Kiat Belajar Efektif

Pengantar:

Setiap menjelang ujian nasional atau masuk pendaftaran ke perguruan tinggi, banyak orang terlibat dalam mempersiapkan atau memperbincangkan kondisi dan situasi tentang kesiapan putra-putrinya atau para siswa di suatu sekolah. Perbincangan tersebut dilakukan oleh para orangtua siswa atau wali murid, oleh para pendidik atau para pengamat dunia pendidikan.

Evaluasi diri dan Peta diri:

Sebelum menyarankan atau menggunakan suatu saran dari pihak manapun ada baiknya setiap guru atau orangtua murid bahkan murid atau siswanya itu sendiri wajib mengetahui dimana peta kemampuan akademisnya di dalam suatu kelas. Gambaran fakta tentang peta dirinya di dalam kelasnya merupakan realitas yang nyata yang perlu di eavaluasi kemudian diberikan alternative solusi sesuai dengan posisi peta dirinya, inilah yang disebut diagnose kemampuan akademik atau evaluasi diri kinerja akademisnya selama ini.

Seseorang yang sakit mata tentu obatnya bukan obat untuk penyakit kulit. Orang yang sakit kulit yang tidak parah tentu dosisnya juga berbeda jika dibandingkan dengan seseorang yang sedang sama-sama sakit kulit namun kondisinya sudah terlalu parah. Demikian pula posisi seorang siswa di dalam kelasnya. Jika posisi di dalam kelas saja ia tidak mau peduli, bagaimana mungkin bisa berkompetisi dengan baik di dalam ruang kelas yang maha luas dan besar diantara banyak sekolah, banyak kota dan banyak propinsi se-Indonesia?

Untuk memetakan kemampuan akademis di sebuah kelas, cukup dibedakan menjadi tiga level kemampuan akademisnya, antara lain: (a) 10 Papan ATAS yakni rangking 1-10; (b) 10 Papan TENGAH yakni rangking 11-20; (c) 10 Papan BAWAH yakni rangking 21-30.  Dimana posisi saya? Dimana posisi anak saya? Dimana posisi siswa saya? Ketika rangkingnya berbeda maka alternative solusinya juga berbeda.

Jika posisi kita di dalam satu kelas saja sudah kedodoran, bagaimana mungkin akan berkompetisi diantara banyak kelas atau banyak sekolahan?

Bagi yang posisinya masuk papan atas, masih ada tahap evaluasi berikutnya dengan membandingkan kualitas atau rangking antara sekolah, dilevel berapa rangking sekolahan kita? Kemudian berapa besar nilai Ujian Nasional kita?

Jika dengan cara tersebut masih membingungkan maka kita bisa menggunakan nilai Ujian Nasional saja. Ini akan efektif digunakan jika nilai ujian nasional berbanding lurus dengan nilai rata-rata raport selama sekolah. Jika nilai ujian nasional dan nilai rata-rata raport tidak konsisten, maka nilai ujian nasional bisa disebut nilai “kebetulan” saja, maka tidak layak digunakan sebagai acuan.

Faktor penghambat:

Bagi siswa yang akan masuk ke perguruan tinggi, maka ketika naik kekelas 12 sudah mulai focus belajar hanya dan hanya untuk persiapan masuk ke perguruan tinggi saja. Untuk siswa yang rangkingnya masuk pada level rangking tengah atau bawah maka baginya wajib focus dan wajib meninggalkan semua hal yang tidak ada hubungannya dengan sukses ujian nasional atau sukses masuk ke perguruan tinggi. Bank soal ujian nasional dan bank soal masuk ke perguruan tinggi wajib dikoleksi dan dipelajari. Sedangkan beberapa kegiatan yang wajib ditinggalkan selama satu tahun adalah ikut kompetisi atau bermain olahraga, ikut kompetisi atau bermain kesenian, dan lain-lain, kecuali bagi mereka yang ingin hidup dan berprofesi dibindang olahraga atau dibidang kesenian.

Selama kelas 6, kelas 9 dan kelas 12, bagi yang rangkingnya jelas-jelas rendah (papan tengah atau papan bawah) tinggalkan handphone, tinggalkan smartphone, tinggalkan internet-kecuali untuk mencari informasi tentang jadwal ujian nasional atau jadwal pendaftaran ujian masuk ke perguruan tinggi yang diminati.

Faktor pendukung:

Bagi siswa pada level tengah dan bawah bergaullah dengan siswa yang pandai-pandai yang ada pada level atas. Koleksilah dan pelajarilah dari sebanyak-banyaknya bank soal ujian nasional dan bank soal ujian masuk ke perguruan tinggi. Sering-seringlah ikut try-out yang diselenggarakan oleh sekolah maupun oleh lembaga bimbingan belajar agar tidak menjadi jago kandang saja, apalagi sudah bukan jago merasa jagoan, ini sangat berbahaya menuai kegagalan. Untuk siswa yang berada pada level atas tidak ikut bimbel tidak masalah, namun tetap ikut try-out dan tetap rajin belajar dan tidak sombong, sedangkan bagi siswa yang berada pada level tengah dan level bawah maka baginya wajib ikut bimbel yang professional.

Upaya mengetahui Bakat dan Minat:

Setelah kemampuan akademis diketahui dan diupayakan untuk terus ditingkatkan, maka tugas berikutnya adalah mengetahui bakat dan minatnya. Banyak orang pintar kesasar masuk ke suatu jurusan atau fakultas, hingga ia mudah bosan, mudah jenuh dan tidak bergairah dalam menuntaskan sekolahnya atau kuliahnya. Maka banyak biaya dan waktu terbuang begitu saja. Bagaimana dengan siswa yang sudah tidak pintar masih kesasar pula? Inilah pentingnya bagi semua siswa untuk mengetahui bakat dan minatnya.

Ada tiga cara ilmu pengetahuan untuk mengetahui bakat seseorang. Pertama dengan cara Eksplorasi, yakni serba coba-coba, learning by doing, dan experiences. Kedua dengan cara Observasi, menggunakan alat ukur psikotest. Ketiga dengan cara Deteksi, yakni dengan deteksi bakat sidikjari DMI.

Mohon maaf jika tidak berkenan, semoga bermanfaat dan salam sukses selalu ..Aamiin YRA.

Terimakasih.

Yogyakarta, Sabtu, 16 Juli 2016

Teguh Sunaryo

SMS: 085 643 383838 ; WA: 088 8686 6464

Artikel lainnya ada di : www.dmiindonesia.com dan di : www.dmiprimagamapusat.wordpress.com  .

…………………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: