dan biaya (experiencing various courses). (2) Metoda Observasi, yakni melalui varian psikotest berbasis psikometri ilmu psikologi, yang hasilnya senantiasa bisa berubah bergantung kondisi psikologis individu seseorang yang sedang dites. (3) Metoda Deteksi Bakat sidikjari berbasis teknologi (fingerprint test), yakni melalui kesepuluh disikjari tangan kanan dan kiri kemudian dipindai (di-scan) tanpa ada wawancara atau tanpa menjawab pertanyaan tertentu dalam bentuk apapun sehingga tidak menimbulkan rasa cemas. (Teguh Sunaryo, 2008, hal 2).

3. KURIKULUM SEBAGAI RANGKAIAN AKTIVASI (STIMULASI SISTEMIK) TERHADAP SUATU POTENSI

Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku individu yang diperoleh melalui pengalaman; melalui proses stimulus-respon; melalui pembiasaan; melalui peniruan; melalui pemahaman dan penghayatan; melalui aktivitas individu meraih sesuatu yang dikehendaki. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., 2009, hal 203).
Siapapun juga orangnya pasti mempunyai bakat yang unik, namun usaha apapun yang kita lakukan, maka tidak terelakkan lagi bagi kita bahwa belajar merupakan bagian dari proses untuk memaksimalkan bakat tersebut. (Edmund Bachman, Ph.D., 2005, hal 2).
Hasil belajar dirumuskan sebagai tahu, bisa, mau, terbiasa (disingkat TBMTb). (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., 2009, hal 204).
UU. No 20 tahun 2003, pasal 1 butir 19 : Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., 2009, hal 280).
Kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang diikuti peserta didik, atau apa yang dialami seorang di tempat ia belajar. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., 2009, hal 280).
Melalui sistem persekolahan yang modern dan bermutu akan lahir generasi baru dalam Indonesia merdeka yang ”cerdas” dan ”berkarakter”. (Prof. Dr. Soedijarto, M.A 2008, hal 73).
Tujuan sekolah seharusnya mengembangkan kecerdasan dan membantu orang mencapai sasaran profesi. (Prof. Howard Gardner, Ph.D., 2003, hal 25).
Design dari sekolah ideal saya di masa depan didasarkan pada dua asumsi. Pertama, adalah bahwa tidak semua orang mempunyai minat dan kemampuan yang sama, dan tidak semua kita belajar dengan cara yang sama. Kedua, bahwa tidak ada seorang pun yang dapat belajar untuk menguasai segala sesuatu (semua hal) yang ingin dipelajarinya, sekolah harus berpusat pada individu. (Prof. Howard Gardner, Ph.D., 2003, hal 25 – 26).
Kurikulum berpotensi menjebak karena kurikulum : a) diperlakukan lebih penting dari guru, b) diperlakukan sebagai sumber lengkap pengetahuan, c) diperlakukan sebagai program baku yang berpotensi universal, d) diperlakukan sebagai potensi utama dalam meningkatkan kualitas, e) sebagai strategi untuk melestarikan masa lalu. (Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc., Ed., 2009, hal 73-76).
Wallach (1976) pun menunjukkan bahwa mencapai skor tertinggi pada tes akademis belum tentu mencerminkan potensi untuk kinerja kreatif / produktif. (Prof. Dr. Utami Munandar, 2004, hal 25).
Perlu pula diingat bahwa kurikulum sekolah yang terlalu padat sehingga tidak ada peluang untuk kegiatan kreatif , dan jenis pekerjaan yang monoton, tidak menunjang siswa untuk mengungkapkan dirinya secara kreatif. (Prof. Dr. Utami Munandar, 2004, hal 46).
Kurikulum secara umum mencakup semua pengalaman yang diperoleh siswa di sekolah, di rumah, dan di dalam masyarakat dan yang membantunya mewujudkan potensi-potensinya. (Prof. Dr. Utami Munandar, 2004, hal 138).
Psikolog, guru BP atau pengelola program anak berbakat sebaiknya : a) mampu melakukan pengukuran / pengetesan, b) memahami berbagai gaya belajar dan motivasi, c) menguasai teori belajar perilaku, dan d) mengenal karakteristik khusus dari anak berbakat dan kreatif. (Prof. Dr. Utami Munandar, 2004, hal 248).
Guru, orangtua, dan pembimbing perlu mengenal bakat anak-anaknya sehingga dapat memberikan pendidikan dan menyediakan pengalaman sesuai dengan kebutuhan masing-masing. (Bunda Lucy, Psi., 2009, hal 64).
Ada empat substansi pembelajaran : (1) Stimulasi yang sesuai dengan potensi (2) Pengulangan (3) Pembiasaan, dan (4) Pemberdayaan. Potensi unggul dikenali kemudian diberi stimulasi secara berulang-ulang (aktivasi potensi) hingga tumbuh suatu kebiasaan positif yang berdampak pada kualitas keberdayaan seseorang. Potensi di deteksi sejak dini, pengulangan di lakukan berkali-kali (frekuensi, kuantita), pembiasaan menjadi budaya sehingga tanpa ada rasa terbebani (rasa senang, kualita), dan konsekuensinya adalah pribadi yang berdaya (cerdas, mahir) dan mandiri, berprestasi dan bermanfaat bagi lingkungan di sekitarnya. (Teguh Sunaryo, 2008, hal 1).

4. GENERASI SMART

Kompetensi merupakan wujud dari kekuatan seseorang dalam hal tertentu atau kemampuan seseorang melakukan satuan kegiatan yang dapat segera diwujudkan untuk memenuhi keperluan tertentu. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., 2009, hal 283).
Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang bersifat massal, muncul bersamaan dengan proses industrialisasi yang mengakibatkan terjadinya urbanisasi, vokasionalisasi, spesialisasi, serta mendorong orangtua meninggalkan anak untuk bekerja. Akibatnya orangtua tidak memiliki waktu untuk mendidik anak-anaknya. Karena itulah diperlukan suatu lembaga pendidikan yang khusus menyiapkan generasi muda untuk menghadapi tuntutan baru masyarakat modern. (Prof. Dr. Soedijarto, M.A., 2008, hal 95).
Melalui sistem persekolahan yang modern dan bermutu akan lahir generasi baru dalam Indonesia merdeka yang ”cerdas” dan ”berkarakter”. (Prof. Dr. Soedijarto, M.A., 2008, hal 73).
Pilar pendidikan nasional ialah ing ngarso sung tulodo, ing madyo bangun karso, tutwuri handayani. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., 2009, hal 58).
Ada empat prasyarat untuk meraih sukses : (1) Percaya Diri (2) Pandai Komunikasi (3) Daya Juang Tinggi (4) Kompetensi Inti. Tidak ada orang sukses yang tidak percaya diri, dan kebanyakan orang sukses adalah mereka yang pandai mempersuasi dengan membangun komunikasi pada kumunitas dan relasinya, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi kendala dan masalah, namun juga memiliki kompetensi tertentu yang relavan dengan zamannya. Sukses adalah kombinasi optimal antara bakat, minat dan cara hidup yang sehat. Dan puncak sukses adalah menjadi yang terbaik dalam bidangnya. (Teguh Sunaryo, 2008, hal 3)

5. KESIMPULAN

Kemampuan kreatif seseorang sering begitu ditekan oleh pendidikan dan pengalamannya sehingga ia tidak dapat mengenali potensi sepenuhnya, apalagi mewujudkannya. (Prof. Dr. Utami Munandar, 2004, hal 11).
Pengembangan potensi pembawaan ini akan paling mudah dan paling efektif jika dimulai sejak usia dini. (Prof. Dr. Utami Munandar, 2004, hal 13).
Dari sejarah tokoh-tokoh yang unggul dalam bidang tertentu ternyata memang ada diantara mereka yang semasa kecil atau sewaktu di bangku sekolah tidak dikenal sebagai seorang yang menonjol dalam prestasi sekolah, namun mereka berhasil dalam hidup. (Prof. Dr. Utami Munandar, 2004, hal 15).
Kreativitas adalah ungkapan (ekspresi) dari keunikan individu dalam interaksi dengan lingkungannya. Ungkapan kreatif ialah yang mencerminkan orisinalitas dari individu tersebut. Dari ungkapan pribadi yang unik inilah dapat diharapkan timbulnya ide-ide baru dan produk-produk yang inovatif. Oleh karena itu pendidik hendaknya dapat menghargai keunikan pribadi dan bakat-bakat siswanya (jangan mengharapkan semua melakukan atau menghasilkan hal-hal yang sama, atau mempunyai minat yang sama). Guru hendaknya membantu siswa menemukan bakat-bakatnya dan menghargainya. (Prof. Dr. Utami Munandar, 2004, hal 45).
Kunci sukses dari seorang anak adalah ketika ia dapat menjadi sesuai dengan potensi dan bakatnya, bukan berdasarkan apa kata orangtua maupun lingkungannya. (Bunda Lucy, Psi., 2009, hal 28).
Seseorang yang memiliki bakat dalam profesinya, rata-rata lebih sukses dibanding rekan seprofesinya yang sebenarnya tidak berbakat. (Bunda Lucy, Psi., 2009, hal 54).
Tidak ada kata terlambat untuk mengembangkan kemampuan bawaan dan memaksimalkan potensi anda. (Edmund Bachman, Ph.D., 2005, hal 6).

REFERENSI PUSTAKA

  1. Prof. Dr. Utami Munandar, ”Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat”, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, September 2004.
  2. Prof. Dr. Conny Semiawan, ”Perspektif Pendidikan Anak Berbakat”, Penerbit Grasindo, Jakarta, Januari 2008.
  3. Prof. Dr. Reni Akbar Hawadi, ”Psikologi Perkembangan Anak”, Penerbit Grasindo, Jakarta Maret, 2008.
  4. Prof. Howard Gardner, Ph.D., ”Multiple Intelligences”, Penerbit Interaksara, Batam Centre, Tahun 2003.
  5. Prof. Dr. Soedijarto, M.A., ”Landasan dan Arah Pendidikan Nasional kita”, Penerbit Kompas, Jakarta, Juli 2008.
  6. Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., ”Dasar Teori dan Praksis Pendidikan”, Penerbit Grasindo, Jakarta, 2009.
  7. Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc., Ed., ”Pendidikan Nasional Strategi dan Tragedi”, Penerbit Kompas, Jakarta, Juli 2009.
  8. H. Yul Iskandar., MD., DSJ., MBAP., MASRS., Ph.D., ”Test bakat, Minat, Sikap & Personality MMPI-DG”, Penerbit Yayasan Dharma Graha, Jakarta, Juli 2000.
  9. Thomas Armstrong, Ph.D., ”Sekolah Para Juara”, Penerbit Kaifa, Bandung, Cetakan IV, November 2004.
  10. Edmund Bachman, Ph.D., ”Metode Belajar Berpikir Kritis dan Inovatif”, Penerbit Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta, Cetakan pertama, September 2005.
  11. Bunda Lucy, Psi., ”Mendidik Sesuai Dengan Minat dan Bakat Anak”, Penerbit PT. Tangga Pustaka, Jakarta, Cetakan pertama, 2009.
  12. Teguh Sunaryo, “Makalah Seminar Pentingnya Mengenali Bakat Untuk Meraih Prestasi Puncak”, di Auditorium Universitas Mercu Buana Jakarta Barat, Sabtu, 23 Agustus 2008.

.

——————————Teguh Sunaryo : 085 643 383838————————–

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: