Psikologi Politik : Pasca pilpres RI tanggal 9 Juli 2014 dan Pelantikan Presiden tanggal 20 Okt 2014

Oleh : Teguh Sunaryo
Disampaikan pada Agenda Kolokium STiPsi Jogja, Jumat, 20 Maret 2015

1. Pengantar :

Dari sekian kali Indonesia menyelenggarakan pilpres, baru kali ini peserta capresnya (kandidatnya) hanya dua pasang saja. Sehingga “keunikan” yang ada sungguh-sungguh bisa dirasakan bedanya. Diantara beda yang mencolok adalah : (1) perang urat syaraf di media online. Masing-masing kubu saling menjelekkan satu sama lainnya. Website yang kaitannya dengan dua pasangan capres tiba-tiba muncul begitu banyaknya. Bahkan ada sebuah tabloid yang terang-terangan menjelekkan lawan politiknya. Perbedaan lainnya adalah (2) munculnya pengamat politik yang sebelumnya tidak pernah kita jumpai, yaitu bapak Prof. DR. Hamdi Muluk yang memberikan hasil pengamatannya melalui sudut pandang cabang ilmu psikologi politik. Dari kreatifitas beliau inilah istilah “psikologi politik” menjadi lebih popular. Beliau sering menyampaikan hasil pengamatan dan komentarnya melalui media TV. (3) adanya gugatan di meja hijau MK untuk pengambilan keputusan siapakah pemenang yang sah untuk menjadi presiden terpilih.

Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan isi tulisan dari aspek psikologi politik terhadap perilaku elit politik maupun para pendukungnya dalam kancah pilpres 9 juli 2014 dan pasca pelantikan presiden terpilih pada tanggal 20 Oktober 2014.

2. Definisi :

Ilmu psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Karena jiwa itu abstrak maka didekati melalui gejala kejiwaan seseorang melalui perilakunya secara ilmiah. Menurut Sartain : “Psikologi merupakan ilmu jiwa yang ilmiah yang scientifics”. Sedangkan menurut Morgan : “Psikologi sebagai suatu ilmu jiwa yang bersifat ilmiah yang didekati dengan penelitian yang dijalankan secara terencana, sistematis, terkontrol dan data empiris” (Sumber: Prof. Dr. Bimo Walgito, “Pengantar Psikologi Umum”, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2004, hal 2).

Ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari perihal negara dan bagaimana cara meraih sebuah kekuasaan dalam suatu system pemerintahan di suatu daerah atau Negara. Menurut Rod Haque : “Politik adalah kegiatan yang menyangkut cara bagaimana kelompok-kelompok mencapai keputusan-keputusan yang bersifat kolektif dan mengikat melalui usaha untuk mendamaikan perbedaan-perbedaan diantara anggota-anggotanya”. Sedangkan menurut Andrew Heywood: “Politik adalah kegiatan usaha suatu bangsa yang bertujuan untuk membuat, mempertahankan, dan mengamandemen peraturan-peraturan umum yang mengatur kehidupannya, yang berarti tidak dapat terlepas dari gejala konflik dan kerjasama. (Sumber: Prof. Dr. Miriam Budiardjo, “Dasar-Dasar Ilmu Politik”, Penerbit Gramedia, Jakarta, Edisi Revisi, Cetakan keempat, Oktober 2010, hal 16).

“Psikologi politik adalah penggabungan dari dua displin ilmu yang masing-masing mempunyai pengertian yang berbeda”. (Sumber: http://www.academia.edu/5603392/Psikologi_Politik_FINAL). Dan juga “Psikologi politik merupakan bidang interdisiplin yang tujuan substantive dasarnya adalah menyingkap kesaling-terkaitan antara proses psikologi dan proses politik”. (Sumber: http://arti-definisi-pengertian.info/arti-psikologi-politik/) Obyek utama psikologi dan politik ada yang sama yakni tentang manusia dan organisasi, yang berbeda adalah cara pandangnya. Psikologi dengan cara pandang aspek kejiwaan sedangkan politik dari sudut pandang aspek kekuasaan. Sudut pandang psikologi politik adalah aspek “jiwa yang berkuasa” yang meliputi kesehatan jiwa yang berkuasa (perilaku penguasanya) dan kesehatan jiwa (perilaku) organisasinya.

3. Saling menghasut di media online :

Pada media online seperti dimedia social facebooke, tweeter, webblog, website dan di youtube banyak sekali kampanye bersifat negative daripada yang bersifat pujian. Ini menggambarkan bahwa ketika sang penulis menyampaikan pendapatnya tanpa diketahui identitas aslinya ia akan menggunakan dengan semaunya. Mereka merasa tidak ada yang mengawasi sehingga bebas mengaktualisasikan persepsi dan pikirannya sendiri. Kepribadian seperti ini jika dibiarkan maka akan membentuk sebuah kebiasaan yang buruk dan bisa merusak diri sendiri serta pihak lain. Dan jika dibiarkan terus terjadi, maka tanpa sadar akan menciptakan pribadi-pribadi yang tidak bertanggungjawab. Mereka merasa bahwa untuk mendapatkan kekuasaan atau untuk memenangkan persaingan boleh menggunakan segala cara. Jika mereka menang maka akan memimpin dengan cara arogan. Dan jika pelakunya adalah para pendukungnya maka mereka akan anarkis jika capresnya kalah. Interaksi social harus didorong kearah yang lebih positif bukan yang negatif sebagaimana pendapat “Interaksi social merupakan hubungan-hubungan social yang dinamis menyangkut hubungan antara orang-orang perorang, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorang dengan kelompok manusia. Mereka saling menegur, berjabat tangan, saling berbicara bahkan mugkin saling berkelahi” (Sumber: Prof. Dr. Soerjono Soekanto, “Sosiologi Suatu Pengantar”, Penerbit Rajawali Pers, Jakarta, Cetakan keempatbelas, September 1991, hal 67).

4. Berebut dekat pada pondok pesantren :

Beda di online beda pula di offline. Di online kampanye berjalan sangat tidak sopan dan mengumbar fitnah, sedangkan di dunia nyata (offline) relative lebih santun. Bahkan antar kedua kandidat tetap bisa saling memuji. Mereka rajin menemui para kiayi besar yang memiliki kantung suara yang juga besar. Ada kecenderung kedekatan para capres kepada para kiayi lebih pada aspek motivasi mendulang suara daripada menimba ilmu akhirat. Keadaan ini sebenarnya masih bisa diperbaiki walau memerlukan waktu yang lama, yakni menyadarkan para pemilih pemula sejak dini. Para capres merasa wajar mendekati para kiayi dan santrinya, karena mereka dituntut setor suara. Suara terbanyak dalam pilpres menentukan siapa pemenangnya. Indonesia adalah Negara hukum yang warga negaranya adalah mayoritas beragama Islam, suara Islam adalah suara mayoritas, maka wajar menjadi prioritas perebutan dalam mendulang suara.

5. Debat capres secara langsung di TV :

Media elektronik yang digunakan dengan relative santun adalah media televisi. Iklannya sopan dan debat capresnya juga sangat mendidik. Mereka para capres saling beradu argument dengan ketrampilannya masing-masing, dan para pemirsa bebas menentukan pilihannya. Ada yang tertarik karena ketegasannya, ada yang karena kelugasannya. Ada yang tertarik karena kecerdasannya dan ada yang tertarik kare tutur bahasanya. Semua ada plus minusnya, tetapi tidak ada kampanye hitam dalam media ini.

6. Saling merasa benar hingga ke meja hijau melalui MK :

Setelah pemilihan berjalan, dan penghitungan suara tiba, maka muncullah saling klaim siapa pemenangnya. Kaidah konstitusi tidak lagi dihiraukan. Punya hak atau tidak punya hak dalam mengumumkan siapa pemenangnya mereka saling adu klaim sendiri-sendiri. Masing-masing tim sukses mengumumkan menjadi pemenangnya melalui lembaga hitung quick count di televisi. Masing-masing pihak menggunakan jasa hitung cepat sendiri-sendiri. Membayar sendiri-sendiri. Sungguh untuk urusan ini pilpres di Indonesia telah masuk pada pasar demokrasi bebas tanpa kendali. Dampaknya saat pengumuman calon pemenangnya oleh lembaga resmi (KPU) pun diprotes dan diajukan di meja hijau. Sidang berjalan dengan menghadirkan banyak saksi dari masing-masing pihak dari sebagian besar pemilih di Indonesia. Tentu menelan biaya besar dan waktu yang lama.

7. Saling membentuk partai Koalisi :

Setelah pelantikan presiden terpilih pada tanggal 20 Oktober 2014, konflik antara pihak yang kalah dengan pihak yang menang saat pilpres, masih berkelanjutan di DPR-RI. Pihak yang menang pilpres diwakili oleh partai pengusung capres pemenangnya yaitu partai PDIP yang dipimpin oleh Megawati, Nasdem dipimpin oleh Sura Paloh, PKB dipimpin oleh Muhaimin Iskandar, Hanura di pimpin oleh Wiranto, dan PKPI dipimpin oleh Sutiyoso. Kemudian mereka pemenang pilpres menamakan diri sebagai Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Sedangkan pihak yang kalah pilpres menamakan diri sebagai Koalisi Merah Putih (KMP) yang terdiri dari partai Gerindra yang dipimpin oleh Prabowo Subiyanto sebagai ketua umum gerindra sekaligus capres yang kalah, Golkar yang dipimpin oleh Aburizal Bakri, PAN yang dipimpin oleh Hatta Rajasa yang juga sebagai cawapres yang gagal, PPP yang dipimpin oleh Surya Darma Ali, PKS yang dipimpin oleh Anis Matta. Ada satu partai yang memilih di luar koalisi yaitu Demokrat. Demokrat bisa disebut partai cerdas karena pandai mengambil peluang, kesempatan dan posisi, ketika “lawan” politiknya sedang berseteru secara seimbang, atau mencla-mencle ke sana ke sini. Namun jika Demokrat bersedia memilih secara tegas diantara dua koalisi yang ada, maka perseteruan antara KIH dan KMP akan lebih cepat selesai, lantas pertanyaannya Demokrat akan dapat apa? Dan siapa yang akan memberinya?. Berpolitik yang santun dan benar memang harus melibatkan rasa-jiwa dan logika, namun jangan sampai mengabaikan kepentingan bangsa dan Negara.

8. Analisa Psikologi :

Diawali dengan adanya demokrasi terbuka atau demokrasi yang bebas serta adanya media online yang setiap orang leluasa mengakses, kegaduhan ditingkat isu hitam (black campaign) selalu terjadi. Ketidak-nyamanan dan saling mengancam menjadi kegetiran dari aspek kejiwaan, dan aspek etika tidak lagi diindahkan. Kekuatan kedua kubu koalisi nyaris seimbang, hanya selisih 3% dari angka 50% sebagai angka yang seimbang, (KIH menang pilpres 53%, lebih 3% dari 50%, dan KMP kalah pilpres 47%, kurang 3 % dari 50%; selisih totalnya adalah 6% suara). Dalam teori manajemen konflik jika kekuatan para pihak yang berselisih seimbang, maka konflik akan semakin lama selesainya dan semakin berlaurt-larut. Dari aspek psikologis keadaan seperti itu akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi penguasa untuk bekerja dalam rangka merealisasikan janji kampanyenya. Dampaknya yang menjadi korban ikutannya adalah kesejahteraan rakyat yang terabaikan. Mereka elit politik saling menyandera dan lalai memikirkan kesejahteraan rakyatnya, mereka tetap gajian dan rakyatnya menjadi penonton pertengkaran, suatu kondisi yang sangat ironis dan miris.

9. Analisa Politik :

Azas hukum (peraturan perundangan) tidak digunakan dengan konsisten, moral para politikus masih terus perlu diperbaiki, korupsi terjadi dihampir semua partai politik. Sanksi hukum tidak membuat takut para pelanggarnya karena tidak berat akibatnya, UU parpol dan UU hukum saling bertabrakan dan multitafsir, menjadi sumber ketidakjelasan dalam penyelesaian permasalahan. Atau karena manusia memang tidak pernah bisa membuat sesuatu yang abadi sebagaimana tidak abadinya konstitusi buatan manusia yang disampaikan oleh Jean Jacques Rousseau dalam buku politiknya Kontrak Sosial, “Negara hukum akan mati sebagaimana matinya tubuh manusia. Pada kenyataannya manusia tidak mampu membuat sesuatu yang abadi. Yang bisa dilakukan manusia adalah hanya berusaha membuat organisasi (tubuh) untuk semakin lebih lama bertahan hidup”. (Sumber : Jean Jacques Rousseau, “Kontrak Sosial terjemah The Social Contract”, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1986, hal 77).

10. Kesimpulan :

  1. Kesempatan untuk berkarir di dunia politik sangat terbuka lebar bagi siapa saja, karena dibolehkan dari latar belakang ilmu apa saja, fakultas apa saja, bahkan tamat SMA pun bisa. Lowongannya juga sangat besar jumlahnya, ada di dewan sebagai wakil rakyat tingkat kabupaten, tingkat kota, tingkat provinsi dan tingkat nasional. Maka kajian ilmu psikologi politik menjadi suatu prosfek yang menarik sekaligus menantang untuk digeluti bagi para sarjana lulusan bidang ilmu psikologi dan bidang ilmu politik.
  2. Motif dibentuknya Negara adalah untuk menciptakan kebersamaan dan kesejahteraan; keamanan dan kedamain; bukan tontonan pertengkaran dan korupsi besar-besaran; bukan pula diplomasi kepalsuan dan peperangan yang menelan banyak korban nyawa manusia.
  3. Pendidikan politik melalui interaksi sosial dan program yang terencana, serta penjiwaan berpolitik sebagai suatu kesadaran diri melalui “cabang ilmu baru” – psikologi politik – merupakan variasi upaya, agar lebih optimal, agar tercipta politik kekuasaan yang santun dan berkeadilan, transparan dan penuh rasa tanggungjawab secara moral, material dan nilai-nilai transcendental.
  4. Negara banyak didirikan oleh mereka yang berpikir dan bertindak secara sekuler, sebagaimana pendapat Niccolo Machiavelli yang banyak diikuti. Satu sisi agama dianggap memegang peranan penting dalam mempersatukan Negara, namun disisi lain agama harus tunduk pada Negara: “Oleh karena itu dalam mempertahankan kekuasaan Negara, agama harus tunduk pada Negara. Agama menurut kesaksian sejarah memainkan peranan penting dalam mempersatukan suatu Negara” (Sumber: Niccolo Machiavelli, “Sang Penguasa Surat Seorang Negarawan Kepada Pemimpin Republik terjemah Il Principe”, Penerbit Gramedia, Jakarta, 1987, hal xxxvii). Masih menurut buku tersebut bahwa “Lembaga-lembaga agama hanyalah sarana-sarana atau alat-alat yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga tata tertib yang berlaku”. Machiavelli bukan seorang atheis namun pemikirannya betul-betul bercorak sekuler.

Referensi :

  1. Prof. Dr. Bimo Walgito, “Pengantar Psikologi Umum”, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2004.
  2. Prof. Dr. Miriam Budiardjo, “Dasar-Dasar Ilmu Politik”, Penerbit Gramedia, Jakarta, Edisi Revisi, Cetakan keempat, Oktober 2010.
  3. Prof. Dr. Soerjono Soekanto, “Sosiologi Suatu Pengantar”, Penerbit Rajawali Pers, Jakarta, Cetakan keempatbelas, September 1991.
  4. Jean Jacques Rousseau, “Kontrak Sosial terjemah The Social Contract”, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1986.
  5. Niccolo Machiavelli, “Sang Penguasa Surat Seorang Negarawan Kepada Pemimpin Republik terjemah Il Principe”, Penerbit Gramedia, Jakarta, 1987
  6. http://www.academia.edu/5603392/Psikologi_Politik_FINAL
  7. http://arti-definisi-pengertian.info/arti-psikologi-politik/

……………………………………………………………

Supported by : http://www.dmiindonesia.com

……………………………………………………………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: